Happy reading ❤️ Kalo hareudang berarti kalian panas:))
•
•
•
***
"Mol?" Ucapan itu terdengar dari belakang Mola dan Intan yang akan segera menuju aula.
Mola dan Intan membalikkan badan dan terlihat seseorang yang Mola kenal.
Perlahan Mola maju menghampiri seseorang yang memanggilnya, sedangkan Intan pergi lebih dulu ke dalam aula, meninggalkan Mola yang sepertinya akan berbincang cukup lama.
"Kak Gino?" Kata-kata itu keluar, ketika Mola telah berada di hadapan Gino sekarang.
"Hayy" Gino tersenyum, lesung di kedua pipinya sungguh melemahkan para wanita. Sayangnya, hati Mola bukan untuknya, meskipun Gino tampan.
"Kenapa kak?" Alis mata Mola kini dengan refleks terangkat satu, menanyakan kedatangan Gino.
Gino menyodorkan satu botol air mineral yang masih sejuk dari kulkas.
"Nihh" Melipatkan bibirnya, lalu tersenyum dengan menampakkan gigi ginsul nya.
"Loh? Gak usah repot-repot kak, tadi pagi kakak udah nenangin gue, dan sekarang? Sekarang ngasih minuman? Ngerepotin banget" Tangan Mola mendorong perlahan botol mineral itu kembali ke arah tubuh Gino.
"Beneran itu alesannya?"
"I--iya"Jawaban gugup itu membuat Gino semakin yakin, jika wanita yang ada dihadapannya ini takut terhadap seseorang. Dan Gino tau, Mola takut perkelahian akan terjadi jika Mola menerima air mineral itu.
"AL kan alesan pasti nya? Udah gak usah takut, lagian gue udah lama juga gak olahraga bela diri, lumayan lah buat latihan" Seperti benar-benar tidak takut, Gino tetap meletakkan langsung air mineral itu ke telapak tangan Mola.
"T--ta" ketika ucapan itu belum semuanya keluar, tiba-tiba tangan Gino menghentikannya begitu saja, dengan jari telunjuknya yang ia letakkan di atas bibir Mola.
"Udah, gausah panik. Ambil aja!" Lagi-lagi Gino selalu tersenyum ketika berbicara, membuat Mola tidak tega rasanya menolak air mineral yang diberikannya.
"Yaudah, makasih ya kak" Mau tidak mau Mola tetap harus menerima pemberian Gino.
"Bibirr loo"
"PUNYA GUE!" Ucapan itu lantas AL lontarkan, ketika melihat Gino begitu fokus terhadap wanitannya.
Jantung Mola langsung berdebar, manakala AL sekarang sudah berada disampingnya.
"Lo nanya bibir Mola kan? Bibir dia punya gue!" Tangan AL memegang tangan Mola dengan kuat, matanya menatap tajam bola mata Gino.
"Inget boss, janur kuning belum melengkung, dia belum sepenuhnya milik lo!" Halus sekali kata-kata itu, tapi ucapan itu justru mengundang rasa kesal yang amat sangat besar.
AL bukan tidak mau menanggapi Gino, namun dia tau sekarang posisi nya sedang dalam pandangan para pengurus Osis. Alhasil AL hanya membawa Mola pergi dari hadapan Gino.
