Guys, astagaaa gak nyangka kalian semangat banget komennya. Jujur, aku seneng bangett bacain komen kalian di chapter sebelumnya. Moodboster banget buat aku guys, komen yang aku ingin kan di setiap aku up ya kaya gitu guys, lebih membuat aku semangat ngetik daripada cuma komen next, lanjut, dkk nya itu:( makasih untuk antusiasnya guys🥺
Kali ini 200 komen yukk, bisa yuk bisaa. Komen kaya chapter sebelumnya yaa. Tapi jangan buru-buru dehh, santai aja😂
Btw, setelah selesai baca chapter ini, aku mau minta pendapat kalian tentang cerita ini. Aku mau tau menurut kalian sejauh ini, cerita ini kaya gimana. Apakah feel nya sudah sampai? Atau ada yang kurang? Bebas berkomentar dehhh.
Oh iya, warning gais! Chapter ini sedikit mengandung bawang, bawang yaaa, bukan buwung puyuh haha. Gatau dehh, sampe gak nanti feel nya ke kalian, soalnya kebetulan pas aku ngetik chapter ini moodku lagi bagus, dan kalo aku ulur ulur waktu buat ngetik yang ada ide nya kabur dari otak ku. Butuh beberapa jam buat aku nurunin moodku biar bisa menyampaikan feelnya dengan baik huhu:"
Happy Reading....
***
"Ti, aku janji bakal buat kamu seneng terus. Kamu janji juga ya buat terus sama aku" Dul menyelipkan sedikit rambut Tiara dibalik kuping gadis itu. Mereka sedang menikmati es degan langganan mereka yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. "Janji" Tiara tersenyum manis, seraya menyendok buah kelapa dari gelasnya.
Janji dua manusia remaja yang belum tau bagaimana rumitnya kehidupan menjadi dewasa. Semuanya berubah seiring bertambah nya usia mereka, semua berubah seiring bergantinya tahun. Dul yang teramat di cintai Tiara sudah hilang, berganti dengan Dul yang tempramen, laki laki dengan segudang kata kata kasar yang kapan saja siap dilontarkan kepadanya. Laki laki dengan tangan enteng yang selalu siap menampar, menjambak, menarik, dan mencakar, Tiara. Memori itu terus berputar, mau bagaimanapun, jika sudah mencintai, manusia menjadi lemah. Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa cinta seseorang. Tiara mulai sering menyalahkan takdir, menyalahkan semesta, menyalahkan atas pertemuannya dengan Dul. Harusnya, masa remaja nya saat ini bisa ia nikmati dengan indah bersama laki laki yang ia cintai dan juga mencintainya. Sayangnya, semua hanya mimpi. Tidak ada pangeran romantis bak cerita dongeng. Hanya ada laki laki bertopeng yang selalu siap kapan saja ia mau melepas topeng dan menampilkan wujud asli yang menyeramkan bagi Tiara.
"Ngelamunin apa sih" Sam menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Tiara. Gadis itu tersentak, lantas melihat sekekeliling. Kantin sudah sepi, bahkan ia tak sadar sudah berapa lama dia berada di kantin. Ia bahkan lupa kalau tidak berpamitan dengan kedua sahabatnya. "Ini jam berapa?" Tanya nya kepada Sam.
"Gausah panik gitu, anak anak kan disuruh kumpul di aula. Lo ngelamunin apa sampe gak kedengeran pengumuman tadi?"
"Hah? Ke aula? Ngapain? Aduh, kalo gue ketauan disini gimana, bisa di hukum ini. Ziva sama Keisya juga kemana"
"Udah, santai aja. Aman kok. Cuma acara sosialisasi aja. Minum nih" Tiara menatap sekilas botol di hadapannya.
"Gak ah" katanya melemas.
"Kenapa? Cerita sini" Tiara beralih menatap Sam. Sorot mata laki laki itu masih sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah. "Jangan sok perhatian sama orang lain kalo diri lo sendiri aja butuh perhatian" Sam terdiam.
"Tau gak sih, Ti. Tiap mama sakit gini, gue gak bisa usir pikiran buruk dari otak gue" Tiara mengelus pundak Sam. "Percaya sama gue, lo bisa ngelewatin ini semua" gadis itu memberikan senyuman tipis, membuat hati Sam menghangat.
"Dari dulu, gue selalu iri sama anak anak lain. Kalo weekend, mereka liburan bareng keluarga. Mereka bisa main ps sama bokapnya. Kalo ada acara sekolah, orang tua mereka pasti datang. Tiap ambil rapot, selalu orang tua mereka yang ambil. Lah gue, cuma mbok Ijah. Karena mama yang fisiknya udah gak kuat, jadi mbok Ijah yang sering ambil rapot gue. Ti, lo harus bersyukur ya, bokap nyokap lo masih lengkap dan baik baik aja. Bahagiain mereka ya" Tiara menatap dalam mata Sam. Laki laki itu merindukan sosok ayah. Mau bagaimanapun, usia remaja seperti mereka memang sedang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, dan mungkin untuk selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Crazy Little Thing Called Love (COMPLETED)
Teen Fiction"Jadi kenapa gue harus selalu tersenyum?" "Karena senyum itu adalah obat dari segala penyakit. Dan gue berjanji, untuk tidak akan pernah membiarkan senyum lo itu lepas dari bibir lo" --- Ini tentang Samuel, si cowok urakan yang tidak pernah absen da...
