"Lelet banget."
"Kan masih pamitan. Nggak enak dong kalo main pergi gitu aja."
"Emang pada dasarnya udah lelet, masih aja ngelak. Cepet!"
Jiwa mencebik bibirnya kesal. Namun tak urung mengikuti apa yang Raga perintahkan.
15 menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
Sekarang sudah jam 8 malam.
Dilapangan itu juga sudah banyak pemuda-pemudi baik para pemain futsal maupun penonton yang memenuhi area lapangan.
"Gue mainnya nggak lama. Jadi lo bisa nunggu gue disana."
Raga menunjuk kursi penonton yang ada disamping lapangan.
"Jangan kemana-mana. Tunggu gue selesai. Kalo ada apa-apa, lo bisa panggil salah satu temen gue. Kami mainnya gantian."
Jiwa mengangguk patuh.
"Gue berasa lagi dapet petuah dari papa tau nggak?" Jiwa terkekeh setelah nya.
Mereka berjalan mendekati kerumunan teman-teman Raga.
"Widih.. Dih.. Bawa siapa lo Ga?" Dota yang sudah sadar dengan keberadaan mereka langsung menyapa.
"Jiwa ya?" tanya Paskal.
"Iya," jawab Jiwa agak heran. Memangnya siapa orang ini?
Jiwa memang hanya mengenal Dota dan Zaiq saja. Itupun karena pertemuan mereka di cafe tempo dulu.
"Kenalin gue Paskal, temen Raga. Ini Dota. Mungkin lo udah kenal sih, soalnya waktu itu dia sama Zaiq sempet minta kontak lo sama temen lo waktu di cafe. Masih ingetkan?"
"Iya inget kok. Gue juga masih simpen kontak mereka."
Paskal mengangguk mengerti.
"Oh ya, ngapain kesini ikut Raga? Mau nonton turnamen juga?"
"Gue awalnya nggak tau malah kalo kalian bakalan turnamen. Soalnya Raga cumen minta temenin beli sepatu."
"Alasan dia itu mah, biar ditemenin main futsal." Kalimat Dota tersebut langsung dihadiahi tempelengan kepala dari Raga.
Namun cowok itu malah terkekeh saja.
"Santai bro," katanya.
"Eh, temen lo sombong banget sumpah. Masa' gue chat nggak dibaca sama sekali," adu Dota.
Teman yang dia maksud itu Nadya.
"Nadya nggak sombong kok, emang gitu orangnya. Aslinya baik banget malah."
"Dia malah sering chat-an sama Paskal. Padahal kan gue sama Zaiq yang minta kontak kalian berdua."
Jiwa mengernyit kening?
Begitukah?
Jiwa saja tidak tau kalau Nadya sedang PDKT dengan Paskal.
"Kalian pacaran ya?" tanya Jiwa menyuarakan rasa penasarannya.
Tentu saja pertanyaan itu ia tujukan untuk paskal.
Sebelah alis cowok itu meninggi.
"Enggak lah. Cuma temen kok."
Jiwa mengangguk mengerti.
"Kirain pacaran." Jiwa terkekeh.
"Oh iya, kalian temen___?" Jiwa melirik mereka dan Raga.
"Dulu se-SMP. Pas SMA nya pisah." Sekarang Zaiq yang menjawab.
"Jadi sekarang kalian sekolah dimana?"
"Kuliah. Kita bertiga udah kuliah. Tinggal Raga nih yang betah banget jadi anak sekolahan." Paskal langsung meralat kalimat Jiwa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jiwa & Raga
Novela JuvenilYUK FOLLOW DULU SEBELUM BACA!!! ***** Raga itu ganteng, cuek, dingin, kaku, kasar, tapi kadang perhatian. Jiwa itu ceria, cantik, baik, pengertian, dan suka menolong. Rio itu tampan, penyayang, perhatian, sayang banget sama Jiwa, juga selalu pedul...
