"Ketakutan adalah sesuatu yang harus kita hadapi. Tapi menghadapi sesuatu yang menjadi mimpi buruk bagi kita, adalah hal paling sulit selain menghadapi ego"
**************
Saat Jungkook masuk ke dalam rumah Seokjin, kakak pertama mereka itu ada disana. Tampak baru saja dari dapur dengan segelas susu hangat ditangannya.
Ada sebuah senyum tipis yang menyapa mereka, bersamaan dengan langkah Seokjin yang semakin mendekat.
"Hyung."
Seokjin mengangguk satu kali. "Aku sudah menunggu kalian. Tapi bicara dengan lebih perlahan, Hyuka masih sangat terkejut."
Jungkook mengangguk tentu saja, netranya menatap ke arah Yoongi yang entah bisa menahan kekalutannya atau tidak. Seakan mengerti, Yoongi tersenyum tipis pada dua saudaranya.
"Yoongi, semuanya akan baik-baik saja," ujar Seokjin lirih sembari menepuk bahu adik tertuanya itu.
"Ya, aku berharap bisa mempercayai itu, hyung."
Mereka melangkah menuju lantai dua, dan berhenti tepat di depan kamar Hyuka. Hanya Seokjin, Yoongi, dan Jungkook yang masuk ke dalam. Mereka sengaja melakukannya agar tak membebani Hyuka yang mungkin saja masih merasa sangat terkejut saat bermimpi tentang masa depan untuk pertama kalinya. Apalagi mimpi kali ini tak bisa dikatakan sebagai mimpi yang baik.
Di atas tempat tidurnya, Hyuka duduk dengan memeluk kedua lututnya. Wajah anak itu terangkat saat Seokjin duduk di sampingnya sembari memberikan usapan lembut beberapa kali di surai putra bungsunya.
"Hyuka, apa kami bisa menanyakan beberapa hal padamu?" Seokjin berujar selembut mungkin.
Anak itu mengangguk sekali.
"Cukup jelaskan dengan sedetail mungkin, tentang apa yang kau lihat di mimpi." Jungkook mengeluarkan sebuah note dan bolpoin dari dalam tas kecil yang dibawanya.
Jemari Yoongi perlahan meraih jemari Hyuka. Menggenggamnya dengan begitu erat sembari tersenyum tipis. "Aku mengandalkanmu."
Ada embun yang sama-sama terlihat dari netra keduanya membuat Hyuka otomatis kembali mengangguk. Anak itu mengubah posisi duduknya menjadi bersila, sebelum memejamkan mata erat. Menelusuri garis mimpi yang sempat membuatnya terjebak sepagian ini.
"Aku melihat sebuah ruangan. Ruangan tempat Taehyun berada. Tempat itu sangat kotor dan gelap, ada banyak tumbuhan merambat yang tumbuh di dinding batu bata nya. Ada banyak dedaunan kering berserakan di lantai, dan juga tetesan darah mengering."
"Tunggu dulu, tetesan darah?"
Hyuka mengangguk. "Tetesannya menyebar dari dekat pintu sampai di ujung ruangan. Sangat banyak, tapi aku tidak tahu itu darah siapa."
Yoongi meremat kedua tangannya yang berkeringat sementara Jungkook tampak selesai dengan gambarannya.
"Ada lagi yang kau lihat?"
Hyuka kembali memejamkan matanya sebelum menahan nafas untuk seperkian detik. "Ada rantai yang menahan kedua pergelangan tangan Taehyun."
KAMU SEDANG MEMBACA
We're The Last
FanfictionKetika melindungi anak-anak mereka terasa jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada melindungi diri mereka sendiri. Cerita ini hanya tentang Kehidupan generasi Bangtan yang selanjutnya, dengan ke 7 Bangtan generasi sebelumnya yang berhasil bertahan...
