Mama atau Bunda?

108 5 0
                                        




Hamna terbangun ketika telinganya mendengar sayup sayup suara murotal di masjid dekat rumah sakit dinyalakan. Ia menegakkan kepalanya dan terkejut ketika menyadari bahwa semalam ia tertidur dengan bersandar pada lengan kekar milik Arfan. Keterkejutannya bertambah ketika ia melihat jemari Arfan yang menggenggam jemari miliknya. Tiba-tiba darah Hamna berdesir. Sesuatu yang membahagiakan muncul kembali di relung hati Hamna. Apakah ini maksudnya Arfan sudah mulai menerima dirinya? Sebaiknya ia tidak boleh dulu berharap.

Tidak ingin membangunkan Arfan yang masih memejamkan mata, Hamna menarik pelan tangan dari genggaman Arfan. Menghembuskan nafas pelan ketika berhasil melepaskan sepenuhnya. Ia bangkit menuju kamar mandi dan mengambil wudhu untuk menunggu waktu subuh.

*********

Setelah kunjungan dokter tadi pagi, Dzaky diperbolehkan untuk pulang dan dirawat di rumah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Arfan mengambil mobil di Hotel tempat terakhir ia dan Dzaky mengikuti acara makan malam bersama dengan Dirjen dan Rektor. Kemudian ke Hotel mengambil koper dan kembali ke rumah sakit menjemput Hamna dan Dzaky.

Sepanjang perjalanan, Hamna masih memikirkan hal yang sukses membuat hatinya berdebar. Ingin rasanya menanyakan kepada Arfan mengenai genggamannya tadi malam. Namun ia tidak punya keberanian untuk membuka mulutnya sedangkan Arfan hanya fokus pada jalanan di hadapannya. Berkali-kali Hamna menghembuskan nafasnya kasar, berusaha untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. 

"Kamu kenapa?" tiba-tiba Arfan memecah keheningan mereka. 

"Eh, ng.... nggak papa."

"Dzaky berat? Pindahin aja ke belakang." Memang saat ini Dzaky dipangku Hamna dan tertidur sepanjang perjalanan. Kemudian Arfan menghentikan mobilnya, mengambil Dzaky dari pangkuan Hamna, menggendongnya dan memindahkan ke kursi tengah. Ia kembali ke balik kursi pengemudi, memasang seatbeltnya dan menjalankan kembali mobilnya.

"Gitu aja kok repot. Dah lebih lega, kan?"

"I-iya Om. Makasih." Hamna menjadi salah tingkah sendiri. Karena tidak ada yang bisa dijadikan pengalihan kegugupannya di samping Arfan. Tadi selama Dzaky di pangkuannya, Hamna masih bisa mengelus punggung anak itu. Namun sekarang, ia hanya bisa memilin ujung hijabnya.

Tidak berapa lama gawai Arfan berbunyi.

"Bisa tolong di angkat?" 

Hamna mengerutkan keningnya. Pasalnya nama yang tertera di layar adalah "My Lovely Wife". Apakah ini maksudnya Arfan masih cinta dengan mantan istrinya? Mengapa seperti ada yang menusuk di dada Hamna. Padahal baru saja ia terasa seperti di terbangkan ke atas awan. Namun melihat layar pada ponsel Arfan, ia seperti dihempaskan kembali ke tanah dengan sangat kerasnya. Sakit.

"Loh kok malah bengong. Angkat aja. Tolong bilang saya lagi nyetir."

Hamna mengangguk dan menggeser tombol hijau. "Assalamu'alaikum"

"..........."

"Papanya Dzaky sedang menyetir, Bu."

".............."

"Ng.... saya" Hamna menoleh ke arah Arfan, meminta pendapatnya. Namun Arfan tetap fokus pada jalan di depan. "Saya pengasuhnya Dzaky." Akhirnya kata itu yang lolos dara mulut Hamna. Ada sesak di dadanya manakala Arfan tidak meralatnya. Jadi memang ia tidak boleh berharap perasaan yang berbalas. 

"................."

"Baik Bu, nanti saya sampaikan."

"............"

"Wa'alaikumsalam." Hamna menahan kedipan matanya agar bulir bening yang sudah siap meluncur tertahan di tempatnya.

"Mau apa Gina?" tanya Arfan tanpa menoleh kepada Hamna.

Hadirmu UntukkuStories to obsess over. Discover now