Chapter 23 : Pilu.

649 94 45
                                        

Sudah hampir seminggu hubungan Sam dan Tiara tidak kunjung membaik. Di kelas pun, mereka tak saling sapa. Kedua sahabat mereka bingung harus dengan cara apa untuk membuat mereka berbaikan. Hampir seminggu hubungan mereka renggang hanya karena sebuah kesalahpahaman, hampir seminggu Tiara mendiamkan Sam diiringi dengan perasaan gundah, dan hampir seminggu juga Sam hidup seperti tak bernyawa.

Sam kembali menjadi Sam yang dahulu. Seragamnya kembali berantakan, masih pagi pun, sudah tercium aroma rokok dari tubuhnya, dan setiap malam, Sam tidak pernah absen dari club malam. Papa nya sampai kebingungan ada apa dengan anaknya karena setiap di tanya, Sam selalu mengalihkan pembicaraan.

"Minggu depan kita UN nih, makin was was gue" ucap Ola.

"Iya anjir, gue khawatir sama masa depan gue. Gue nyesel pernah bolos pelajaran" lanjut Nuca.

"Basi Nuc, basi. Setiap murid yang mau ujian pasti ngomongnya kaya gitu" balas Ola.

"Heh, diem aja lo" Ola menyenggol lengan Sam.

"Udah lah Sam, bentar lagi UN nih, mending lo fokus dulu ke UN baru nanti lo fokus ke hubungan lo sama doi" lanjut Nuca.

"Gue cabut dulu" Sam meninggalkan kedua temannya begitu saja. Saat ini, mereka sedang berkumpul di rumah Nuca.

"Pening gue ngeliat temen lo" ucap Ola.

Sam melajukan motornya, membelah jalanan ibukota malam hari. Jalanan tak begitu ramai, karena cuaca sedang mendung sejak sore tadi. Sam memberhentikan motornya di pinggir jalan. Dia berhenti di sebuah jembatan, dia ingin lebih lama menikmati angin malam yang membelai tubuhnya menembus hoodie yang dia pakai.

"Sam" ucap seseorang.

"Ngapain kamu disini malem-malem?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Luna.

"Nyari angin aja. Lo ngapain? Malem-malem cewek jalan sendirian"

"Oh itu, aku dari rumah om aku, naik taksi, eh ban taksi nya bocor. Daripada kelamaan nunggu, yaudah aku jalan aja, di depan sana ada pangkalan ojek kan" jelas Luna.

"Malem-malem bahaya cewek naik ojek, gue anter lo balik" ucap Sam.

"Serius? Gapapa gitu? Cewek lo nan-"

"Gausah banyak omong bisa gak sih" sambar Sam.

Disepanjang perjalanan pulang, pikiran Sam hanya tertuju pada Tiara. Dia rindu gadis itu. Harusnya malam minggu dia habiskan waktunya bersama gadis itu. Harusnya Tiara yang dia bonceng saat ini, bukan Luna.

"Makasih ya. Oh iya Sam, aku boleh minta tolong nggak? Temenin aku beli kado buat mama, bentar lagi kan mama ulang tahun" ucap Luna saat Sam sudah memarkirkan motornya di halaman rumahnya.

"Kenapa harus sama gue?" Tanya Sam.

"Ya gapapa, disini temen deket ku cuma kamu. Atau kalau kamu takut sama Tiara, aku yang akan ngomong sama dia, atau kamu bisa aja dia sekalian gapapa" lanjut Luna. Sejujurnya, dia masih sulit melepas Sam, tapi dia tidak mau egois. Bukankah hidup harus terus berjalan?

"Jam berapa?"

"Eh, kamu bisa? Em, jam 10 kamu jemput aku ya. Aku perlu ngomong Tiara gak?"

"Gak usah. Yaudah gue balik dulu. Besok gue jemput" jawab Sam dingin.

Senyum Luna tak bisa lepas menatap kepergian Sam. Tapi dia juga merasa bersalah, karena mau bagaimanapun, Sam sudah punya pacar, dan Luna tidak mau dianggap menjadi perusak hubungan orang.

***

"TITI!!" Seru Ziva melompat ke tempat tidur Tiara. Sejak pertengkarannya dengan Sam, gadis itu menjadi pendiam. Baik Ziva maupun Keisya sama-sama bingung harus bersikap bagaimana.

A Crazy Little Thing Called Love (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang