Setelah seminggu Dzaky tampil di panggung akhirusannah, video amatiran yang diambil oleh salah satu penonton menjadi viral. Entah siapa yang mengunggahnya. Arfan dan Hamna tidak menanggapi hal itu secara serius. Mereka menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Pagi itu Arfan membuka email pribadinya. Ia melihat undangan resmi dari Kementerian Pendidikan pada kolom pengirim. Arfan mengerutkan kening, berfikir apa kira kira isinya? Apakah beasiswanya disetujui? Sedangkan ia baru saja melengkapi berkasnya kemarin dan baru direview oleh Ketua Jurusan di Kampusnya sebelum mendapat rekomendasi dari beliau. Lalu apa isi email itu?
Email itu terkirim sehari sebelumnya, sekitar jam 3 sore. Hm.... semoga belum terlambat jika ini adalah undangan mendadak.
Tak urung akhirnya Arfan membuka email itu, membacanya dengan seksama dan menghela nafas sesudahnya. Email itu ternyata undangan untuk Dzaky. Putranya diminta untuk mengisi acara hiburan pada agenda Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi di salah satu kampus negeri terbaik di Kota Bandung. Dzaky diminta mengiringi Hymne Kampus tersebut dengan piano atau keyboard. Setelahnya diminta untuk memainkan 2 buah lagu seperti permintaan dari panitia.
Arfan menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya. Mempertimbangkan apakah kiranya Dzaky mau dan mampu untuk mengikuti kegiatan itu. Meskipun Dzaky tampil tidak lebih dari 30 menit, namun Arfan masih belum yakin dengan kesiapan Dzaky. Dia harus tanyakan dulu ke Hamna. Ah.... haruskah ia turunkan egonya untuk meminta Hamna menyiapkan Dzaky?
Jika permintaan Kementerian itu ditolak, Arfan akan kehilangan kesempatan bertemu dengan Pak Menteri. Tentu di pikirannya akan banyak keuntungan jika Arfan bisa menghadiri acara seperti itu. Bertemu orang-orang penting, minimal Dirjen dan Rektor Kampus tersebut. Network akan terbuka. Dzaky sebagai pintunya. Tapi, bagaimana caranya agar Dzaky mau ikut? Hamna kuncinya. Hm....
Setelah melewati perdebatan di batinnya, akhirnya Arfan memutuskan untuk bicara pada Hamna pagi itu ketika mereka selesai sarapan.
"Hamna, saya mau bicara." Seketika Hamna menghentikan aktivitasnya membereskan meja makan. Ia menarik kursi kembali dan duduk di hadapan Arfan.
"Iya, Om."
"Dzaky diundang ke Bandung untuk acara bersama Pak Menteri Pendidikan. Dia diminta untuk mengisi acara hiburan dengan piano atau keyboard. Bisa bantu untuk menyiapkan Dzaky?"
Hamna memandang Arfan dengan bingung. "Acara Apa? Di Bandung? Apakah menginap? Lagu apa yang diminta? Nanti Dzaky dengan siapa?"
"Saya jawab yang mana dulu nih? Banyak amat pertanyaannya."
"Yaa terserah Om saja mau jawab yang mana duluan."
Arfan menghela nafas sebelum akhirnya menjelaskan dengan detail. "Itu acara internal kampus di Bandung. Mereka mengundang Menteri untuk membuka dan menyerahkan penghargaan kepada pemenangnya. Dzaky diminta mengiringi paduan suara yang akan menyanyikan Hymne Kampus itu. Kemudian di acara hiburan, Dzaky diminta memainkan keyboard untuk membawakan lagu yang akan di tetapkan oleh panitia. Jika kita sudah konfirmasi ke panitia, mereka akan kirimkan chord nya. Saya akan menemani Dzaky di sana. Acaranya pagi jam 9 dan diundang makan malam bersama rektornya jam 7 malam. Jadi sepertinya sulit jika harus perjalanan satu hari. Kamiakan menginap 2 malam di Bandung. Gimana? Sudah kejawab semuanya?"
Hamna mengangguk angguk.
"Bagi saya, ini moment yang penting. Saya bisa bertemu langsung dengan Pak Menteri dan orang orang penting di dunia pendidikan."
Hamna mulai mengerti sekarang. Arfan memintanya untuk mempersiapkan Dzaky sebagai jalan untuk kepentingannya sendiri. Sungguh tega sekali.
"Sudah ga usah banyak mikir. Ini juga sebagai moment saya lebih dekat dengan Dzaky, bukan?"
YOU ARE READING
Hadirmu Untukku
General FictionHamna tidak mengerti mengapa ia ditinggal oleh bundanya di rumah bercat hijau ini. Yang ia yakini, bahwa suatu saat nanti bundanya akan kembali menemuinya. Selama masa menunggu, banyak peristiwa yang terjadi pada Hamna hingga hampir saja ia putus as...
