Sore hari menjelang Ashar, acara sudah selesai. Kedua mempelai sudah berganti pakaian. Para tamu sudah mulai beranjak pergi. Abah Ucok sekeluarga pun berpamitan dengan keluarga Purnama. Bu Fatimah tidak henti hentinya menasihati Hamna, memeluknya, mencium kepalanya. berulang ulang.
"Ummah, sudah hayo kita pulang. Kasian Hamnanya di pegangin terus" Abah mulai menarik Bu Fatimah menjauh.
"Jangan lupa pesan Ummah ya Nak. Jaga kesehatan, nurut sama suami, sering-sering main ke rumah Ummah." Bu Fatimah mulai menarik diri dari Hamna. Isaknya belum juga reda.
"Iya Ummah, terima kasih atas segala kebaikan Ummah, Abah. Maaf kalau Hamna merepotkan" ujar Hamna yang mengiringi kepergian mereka. Abah Ucok tersenyum dan berpamitan.
Bu Pur merangkul bahu Hamna, mengantarkan keluarga Abah Ucok hingga ke depan gerbang. Keduanya melambai ke arah mobil keluarga Abah. Menyisakan haru yang tak berkesudahan.
"Sudah, yuk istirahat dulu. Kamu pasti capek. Sudah ketemu belum sama Dzaky?" Bu Pur menggandeng Hamna masuk kembali ke dalam.
"Sudah lihat, ma, tapi belum sampat ngobrol."
"Oo... ayo sini Mama kenalkan." Bu Pur membawa Hamna mendekati Dzaky yang sedang bermain sendiri. Entah kemana pengasuhnya tadi. "Tadi pengasuhnya sudah pamit ke saya dan Arfan. Emang dasar anak muda jaman sekarang. Ga mau kerja atau susah sedikit." Bu Pur menghela nafas berat. Kemudian matanya beralih ke Dzaky. "Dzaky, sini nak. Kenalkan, ini mama Dzaky juga, namanya Mama Hamna." Bu Pur menepuk pundak Dzaky dan berbicara padanya. Menunjuk Hamna dan memintanya untuk bersalaman.
"Hai Dzaky, saya Hamna. Sedang main apa?" Hamna mencoba mengulurkan tangannya. Hingga 3 detik berlalu Dzaky tetap tidak menoleh sedikitpun.
"Bicara dengannya harus ada sentuhan dulu, Hamna. Cari perhatian dia, kemudian tatap matanya, menandakan kita berbicara padanya."
Hamna mengangguk, "Maaf ma, apakah Dzaky kurang pendengarannya?"
"Itu yang mama tidak yakin. Sepertinya sih tidak ya, waktu itu pernah ada kucing yang menyenggol gelas di dapur, terdengar keras, pecah. Dzaky saya perhatikan menoleh ke arah dapur juga kok. Tapi kemudian tidak bereaksi apa-apa."
Hamna kembali mengangguk. Berpikir apa yang harus ia lakukan. Sedangkan ia juga baru bertemu dengan anak seperti Dzaky. Sewaktu di panti asuhan, semua anak terlihat normal. Meskipun berasal dari keluarga yang tidak jelas, namun mereka semua normal dalam hal perkembangan fisiknya. Terkadang Hamna berpikir bahwa ini adalah kebesaran Allah. Keadilan Allah. Semua memiliki kelemahan dan juga kelebihan. Dzaky yang terlahir dari keluarga terpandang, namun secara perkembangan, belum tentu seberuntung anak anak jalanan.
"Sudah, ga usah dipikirkan dulu. Coba nanti kamu diskusikan dengan Arfan, bagaimana baiknya." Bu Pur mengajak Hamna beranjak meninggalkan Dzaky yang saat ini sedang memasang lego hingga setinggi dirinya. "Kamu menginap disini, kan?"
"Eh, itu Hamna kurang tahu, Ma. Hamna gimana papanya Dzaky saja."
"Ooo ya sudah nanti mama bicara sama dia."
****************
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Mang Udin mulai membuka bagasi. Mengeluarkan koper pakaian, hantaran pernikahan dan kado-kado dari dalam mobil van itu. Arfan keluar dari mobil, menggendong Dzaky yang tertidur di bahunya. Hamna mengikuti Arfan sambil membawa parcel buah buahan. Tangan kanan Arfan yang bebas ia gunakan untuk membuka pintu rumahnya yang terkunci. Tidak ada orang di dalam. Mak Iyah tentu saja masih membantu di rumah Bu Pur.
Arfan membuka pintu kamar Dzaky dan menidurkan anak itu di ranjang mobil-mobilannya. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Hamna berdiri di pintu kamar Dzaky. Masih membawa parcel buah seakan bertanya 'Ini mau ditaruh dimana'.
YOU ARE READING
Hadirmu Untukku
General FictionHamna tidak mengerti mengapa ia ditinggal oleh bundanya di rumah bercat hijau ini. Yang ia yakini, bahwa suatu saat nanti bundanya akan kembali menemuinya. Selama masa menunggu, banyak peristiwa yang terjadi pada Hamna hingga hampir saja ia putus as...
