Bunda, benarkah?

120 8 0
                                        

Sudah tiga semester Hamna lalui perkuliahan dengan lancar. Arfan memberikan dukungan penuh kepada istrinya. Tugas perkuliahan yang cukup menyita waktu terkadang membuat Hamna tidak bisa memberikan pelayanan yang sempurna kepada suaminya. Tentu saja Arfan memaklumi hal itu. Bahkan ia membantu Hamna dalam menyelesaikan tugas kuliahnya. Ditengah kuliah doktoral dan mengajar di empat mata kuliah reguler.

Baik Arfan maupun Hamna tetap mencoba untuk selalu menyempatkan diri berbincang santai ketika sedang sarapan atau sebelum mereka terlelap.

"Mas, kemarin ketika mengikuti kajian di komunitas, ada pembicara yang Hamna sukaaaaa banget cara beliau menjelaskan. Jelas dan rinci. Kemarin beliau menjelaskan tentang fiqh wanita."

"Hm... siapa namanya?" Arfan menutup buku tebalnya dan meletakkannya di atas nakas. Setelahnya ia memandang Hamna yang sedang merebahkan kepala diatas pangkuannya, lalu mengelus kepalanya dengan lembut.

"Kita manggilnya sih Ustadzah Arini, Mas. Kalau tidak salah beliau juga mengajar di fakultas yang sama dengan Papa."

"Ooo gitu. Dosen Arini ya? Belum ingat yang mana ya." Arfan mencoba mengingat wajahnya. "Siapa nama suaminya?"

"Nggg.... Hamna ga tau sih. Kata Fitri, sampai sekarang Ustadazah Arini belum nikah. Padahal cantik deh Mas, Ustadzahnya. Temen Mas Arfan ada yang belum nikah, ga? kita jodohin aja yuk."

"Hus... sembarangan. Masa sih belum nikah. Coba nanti kita tanya papa." Hamna mengangguk, ia memainkan kancing piyama suaminya. Arfan menangkap tangan Hamna dan mengecupnya.

"Bahas fiqh wanitanya tentang apa kemarin?" Arfan memandang Hamna penuh minat.

"Yang kemarin temanya tentang penampilan dan perhiasan, Mas."

"Ok. Terus apa point nya?"

"Hm.... singkatnya sih, wanita itu tentu saja harus menjaga penampilan dalam arti bersih dan suci. Karena itu juga bagian dari syiar Islam. Untuk perhiasan, selama tidak berlebihan dan seperti kaum fasik, dan bukan berniat untuk riya, itu juga diperbolehkan. Tapiiiii...... jauh lebih baik jika wanita itu dandan dan berhias hanya didepan suaminya saja. Gitu, Mas."

"Tapi kalau buat Mas, kamu ga perlu berhias, Na."

"Kok gitu Mas? Bukannya suami itu suka kalau istrinya cantik, pakai baju bagus, gitu?"

"Mas sih ga masalah kamu mau pakai baju bagus atau daster bolong di depan Mas."

"Oiya, ga perlu berhias maksudnya?" Hamna merasa terkejut. "Kenapa?"

"Karena yang penting itu, kalau kamu ga pake baju..... awwww sakit sayang..."

Arfan mengelus lengannya yang dicubit Hamna karena omongannya yang kelewat vulgar.

"Habisnya sih ngomong kayak gitu." Arfan tergelak melihat tingkah istrinya yang malu-malu.

*************

Memasuki dua tahun meninggalnya Dzaky, sepasang suami istri itu diberi amanah kembali dengan mengandungnya Hamna yang saat ini menginjak usia 5 bulan. Berkali kali Arfan meminta Hamna untuk memikirkan lagi usulannya agar mengambil cuti kuliah. Namun Hamna menolaknya karena ia merasa masih sanggup menjalani kuliah ditengah kehamilannya yang semakin membesar.

"Sayang, kamu yakin bisa sendiri?"

"Yakin, Mas. Beneran deh. Ga papa kok. Kan naik taksi, ga jalan kaki."

"Tapi nanti kalau ada apa-apa gimana?"

"Mas ga usah lebay deh." Hamna meneruskan aktivitasnya menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk dirinya dan Arfan hari ini. Arfan sejak tadi membuntuti kemana pun Hamna bergerak. Ke depan kulkas, ke arah kompor, ke meja makan, kembali lagi ke dapur, terus saja merayunya agar tidak berangkat ke dokter kandungan seorang diri. Mereka memang belum ada waktu yang pas untuk control.

Hadirmu UntukkuStories to obsess over. Discover now