بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***
Allah tahu bahagia seperti apa yang paling tepat dan bagaimana cara meraihnya
________________________
Selepas tangis Ayah Abbas terhenti dalam simpuhan, kini tubuhnya menegak. Memeluk erat wanita paruh baya di depannya yang tak lain adalah Ibu kandungnya.
"Maaf, Umi. Husein telah menjadi anak durhaka dengan pergi dari Umi dan Abah. Allah menegur beberapa kali hingga Husein sadar," ujar Ayah Abbas lirih. Mengurai pelukan, meraih tangan kanan wanita paruh baya itu lalu memberikan kecupan takdzim di punggung tangannya cukup lama.
"Umi dan Abah yang salah, bukan kamu. Selama ini kamu kemana, Le? Umi dan Abah mencari-cari keberadaanmu, tapi selalu saja tidak membuahkan hasil." Wanita paruh baya itu mengusap pundak putranya. Menggiringnya beserta istri dan anak kecil yang digandengnya pula masuk ke dalam rumah. Memintanya duduk di sofa ruang tamu sedang wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan lain, memanggil suaminya.
Mata Ayah Abbas menyapu setiap bagian ruang tamu tempatnya saat ini. Pandangannya berhenti pada sebuah bingkai foto berukuran besar di sudut ruangan. Mengarahkan jemarinya menunjuk foto tersebut dengan berujar pelan, "mereka orang tua kandung Ayah, Bun."
Bunda yang juga memandang foto tersebut beralih menatap Ayah Abbas kala mendapatkan remasan pelan di punggung tangannya.
"Dan sosok remaja yang ada diantara keduanya adalah Ayah," sambungnya.
Bunda menatap lekat Ayah Abas, menelisik wajah suaminya kala remaja yang mengenakan baju koko serta peci hitam dan sarung. Berdiri antara dua sosok dengan wajah teduh dengan senyum simpul. Wajah remaja yang juga sangat mirip dengan putranya. Hidung bangirnya dengan kulit putih serta alis tebal dan bulu mata lentik. "Wajah Ayah perpaduan antara dua sosok di samping Ayah," ucap Bunda.
Ayah Abbas kembali meremas jemari istrinya diiringi anggukan pelan. "Merekalah orang tua kandung Ayah, Bun. Darah mereka mengalir pada Ayah," ucapan Ayah Abbas barusan membuat keduanya terpaku. Masih menatap bingkai foto yang tergantung di sudut ruangan.
Terlalu sibuk menatap foto, keduanya tak menyadari sepasang suami istri paruh baya berjalan mendekati mereka. Bahkan sosok pria paruh baya dengan balutan baju Koko warna putih serta sarung polos hijau berjalan sangat pelan dengan mata tak berkedip menuju mereka. Mematung ketika tubuhnya telah sampai di hadapan keduanya.
"Ya Allah, Abbas Husein Al Qowiy. Benar ini kamu, Le?" Ayah Abbas mengangguk, kembali bersimpuh namun kali ini di hadapan sosok pria paruh baya yang merupakan Ayah kandungnya. Sosok yang sempat dibencinya karena sebuah salah paham hingga menempatkannya pada posisi tersangka dalam permasalahan rumit.
Semua sudah berlalu, puluhan tahun lamanya rasanya cukup untuk kembali pada keluarga kandungnya. Bukan terus mengundur waktu bertemu pasangan suami istri yang ada di hadapannya sekarang.
Mata pria paruh baya yang sejak tadi berkaca-kaca menahan air mata kini luruh dengan sendirinya. Memegang kedua bahu putranya lalu memintanya berdiri tegak. "Maafkan Abah, Le. Abah sudah berlaku tidak adil padamu. Percaya begitu saja pada orang lain tanpa mendengar penjelasan darimu. Abah salah. Ya Allah, ampuni hamba."
Flashback on
Dengan langkah mengendap-endap dua sosok remaja dengan tangan menenteng beberapa botol minuman keras menuju kebun yang berada di belakang sebuah pondok pesantren. Meletakkan botol minuman haram di balik tumpukan kayu kering yang disana juga telah ada banyak botol serupa yang masih tersegel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepasang Hati (End)
EspiritualProses Revisi Spinoff My Future Gus, Aku berada di tempat ini untuk mencari ilmu, melupakan luka yang pernah tertoreh dahulu. Menggapai cinta yang sebenarnya, cinta pada sang pemilik setiap hembusan nafas. Namun ditengah kobaran semangat mencari ilm...
