Haiii, apa kabar? Maaf baru up rek😁
Semangat vote dan komennya, supaya aku juga semangat lanjutin cerita ini. 100 vote dan 100 komen aku langsung up chapter berikutnya.
Happy reading.
***
Seringkali Tiara meragu. Keraguan datang saat Tiara memikirkan apakah Dul memang ditakdirkan untuknya atau bukan. Tiara sering dilanda oleh rasa bingung. Sikap Dul bagi Tiara seperti rollercoaster, Dul yang tiba tiba bisa menjadikan Tiara perempuan paling bahagia, namun sedetik kemudian Dul menusuk hati Tiara terlalu dalam. Teman temannya sudah sering menasehatinya ketika Tiara sudah menceritakan sikap asli Dul yang sebenarnya, jelas saja kekaguman Ziva dan Keisya hilang begitu saja. Satu pertanyaan dalam benak Tiara yang belum bisa dia pecahkan, haruskan dia bertahan pada seseorang yang sudah berkali kali menyakiti hatinya, sekalipun dia teramat mencintai orang itu?
Lamunan Tiara buyar saat seseorang menempelkan minuman dingin yang membuat pipi nya dingin.
"Ngelamunin apa sih?" Sam duduk di sebelah Tiara. Tiara tersentak, darimana laki laki ini tau dia ada di tempat ini. Oh, Tiara harus mengerti kalau ini memang tempat umum, dan siapa saja bisa datang ke tempat ini.
"Tempat ini tuh salah satu tempat favorit gue buat nenangin diri" Ucap Sam. Tiara masih diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Lo tunggu agak sorean deh, pas waktu senja. Di jamin nagih sih. Ini tempat yang menurut gue strategis buat menikmati senja" Ucap Sam menatap langit luas.
Mereka berada di salah satu lahan luas, sebuah tempat yang dulu dijadikan taman. Tidak begitu banyak pohon, itu membuat siapa saja bisa menatap langit dengan leluasa tanpa terhalangi pohon. Ada banyak burung dara bertebangan di tempat ini, juga ada sebuah airmancur yang sudah tidak terurus, tapi masih sedikit menyipratkan air.
Kedua nya sama sama diam, hanya terdengar hembusan angin dan suara percikan air dari airmancur.
"Lo percaya kalo orang bisa bodoh karna cinta?" Kata Tiara masih dengan tatapan kosongnya. Sam menatap gadis itu, rambutnya di biarkan diterpa angin. Mungkin benar, angin yang menerpa rambut seorang perempuan bisa menambah kesan cantik pada paras seorang perempuan, dan Sam bisa membuktikan itu sekarang.
"Gue percaya" Kali ini Tiara menatap Sam sekilas, laki laki itu sedang menatapnya lekat.
"Apa yang lo tau tentang seseorang bisa bodoh karena cinta?" ucap Tiara lagi, dia sudah memalingkan wajahnya, kembali menatap langit luas.
"Simpel. Seseorang yang bodoh karena cinta itu ketika seseorang itu sudah mulai lupa untuk mencintai dirinya sendiri" Tiara kembali menatap Sam.
"Maksudnya?"
Sam tersenyum tipis, dia membaringkan tubuhnya melipat kedua tangannya menjadikan bantal.
"Ketika seseorang sudah mulai bodoh karena cinta itu, ketika sudah melupakan kewajibannya untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Contohnya lo, lo udah lupa untuk mencintai dan membahagiakan diri lo sendiri" Tiara mengerutkan keningnya. Kenapa harus dia yang di jadikan contoh?
"Kok gue?"
Sam tertawa, dia menepuk tempat sebelahnya, mengisyaratkan kepada Tiara untuk ikut berbaring sepertinya. Dan tentu saja, seperti tersihir, Tiara mengikuti laki laki itu. Dia berbaring di sebelah Sam, dengan jarak mereka yang cukup dekat.
"Lo membiarkan hati lo tersakiti berkali kali oleh perlakuan cowok lo. Itu sama saja artinya kalo lo udah lupa buat mencintai diri lo sendiri. Definisi mencintai kan adalah membahagiakan. Lo di sakiti gak mungkin dong lo bahagia?" Tiara terdiam. Dirinya seperti tertembak oleh perkataan Sam, bahkan dia tak bisa membalas ucapan Sam.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Crazy Little Thing Called Love (COMPLETED)
Teen Fiction"Jadi kenapa gue harus selalu tersenyum?" "Karena senyum itu adalah obat dari segala penyakit. Dan gue berjanji, untuk tidak akan pernah membiarkan senyum lo itu lepas dari bibir lo" --- Ini tentang Samuel, si cowok urakan yang tidak pernah absen da...
