31 || Nenek Sihir Tak Mau Menyerah

3.4K 357 20
                                        

--Follow penulisnya, votement ceritanya

🌸🌸🌸

Camelia terbangun tepat sebelum adzan subuh berkumandang. Matanya bengkak dan dengan cepat ia mencari ponsel yang ia lempar sembarangan di atas kasur semalam. Menemukan barang yang dicari dan segera ia mengecek kali-kali ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab. Naas, hanya ada notifikasi sampah yang semakin membuat perasaannya dongkol.

"Shit!" umpatnya sebagai pembuka hari.

Ia bergerak seperti robot --tak bergairah dan berbuat sesuai insting. Untung saja ia bisa sampai ke hotel tanpa mengalami cedera sedikit pun. Ia menemukan kembali kesadarannya saat ia berpapasan dengan Dimas di depan pintu putar.

Dimas tak menyapa, hanya menatap Camelia dalam hening dan menghalangi jalan.

Camelia berdecak sebal, "Awas ih." gerutunya lalu ia melengos meninggalkan Dimas.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ia diseret paksa oleh tangan kokoh yang membuatnya berjalan berlainan arah. Camelia hendak berontak, namun tak ada tenaga. Cukup membuang-buang energi semalaman menunggu yang tak pasti.

Dimas membawanya ke tangga darurat yang sepi. Pria itu masih membisu dan Camelia tak bergeming sama sekali dengan bungkamnya pria yang notabene-nya adalah calon suaminya sendiri.

"Kenapa kemarin pulang tanpa memberitahu mas?"

"Emangnya situ ketua RT yang apa-apa musti lapor satu kali dua empat jam?" sarkas Camelia.

Dimas menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. "Kamu kenapa marah lagi sama mas?"

"Pikirin sendiri masa kayak gitu aja gak paham."

Terdengar hembusan nafas yang berat, dan Camelia paham akan maksud itu. Nampaknya, Dimas mulai geram dan ia berpuas hati bisa membuat Dimas sama frustasinya seperti yang ia rasakan semalam. Ia sudah mempersiapkan ledakan Dimas namun yang datang rupanya malah pelukan hangat yang membuat kening berkerut.

"Ngapain sih main peluk-peluk begini." elak Camelia berusaha melepaskan diri dari belitan maut Dimas yang kuat sekaligus melindungi.

Dimas tak bergerak malah semakin mempererat pelukannya. "Sebentar saja, mas butuh sandaran."

"Nyender sama tembok gih, atau sama sang mantan!"

"Mas sudah gak ada perasaan sama Yul--"

Dengan sekali dorongan, Camelia berhasil melepaskan pelukan Dimas. "Jangan pernah sebut namanya lagi."

"Itu artinya kamu memang sedang cemburu, ya?"

"Masih nanya juga, ya jelas lah!" luap Camelia to the point saja tanpa tahan harga. Lebih baik mempertahankan daripada nanti digondol sang mantan.

Tiba-tiba tanpa terduga, Dimas meraih tangan Camelia dan memainkannya seperti bocah yang bermain dengan mainan barunya --tertarik dan antusias.

"Kemarin... mas benar-benar membutuhkan kamu, buat menghindari Yul--" Mendapat pelototan tajam, membuat Dimas meralat sebutannya dengan senyum kikuk. "--maksudnya bunda-nya Sabila."

"Bukannya mas seneng bisa reunian sama dia?"

"Senang? Mana ada! Coba kamu ada di posisi mas, masih tersisakah rasa senang setelah orang terkasih tiba-tiba meninggalkan tanpa rasa bersalah?"

Hati Camelia sedikit tercubit dengan sedikit sejarah kelam pernikahan Dimas yang kandas. Memang pria ini banyak kurangnya, tapi atas dasar apa yang membuat sang mantan sampai harus meninggalkannya? Karena ia menemukan fakta kalau Dimas bukan tipe pria yang bisa dengan mudah dilepas begitu saja.

Camelia Blooms [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang