Perjalananku di cerita ini masih panjang ternyata, huft. Terimakasih buat yang sudah meramaikan komen di chapter sebelumnya, darisitu aku tau seberapa excited kalian nungguin critaku🤗 Doakan moodku selalu bagus, dan aku gak janji bisa langsung up ketika komen udah mencapai target. Karena aku sudah mulai kuliah, huhu. 250 komen yaaa seperti biasa. Btw, aku bikin target komen bukan karna aku ngemis komen atau apa, aku hanya ingin kalian bisa mengapresiasi karya apapun yang orang lain keluarkan. Karena ketika seseorang mendapat apresiasi yang baik, itu akan membuat orang tersebut merasa sangat bahagia. Aku nulis ini selain untuk diri aku sendiri, ini juga untuk kalian, tanpa kalian, aku gak akan bisa sejauh ini. Semoga kalian mengerti:) Yuk, bisa dikomen setiap kalimatnya.
Happy Reading...
-
Hari-hari terus berganti, waktu pun terus berjalan. Semua perkembangan mulai berkembang, beberapa perubahan mulai terlihat, tapi tidak dengan hubungan Samuel dan Tiara. Keduanya masih sama-sama berjarak, ada jarak transparan yang menghalangi keduanya. Jarak yang mereka sendiri tidak tau itu apa. Setiap malam, di tempat yang berbeda, menatap langit yang sama, mereka saling memikirkan, mereka saling mendoakan. Ketika bertemu pun, kedua manusia itu sama-sama enggan menyapa, jangankan menyapa, bertanya kabarpun tidak ada yang mau memulai. Sungguh, ego manusia memang susah di kalahkan.
"Capek gue liat lo tiap hari gelisah mulu, makanya Ti, kalo emang udah cinta, gausah gengsi kenapa sih. Ribet sendiri kan lo jadinya" Ziva memelankan suaranya, pasalnya sudah sejak satu jam yang lalu, sejak jam pelajaran pertama dimulai, Tiara tidak bisa diam di bangku nya. Ia terlihat gusar, tangannya sibuk mencoret sesuatu yang tidak jelas di halaman belakang buku tulis nya, persis seperti kegiatan yang di lakukan oleh setiap siswa yang merasa bosan di kelas saat jam pelajaran. Pikirannya pun tidak konsen.
"Lo ngomong apaan sih?" Balas Tiara dengan nada malas.
"Tau ah, Ti. Capek ngomong sama lo"
"Gue bingung Ziv, gue-"
"Tiara, Ziva, kalo kalian mau ngobrol, lebih baik di luar saja. Jangan menganggu jam pelajaran saya" Pak Anang, salah satu guru killer di SMA Nusa menegur keduanya.
"Iya pak iya, marah-marah mulu pak" balas Ziva malas.
***
"Temen lo tuh Kei, capek gue ngasi tau nya" adu Ziva kepada Keisya. Ketiganya sedang berada di kantin, menunggu pesanan mereka.
"Kenapa lagi? Masih masalah yang sama?" Tanya Keisya. Ziva mengangguk, "yaudah lah Ti, lo mau nya gimana? Jangan dibikin tersiksa sendiri kenapa. Kalo lo emang mau yaudah terima aja, kalo enggak yaudah gak usah dipikirin. Gitu aja kok repot"
"Lo ngomong enak, Kei" balas Tiara dengan nada malas.
"Ya lagian lo gitu aja dibuat pusing. Kalo lo emang suka, ya terima. Kalo enggak, ya tolak. Sesimpel itu"
"Gak semua masalah yang lo anggap ringan itu juga ringan buat orang lain. Tuhan ciptain hati setiap manusia itu beda-beda" Tiara mempertegas ucapannya, lantas meninggalkan kedua sahabatnya. Ziva dan Keisya saling pandang, "anjir, baperan amat" cetus Keisya.
"Lo juga, Kei. Kenapa sih kalo ngomong gak pernah dipikir dulu? Lo pikir semua yang keluar dari mulut lo bakal bisa diterima orang lain? Gak semua yang ada di pikiran lo itu benar di mata orang lain. Dan satu lagi, jangan seenaknya menggunakan kata baper buat seseorang. Lo gatau hati mereka kaya apa" ucap Ziva tegas.
"Lo kenapa deh?" Keisya masih berusaha santai.
"Gatau deh, Kei. Capek gue kalo sikap lo kaya gini terus. Yang ada, lo lama-lama jadi toxic buat pertemanan kita" Ziva meninggalkan Keisya begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Crazy Little Thing Called Love (COMPLETED)
Teen Fiction"Jadi kenapa gue harus selalu tersenyum?" "Karena senyum itu adalah obat dari segala penyakit. Dan gue berjanji, untuk tidak akan pernah membiarkan senyum lo itu lepas dari bibir lo" --- Ini tentang Samuel, si cowok urakan yang tidak pernah absen da...
