2. Bukan Bergelimang Harta

5.4K 356 18
                                        

السلام عليكم و رحمه الله تعالى وبركاته
اللهم صل على سيدنا محمد

JADIKAN AL-QURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***

Sesuai apa yg aku bilang, cerita ini up setelah My Future Gus end. Alhamdulillah, sudah end. Tinggal epilog.

Selamat membaca. Vote and komentar kalian mempengaruhi jangka update.
.
.

Tubuh tegap Gus Lana mematung, menatap punggung Alfa tanpa teralih. Bahkan tak sadar jika sosok itu tidak lagi terlihat.

"Astaghfirullah, apa yang kulakukan?" gumamnya. Tersadar akan apa yang baru saja dilakukan ketika mendengar derap langkah cepat dari beberapa santri.

Menggeleng, mengusir bayangan santri itu. Gus Lana kembali melanjutkan langkah, menyusuri pondok pesantren menuju aula pondok putra.

Pria berkulit sawo matang itu mengulas senyum pada setiap santri yang dilewati. Hal itu yang membuatnya kian di segani.

Setelah mengisi kajian kitab Fikih di aula menggantikan Abah Kiai, Gus Lana tidak langsung kembali ke ndalem. Melainkan mengitari kawasan pondok putra terlebih dahulu. Semua sudah berbeda, lahan kosong di samping aula pondok putra telah berubah menjadi tempat parkir santri mahasiswa yang membawa motor. Entah berapa lama tempat ini tak di kunjungi. Sudah banyak perubahan saja.

Puas berada di sana, Gus Lana memutuskan kembali ke ndalem. Berjalan menyusuri lorong dekat dapur ndalem yang berbatasan langsung dengan pondok putri. Sesampai di dekat ndalem tak langsung masuk begitu saja. Dia mengulas senyum tipis ketika berpapasan dengan santri yang piket di ndalem.

Terlihat para santri putri menunduk ketika berpapasan dengannya. Meski tetap membalas juga dengan tersenyum malu.

Kaki jenjangnya yang terbalut sarung terus berjalan memasuki ndalem. Tepat ketika sampai di ruang tengah, seruan dari sang kakak menyambut.

"Lan, gimana tadi? cantik kan orangnya," ucap seorang wanita yang tengah duduk santai di atas karpet sambil bersandar pada dinding. Tangannya memeluk satu toples kaca berisikan kripik kentang. Maklum saja, ibu hamil memang sering makan.

Mendengar ucapan kakaknya, pria itu menoleh, menatap lalu berjalan mendekat. Duduk bersila, meraih toples di depannya. Mengambil sedikit kripik tahu dalam toples kaca bergambar bunga tulip.

"Entahlah," balasnya dengan raut wajah datar andalannya.

Ning Nana mengerjap pelan dengan dahi mengernyit. Bukankah tadi adiknya sudah menemui Alfa? atau mungkin Alfa sudah lebih dulu pulang sebelum Lana menemuinya?

"Jangan bilang kalau kamu ndak ketemu sama Alfa."

Gus Lana tersenyum samar. Selalu saja begitu, dikenalkan pada banyak wanita dan pada akhirnya diminta memilih salah satu dari mereka.

"Ketemu kok. Orangnya cantik, dilihat dari belakang."

Ning Nana menganga, menggeleng pelan.

"Berarti kamu belum lihat wajahnya?" tanya Ning Nana penasaran. Menautkan alis.

Gus Lana menggeleng lemah.

Sepasang Hati (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang