Hamna otomatis terbangun pukul 3 dini hari. Ia meregangkan tubuhnya sejenak, dan berjalan ke kamar mandi di sebelah kamarnya. Setelah berwudhu, ia berjalan menuju kamar Dzaky. Dibuka pintunya perlahan dan melihat Dzaky yang tengah pulas. Ia mengelar sajadahnya dan mulai bermunajat di waktu mustajab itu.
Mendekati waktu subuh, Hamna mencoba membangunkan Dzaky dengan perlahan. Berharap anak itu terbangun dan mau diajak shalat bersama dirinya. Hingga adzan subuh selesai berkumandang, Dzaky belum juga terbangun. Hamna kemudian Shalat subuh seorang diri disebelah tempat tidur Dzaky. Ditengah shalatnya, ia tidak menyadari bahwa Dzaky mulai terbangun dan memperhatikan Hamna dengan seksama meskipun ia tidak merubah posisi tidurnya.
Hamna telah selesai dzikir paginya. Ia mulai melipat mukena dan melihat ke arah Dzaky.
"Assalamu'alaikum anak sholeh, sudah bangun? Yuk baca doa bangun tidurnya dulu," Hamna membantu Dzaky untuk duduk dari tidurnya. Dzaky menurut dengan apa yang Hamna katakan. Bahkan anak itu tidak menolak ajakan Hamna untuk ke kamar mandi. Hamna bermaksud untuk mengajarkan Dzaky toilet training dan belajar shalat. Dzaky akan ia ajak ke toilet setiap 4 jam sekali, setiap bangun dan akan tidur. Sepertinya hari pertama ini merupakan hari yang baik, karena karena pampers yang digu nakan Dzaky sepanjang malam ternyata masih kering.
Setelah membereskan Dzaky dan memberikannya kesibukan dengan meletakkan balok dan buku gambar dimeja belajar kecilnya, Hamna menuju ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk Arfan dan Dzaky.
"Assalamu'alaikum, Non Hamna." Merasa namanya di panggil, Hamna menoleh. Ternyata Mak Iyah. Mereka pernah bertemu sebelumnya ketika hari pernikahan Hamna kemarin.
"Wa'alaikumsalam Mak Iyah. Wah, pagi sekali datangnya."
"Sudah biasa, Non. Kan harus buat sarapan Den Arfan dulu."
"Oo gitu, mulai sekarang saya saja yang bantu Mak Iyah masak ya."
"Lah, Non Hamna duduk saja. Jangan repot repot. Ga enak saya nya."
"Ga repot kok. Saya udah biasa masak sebelumnya. Mak Iyah duduk saja ya, nanti tolong cobain masakan saya."
"I-iya Non. Kalau gitu saya tinggal mencuci dan beres-beres dulu ya."
"Oiya Mak Iyah, silakan."
Hamna mulai membuka kulkas dan tempat persediaan makanan. Mendesah sedih karena tidak banyak pilihan untuk memasak makanan yang sehat. Hampir semua makanan instan dan mengandung gula yang berlebihan. Hm... PR nya bertambah lagi.
Pagi ini ia mencoba membuat sop jamur dan telur dadar. Semoga ia bisa segera ke tukang sayur dan membeli bahan makanan yang lebih bergizi.
Setelah Arfan dan Dzaky selesai sarapan, Arfan memanggil Hamna untuk menjelaskan apa tugasnya.
"Kamu sudah tahu, kan apa tugas utama kamu disini?" tanya Arfan sambil memperhatikan Hamna yang menunduk, membawa kertas kecil dan pensil diatas pangkuannya.
"Sudah, Om. Menjaga Dzaky."
"Iya, tugas kamu menjaga Dzaky saja. Mak Iyah yang masak dan beres-beres. Dzaky mulai besok sudah masuk kembali ke sekolah. Besok saya antar kamu ke sekolah Dzaky. Mengenalkan ke gurunya bahwa sekarang Dzaky sudah tanggungjawab kamu. Selanjutnya kamu bisa minta Mang Udin mengantar dan jemput. Seharusnya setiap Rabu Dzaky ada terapi di RS Kota. Tapi kalau kamu repot, ga usah lah."
"Terapi apa Om?" Hamna sedikit terkejut. Tangannya yang sedang menulis di atas kertas berhenti. Ia mendongak ke arah Arfan. Sesaat pandangan mereka bertemu. Ada sesuatu yang berdesir. Hamna kembali menunduk.
YOU ARE READING
Hadirmu Untukku
Aktuelle LiteraturHamna tidak mengerti mengapa ia ditinggal oleh bundanya di rumah bercat hijau ini. Yang ia yakini, bahwa suatu saat nanti bundanya akan kembali menemuinya. Selama masa menunggu, banyak peristiwa yang terjadi pada Hamna hingga hampir saja ia putus as...
