13th (Lucid Dream)

1.7K 228 63
                                        

"Sebuah mimpi akan tetap menjadi mimpi Indah saat kalian hanya melihat kebaikannya tanpa menyadari bahwa selalu ada sisi buruk, dibalik sebuah kebaikan."

***************

Jungkook melangkahkan kakinya perlahan, mengikuti langkah kecil sosoknya di masa lalu yang menggenggam erat jemari besar Yugyeom yang juga menggenggam jemari Wonwoo di tangannya yang lain.

Mereka baru saja pulang dari Sekolah Dasar, dan Yugyeom adalah yang bertugas menjemput seperti biasanya. Jungkook berusia 9 tahun, sementara Eunwoo sudah 11 tahun. Tapi mereka masih sangat bergantung dengan Yugyeom seperti sebelumnya.

"Yugi hyung. Jungkook mau melihat kelinci lagi."

Yugyeom tersenyum kemudian mengusak surai bocah itu dengan gemas. "Kita pulang dulu ya, tadi Ibu Jungkook menelfon. Tapi saat hyung angkat malah mati."

Langkah Jungkook dewasa yang mengikuti ketiga bagian dari masa lalunya itu terhenti. Akhirnya ia mengingat tentang ingatan ini. Beberapa menit sebelum ia mengetahui tentang kematian kedua orang tuanya.

Jantung Jungkook berdetak dengan cepat, tidak. Ia tidak bisa melihat semua ini. Hatinya meragu, tapi langkahnya tiba-tiba kembali beranjak seolah tak mendengarkan bahwa hati dan pikirannya menjerit ketakutan.

Netranya bisa melihat rumah kecil yang sebelumnya ia tempati dengan kedua orang tuanya terbakar hebat.

Yugyeom langsung menarik Wonwoo untuk menutupi tubuh mungil Jungkook. Guard itu sedikit membungkukkan badannya untuk berbisik pada Yugyeom.

"Tutup mata Jungkook, hyung akan melihat apa yang terjadi. Jaga adik kamu sebentar."

Jungkook dewasa ikut berlari mengikuti langkah Yugyeom yang menerobos masuk ke dalam rumah yang dilalap oleh api itu.

Tubuh Yugyeom berhenti dan membeku, membuat tubuh Jungkook ikut terhenti. Di sana ia melihat bagaimana Ibunya sudah terbaring di lantai dengan darah keluar dari kepala dan juga perutnya. Cairan kental itu menggenang di sekitar tubuh wanita berusia 33 tahun itu.

Yugyeom merengkuh tubuh Ibu Jungkook dengan khawatir. Menepuk pipi dingin wanita itu dengan jemari bergetar.

"Bibi ... Bibi mendengarku?"

Tubuh Jungkook jatuh meluruh ke atas lantai. Netranya memanas dengan air mata yang lolos menuruni pipi tirusnya dengan cepat. Jemarinya ingin menyentuh tubuh wanita yang teramat di sayangnya itu. Tapi nihil, tangannya tak bisa menyentuh sosok itu dan hanya menembus udara kosong.

Jungkook tak pernah melihat hal ini sebelumnya secara langsung sebelumnya. Jadi saat melihat bagaimana raut kesakitan dan air mata tertinggal di paras Ayu Ibunya membuat hati Jungkook hancur.

Yugyeom meletakkan tubuh Ibu Jungkook dengan perlahan, lalu berlari ke arah lain.

Jungkook tak ingin meninggalkan tapi ia harus mengikuti Yugyeom untuk mencari tahu dimana Ayahnya.

Perlahan Jungkook bangkit dan mengikuti langkah Yugyeom menuju halaman belakang dan mendapati Ayahnya sudah teebaring dengan luka menganga di leher dan dadanya.

Seperti otomatis, Jungkook menutup kedua matanya erat-erat. Ia terisak, kala melihat jemari Ayahnya bergerak, menggenggam jemari Yugyeom dengan erat.

"Pergi ... pergi dari sini, Yugi-ah."

Jemari Ayahnya terjatuh, bersamaan dengan hembusan nafas terakhir yang bisa Yugyeom rasakan. Guard itu menghapus air matanya kasar sebelum berlari cepat keluar dari rumah.

We're The LastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang