===÷÷===
WARNING!
Luangkan waktu untuk membaca part ini karena lumayan panjang.
Terima kasih sudah sabar menunggu.
Hope y'll enjoy it 😊
==÷==
“ketika kau disampingku
berdebar rasa dihatiku
Diriku tersipu malu karna dirimu.”
💍💍💍
“Kenapa sih cemberut gitu?” Zara menatap Angga masih dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Angga yang melihat hal itu semakin mengerutkan keningnya. Ia lantas mendatangi istrinya yang sudah duduk di kursi rotan yang ada di depan villa mereka. Zara nampak semakin bersinar pagi ini, kulit putihnya semakin terlihat jelas saat ia mengenakan dress dengan motif bunga-bunga kecil yang sangat pas ditubuh mungilnya.
Melihat tangan Zara yang tengah memegang handphone, dugaan Angga semakin kuat. Tanpa perlu persetujuan, tangannya langsung merebut handphone Zara.
“Masa kita dibilang lagi berantem?” Angga menaikkan satu alisnya, “Itu loh! Seharian kemarin kan aku nggak ada update apa-apa. Ya wajar kan kalau kita lebih quality time berdua? Kenapa sih orang-orang, mikirnya aneh-aneh gitu. Aku kan jadi bete.”
Sembari mendengarkan istrinya mengoceh, Angga membaca beberapa pesan masuk di DM instagram Zara, bahkan sampai di postingan terakhir Zara pun dipenuhi pertanyaan aneh dengan beberapa asumsi yang mengatakan kalau mereka berdua sedang tidak baik-baik saja. jangan tanya bagaimana berkerutnya wajah Angga saat membacanya. Berantem di mananya? Yang ada mereka lebih lebih melakukan keintiman dari sebelumnya. Memangnya, kalau tidak ada update, hal itu bertanda kalau hubungan mereka tidak baik?
Zara masih terus saja menggerutu sebal. Angga yang melihatnya pun tersenyum geli, lantas ia menyalakan handphonenya. “Selamat pagi semua! Harinya cerah nih, secerah wajah cantik istriku.” Layar handphonepun terarah pada Zara yang membulatkan matanya, dan semakin membulat saat Angga mengecup pipinya, namun berhasil membuat pipi Zara bersemu.
“Angga ih!” seru Zara saat kamera handphone suaminya itu telah mati dan Angga sibuk memposting di instastorynya.
Angga tersenyum tipis, “Biar nggak ada yang tanya aneh-aneh lagi. Nikmati hari-hari kita, Ra.” Ucapnya sembari menyimpan handphone miliknya dan Zara.
Mendengar penuturan Angga barusan membuat Zara kembali tersenyum, ia berfikir ulang, tak seharusnya moodnya pagi ini hancur berantakan hanya karena sekelibat jari-jari orang yang bahkan ia kenal juga tidak.
“Maaf ya,” Zara mengamit tangan Angga untuk digenggamnya, lalu diciumnya. “Maaf pagi-pagi udah ngomel nggak jelas.”
Angga mengangguk dengan senyum rekahnya, “Yang penting kamu senyum lagi,” ucapnya sembari merapikan anakan rambut yang menerpa wajah indah kesukaannya itu.
Jam menunjukkan pukul 9 kurang 10 menit. Sembari menunggu pak Imam yang akan menjemput mereka, kali ini Angga bersuka rela memotret Zara supaya mood istrinya tidak buruk hari ini. Sebab sebelumnya ia merengek lagi untuk minta dipotret, sebagai kenang-kenangan katanya.
“Ayo kita selfie dong!” rajuk Zara yang melihat Angga menggeleng pelan, “Kamu mah gitu!”
Nah kan, ini sih sebentar lagi. “Eh ayo sini sayang, aku yang megangin handphonenya sini,” bujuk Angga sambil mengambil alih handphone Zara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Term Marriage
ChickLitAngga dan Zara mengambil keputusan besar, di mana mereka sebenarnya tidak menghendaki hal tersebut. Mereka nyaman dengan satu sama lain, bukan dalam sebuah ikatan. Mereka mengakui hanya sebatas sahabat. Tidak ingin lebih dari itu. Prinsip mereka, ka...
