21. Gugurnya Harapan

1.9K 242 37
                                        

JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA

'Jangan yakin bahagia, jika harapan bukan disandarkan pada Allah semata'

____________

Hari ini adalah usaha terakhir Kang Fikri merayu wanita pilihannya. Harapan dan doa selalu beriringan memberi keyakinan akan kabar baik nantinya. Kesempatan kali ini tak boleh diabaikan. Kang Fikri dengan langkah santai mendekati Fany yang tengah menyapu halaman ndalem. Mata menatap lekat Fany, menyorot gerak-gerik wanita berparas ayu tersebut. Dengan satu kata dan isyarat, pria itu berhasil membuat wanita yang tengah memegang gagang sapu lidi itu berjalan mengikutinya menuju emperan toserba milik pondok yang masih tutup.

"Apakah jawaban untuk saya telah berubah?"

Dalam hati, Fany terus merancau kata maaf. Belum sanggup membalas ucapan Kang Fikri. Membuatnya menunduk dalam.

"Apakah arah hatimu telah pasti pada satu keputusan?" pertanyaan Kang Fikri itu terdengar lirih. Membuat kebungkaman Fany menjadi luruh. Mengangkat wajah lalu  menatap sejenak Kang Fikri sebelum akhirnya kembali menunduk.

Gagang sapu lidi dalam genggaman Fany dilepaskan. Menyandarkan benda itu di dinding toko sebelah kanan tubuhnya. Kalimat Kang Fikri masih menggantung. Belum ada niatan Fany membalas meski waktu cukup lama telah bergulir.

Dengan titik embun mata di  sudutnya, bibir Fany akhirnya bergerak merangkai kata demi kata hingga membentuk kalimat yang mungkin akan terdengar menyakitkan bagi Kang Fikri. "Maaf, aku tidak bisa, Kang."

Bagai daun kering diterpa angin kencang, gugur sudah harapan Kang Fikri, merasa kecewa. Tidaklah benar terlalu berharap pada manusia, harusnya Kang Fikri menggantung harap pada pemilik takdir. Maka tak akan ada kata kecewa.

"Kenapa?"

"Maaf, Kang. Aku tidak bisa menerimamu."

Tanpa penjelasan gamblang, ternyata penantiannya tidak terbayar. Kehendak Allah tetap lain dari harapan dan perkiraan.

"Jika kamu masih mengira saya telah menikahi Fatma, itu tidak benar. Fatma menikah dengan pria pilihannya. Pernikahan beberapa tahun lalu antara saya dan Fatma tidak pernah terjadi," jelas Kang Fikri.

"Maafkan aku, Kang. Aku telah menerima pria pilihan Ayahku." Fany tetap kukuh pada pilihan awalnya.

Dengan berat hati Kang Fikri berjalan meninggalkan Fany sendiri di depan toserba pondok usai memberi ucapan selamat. Jika dulu dia sering mencuri pandang saat berpapasan dengan Fany, mungkin sekarang akan berubah. Mana mungkin dia bisa bertingkah sesuka hati dengan calon istri orang. Yang ada malah mendapat sorotan tajam dari calon Fany.

Selayaknya pria pada umumnya, patah hati juga menimpa Kang Fikri, efeknya juga tak jauh  berbeda. Kang Fikri manusia biasa, hatinya butuh waktu menata kembali setelah usahanya beberapa tahun terakhir berujung sia-sia.

Keputusan kembali ke ndalem yang paling tepat usai dirundung kecewa. Mengedarkan pandangan pada beberapa ruangan ndalem yang tampak sepi hingga titik pandangnya tak sengaja menangkap sosok pria berusia setengah abad dengan wajah teduh duduk tenang di atas sebuah karpet warna cokelat di ruang yang terdapat jajaran lemari dengan barisan kitab yang tersusun rapi di dalamnya. Sontak langkah Kang Fikri berhenti di hadapan pria itu. Berjalan pelan mendekat lalu memposisikan diri  duduk di sampingnya. Entah menyadari kehadiran Kang Fikri atau tidak, pria berusia lanjut itu masih setia pada aktivitas sebelumnya, mengusap dua buah kotak perhiasan dengan debu yang tampak menempel di bagian luarnya.

Tak ada obrolan, dua pria beda generasi itu masih pada aktivitas masing-masing. Kang Fikri dengan mata tak lepas dari tangan pria di sampingnya yang mengusap kotak perhiasan tersebut dengan sebuah kain dan pria itu masih menggerakkan kain dalam genggaman tangan mengusap kontak di depannya . Kang Fikri terperanjat ketika merasakan sentuhan dari pria dengan tangan masih membawa kain menyentuhnya pelan. "Le, Abah mau cerita sama kamu soal perhiasan ini." Membuka dua kotak perhiasan yang masing-masing berisi sebuah cincin. Satu kotak berisi cincin emas dan satunya lagi berisi cincin perak. Usai Kang Fikri melihatnya, tak lama kotak itu ditutup  kembali.

"Silahkan, Abah."

Pria yang dipanggil Abah itu tersenyum usai mendengarkan jawaban Kang Fikri. Menyodorkan kedua kotak perhiasan yang telah ditutup itu pada Kang Fikri untuk menerimanya. Sontak Kang Fikri bingung, maksud bercerita atau meminta membawanya.

"Buka, Le. Abah mau lihat lagi." Tanpa bertanya, Kang Fikri mengikuti perintah.

Kang Fikri menatap wajah pria di sampingnya, bersiap menyimak apa yang akan diucapkan.

"Dua perhiasan itu sama-sama cantik, sama-sama bernilai bagi manusia. Kelihaian para pengrajin perhiasan yang berhasil menjadi perantara keindahan dari dua benda berharga itu. Saking indahnya, tak jarang manusia melakukan segala cara untuk mendapatkan, entah dengan jalan  baik atau buruk." Tangan pria itu meraih kotak cicin emas dilanjut meraih kotak cicin perak di sebelahnya, meletakkan dua benda itu di karpet dalam posisi kedua kotak terbuka. 

"Benda ini yang harusnya indah menjadi petaka karena tidak benar cara  memperolehnya. Kerap orang masuk bui karena tertangkap mencuri perhiasan dengan tujuan mendapatkan uang yang banyak untuk memperkaya diri, dan bisa mendapatkan segalanya." Pria itu mengembuskan napas berat.

"Lagi-lagi hubbud dunya membutakan anak manusia. Abah juga tidak bisa menampik bahwa godaan harta dunia itu luar biasa menyilaukan mata. Berharap dengan apa yang dia punya bisa membuatnya bahagia namun jawabannya tidak." Kang Fikri mengangguk, meresapi setiap ucapan yang keluar dari pria di sampingnya. Membenarkan perkataan barusan.

"Manusia harusnya tidak menaruh harap pada suatu yang tidak semestinya dijatuhkan harapan. Harusnya hanya Allah saja Dzat yang kita gantungkan segala harapan agar Nanti tidak berujung pada kecewa." Hati Kang Fikri tergugah dari kecewa yang baru saja menimpa. Harusnya bukan mengharapkan suatu yang bahkan tidak pasti.

Sekarang pikiran kang Fikri lebih terbuka lebar, secara tidak langsung dia mendapatkan teguran karena selama ini terlalu berharap. Terlalu yakin pada usahanya sendiri hingga tanpa sadar melupakan Allah.

"Gusti Allah iku Sugih, kalau kita minta terus juga ndak jadi miskin. Kalau kita mengharap terus juga ndak pernah di kasih kecewa, ono ne bungah. Makanya kalau ada apa-apa ya mintanya sama Gusti Allah."

Setelah cukup lama mendengarkan, Kang Fikri kembali mengangguk pertanda paham dan membenarkan. Memandang wajah pria di sampingnya yang kembali memfokuskan pada cincin-cincin di depannya.

"Le, cah bagus. Dari dua cincin ini mana yang kamu pilih?"

Kang Fikri menatap pria yang dia panggil Abah itu. Untuk apa dia memilih cincin?

"Buat Mbak Nana mawon, Bah. Lana buat apa cincin itu?"

"Mbakmu sudah punya dari Mas Dum. Kamu pilih saja satu cincin sesuai keinginanmu."

Kang Fikri menatap lekat dua cincin di hadapannya. Dua benda dengan kilauan itu sejenak menyita perhatian. Harus memilih, dan sorotan mata serta keinginan hatinya jatuh pada cincin dengan sebuah  permata warna putih. "Lana ambil cincin perak mawon, Bah."

"Bukan cincin emas itu saja, Lana?" Tunjuk pria itu. Kang Fikri diam sejenak, mengamati kembali cincin yang dimaksud barusan. Cincin emas dengan dua permata di tengahnya.

"Yang perak saja, Bah. Entah, Lana suka warna silver dan itu lebih menunjukkan kesederhanaan." Mendengar balasan Kang Fikri, pria berusia lanjut itu tersenyum simpul. Menutup dua kotak cincin tersebut. Menyerahkan keduanya pada Kang Fikri. "Buat kamu semua, Le."

"Lana sudah pilih satu saja, Bah." Semakin tidak paham saja Kang Fikri dibuatnya.

Sosok pria yang Kang Fikri panggil Abah itu tersenyum puas, merasa senang pilihannya dan sang putra  ternyata sama. "Abah sudah mendengar cerita dari Mbakmu. Lantas apa hasilnya?"

Dengan sekali tarikan napas Kang Fikri mengeluarkan kalimat. "Lana ikut pilihan Abah saja."

Versi lengkap di KBM app

*****

Yuk absen kubu
1. Fany&Fikri?
2. Fany & pilihan Ayah?
3. Fikri& pilihannya spontan?

Semarang 4 Juni 2020

Revisi 2/4/21

Sepasang Hati (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang