IX

250 48 7
                                    

Jantungku berdebar mengetuk rongga dada ketika bangun keesokan harinya. Bergegas bangkit dari futon dan menyambar handuk, lantas berlari-lari kecil menuju kamar mandi. Berpapasan dengan Paman Kwon yang mengernyit bingung tapi aku hanya menyapanya dengan cengiran sebelum menutup pintu kamar mandiㅡmengguyur tubuh sekaligus dengan air dingin yang membuat mataku segera terbuka. Berharap semua perasaan yang bercampur aduk di dalam dada bisa sedikit teredam namun tetap saja; perasaan gugup, khawatir, takut, dan antusias berputar-putar di dalam dada seolah mengolok.

Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk mandiㅡsegera mengganti pakaian dengan celana training dan kaos yang ditumpuk jaket merah muda kebanggaanku. Menyantap sarapan dengan cepat. Melempar cengiran pada Youngjae yang melangkah gontai bergabung di meja makan dengan malas-malasanㅡPaman Kwon membangunkannya dengan paksa tadi.

"Ikut Paman berkebun, ya? Paman ingin tahu bagaimana rasanya berkebun bersama anak laki-laki." begitu kata Paman Kwon tadi, yang tentu saja tidak bisa ditolak oleh Youngjae karena rasanya akan sangat tidak sopan. Dan tentu saja itu akan menjadi keuntungan buatku karena tidak harus merengek pada Youngjae agar diizinkan keluar!

"Ayo buka matamu, Youngjae! Yena bahkan sudah mandi sejak tadi, lho!" Paman Kwon menepuk bahu Youngjae keras dan terbahak melihatnya berjengit kaget. Aku kembali nyengir, melahap suapan terakhir sarapanku sebelum meneguk minuman dan membawa mangkuk ke bak cuci. 

Setelah mengambil tas ransel yang diisi botol minum dan ponsel (aku tidak benar-benar menggunakannya sih, apalagi di dalam hutan tidak ada sinyal, tetapi rasanya tetap penting membawa benda itu), aku mengenakan sepatu. Lantas berlari melintasi halaman untuk menemui Bibi Kwon di dapur meminta izin. Melambaikan tangan pada Yujin yang tampak sibuk dengan gelang-gelangnya di teras.

"Bibi, aku izin keluar dulu, ya. Mungkin akan pulang agak telat." kataku dari ambang pintu dapur. Hampir saja berbalik pergi saat namaku diserukan.

"Sebentar, Yena." itu suara Kak Eunbi, yang membuatku segera memutar tungkai dan menatapnya menyodorkan sebuah kotak makan. "Bawa ini. Jangan sampai rasa lapar merusak petualanganmu seperti kemarin."

"Wah!" aku berseru senang ketika membuka kotak bekal dan menemukan kimbab di dalamnya. Melempar senyum lebar pada Kak Eunbi dan Bibi Kwon yang terkekeh geli. "Terima kasih banyak! Pasti akan kuhabiskan segera!"

Menjejalkan kotak bekal ke dalam ransel yang penuh sesak, aku melambaikan tangan dan berlari-lari kecil keluar dari pagar batu. Debaran jantungku kembali menggila ketika melangkah menyusuri jalan setapak. Memikirkan latihan macam apa yang akan kudapati nanti; apakah seperti latihan yang biasa kulakukan saat jam pelajaran olahraga atau lebih sulit lagi, mengingat Jaebum adalah siluman burung yang menyebalkan dan terlihat tidak akan segan menyuruhku berlari mengelilingi Hutan Terlarang.

Aku melewati jembatan batang pohon tanpa susah payahㅡsepertinya semakin hari kemampuanku melewati jembatan itu semakin membaik. Lantas melintasi padang rumput yang cerah dengan cahaya matahari menyilaukan. Langkahku agak terburu ketika memasuki Hutan Terlarangㅡkarena berapa kali pun melintasinya, tetap saja aku belum terbiasa dengan hawa dingin dan suasana mencekam dari kegelapan hutan ini. Kenapa Jaebum tidak menyulapnya saja menjadi hutan yang lebih menyenangkan, sih? Atau paling tidak, membuatnya sedikit lebih cerah dan hangat. Jaebum bisa melakukannya, kan?

"Selamat pagi, Nona Yena." sapaan itu terdengar ketika aku melangkahkan kaki memasuki tengah hutan dengan rumput berkilauan dan diam-diam menghela napas lega. Melempar senyum pada Wang Ka-yee si manusia beruang yang berdiri dengan tangan terlipat sopan di depan perut sembari membungkukkan badan, seolah telah menanti kedatanganku.

"Selamat pagi juga!" aku membalas sapaannya riang, membiarkan pria itu menyejajari langkahku. "Bagaimana kabarmu hari ini, Wang Ka-yee?" aku mengedarkan pandangan berusaha mencari sosok Jaebumㅡmelambai pada Tuan Yi-en si burung merah yang bertengger pada salah satu dahan pohon di atas sana.

Forbidden Forest (JB x Yena)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang