[PART LENGKAP]
Berawal dari pertemuan tak sengaja di satu musim semi hingga takdir terus bergulir membawa rangkaian kisah rumit yang tak terduga, menghadirkan tawa dan tangis disertai taburan rasa yang perlahan memekarkan cinta diantara dua insan ya...
"Ada apa Camelia? Kalau ada yang ingin dibicarakan cepat katakan."
Camelia yang kedapatan tengah curi-curi pandang ke arah Dimas yang sibuk dengan komputernya hanya membalas Dimas dengan cengengesan tak jelas. Dimas tak menggubris sikap aneh Camelia --karena menganggapnya hal biasa dan memilih untuk larut dalam dunia pekerjaannya.
Sedari tadi Camelia anteng dengan dunianya sendiri sambil sesekali menulis lalu melirik-lirik Dimas dengan senyum konyol di wajahnya. Hatinya riang menuliskan kata demi kata di atas kertas HVS itu, jangan lupakan senyuman misterius yang masih setia bertengger di wajah cantiknya. Baru saja ia akan menuliskan angka 99, tiba-tiba kertas itu melayang dari pandangannya dan dengan cepat ternyata ia menyadari kalau ada Dimas yang berdiri di belakang kursinya, memegangi kertas garapannya.
Alis Dimas nampak tertekuk tajam ketika membaca deretan tulisan ceker ayam Camelia. "Apa ini? Ini bukan soal pekerjaan."
Tuduhan itu membuat Camelia menelan ludahnya gugup. "I-itu... pak anu--" Aduh, bagaimana ia harus menjawabnya?
"Camelia--"
Tiba-tiba Camelia bangkit berhadapan dengan Dimas. "Ayo kita kencan!"
Dimas menurunkan kertas itu dari wajahnya, ekspresinya berubah-ubah; mulai dari terkejut, bingung dan geli. "Harusnya pihak pria yang mengajukan pertanyaan itu."
"Ah-- kelamaan nunggu bapak beraksi, bisa-bisa keburu es di kutub cair."
Dimas seperti ingin membantah ucapan Camelia, namun ia memilih untuk menelannya kembali. "Kamu terlalu banyak nonton drama."
"Heh-- emangnya kenapa?"
Dengan kertas terangkat tepat di depan wajah Camelia, Dimas menjawab. "Daftar ini persis seperti yang dilakukan pasangan muda yang dimabuk cinta."
Camelia dengan santai terkikik, "Iya emang sih, yang muda di sini 'kan cuman saya doang."
"Tidak habis-habisnya kamu bahas soal umur." desis Dimas di sela-sela giginya yang terkatup rapat.
Melihat aura gelap dari tubuh Dimas, membuat Camelia buru-buru menghentikan tawa konyolnya. "Ng-hehe... bercanda pak!"
Lalu tiba-tiba Dimas mengambil satu langkah lebih dekat pada Camelia hingga ia harus mundur selangkah. Namun meja kerjanya menghalanginya dan Camelia tak bisa berkutik dengan kedekatan ini. Astaga, sensasinya sama seperti saat ia dihimpit di rumahnya --tepatnya di garasi (baca: showroom), namun debaran itu lebih kuat karena ia tahu ada rasa yang mulai tumbuh di hatinya akibat benih cinta yang ditanam duren super hawt ini.
"Kamu tahu, Camelia... mas juga bisa berlaku seperti anak muda seusia kamu dan melakukan sesuatu yang liar yang bisa membuat bungkam mulut ceriwis kamu." bisiknya seduktif sambil membelai wajah Camelia dari mulai pelipis hingga ke rahangnya.
"P-pa-- mas... jangan."
No... dede masih polos, belum siap diajakin naena sama abang yang sudah berpengalaman ini.
"Kenapa? Di sini hanya ada kita berdua." kata-kata Dimas begitu membuai dan menggoyahkan pertahanan Camelia.
Camelia gelisah bukan main, ia ingin menyingkirkan tubuh Dimas dan berpikir untuk mendorong dada bidang itu. Namun ia tidak bisa menjamin bisa melakukan hal itu. Nanti bukannya mendorong jauh-jauh malah menarik hingga menempel sempurna di tubuhnya tanpa menyisakan jejak. Hanya dengan membayangkannya saja membuat Camelia panas dingin.
"Mas... berhenti." cicit Camelia lemah saat hidung bangir Dimas menyapu lembut belakang telinga hingga lehernya.
Dimas melakukan apa yang diminta Camelia, ia menjauh dari area sensitif wanita itu namun sebagai gantinya malah kini wajah tampan dewasa-nya berada tepat di depan wajah Camelia. Wajah itu kian mendekat menghapus jarak yang ada dan mata itu menggelepar tertutup yang otomatis diikuti juga oleh Camelia.
Dede pasrah, Ya Allah.
Dan... serangan yang ditunggunya ternyata malah mendarat di keningnya. Ia kebingungan --masih dalam keadaan merem-- namun tak menolak kecupan yang terasa um... manis dan penuh cinta? Ah benarkah perasaan ini?
"Mas sayang kamu, Camelia."
🌸🌸🌸
Senyum sumringah tak mau lepas dari wajah Camelia. Binar kebahagiaan terpampang nyata di wajahnya. Ia berjalan dengan langkah ringan sambil bersenandung pelan menyanyikan lagu cinta.
"Ciee yang lagi happy."
Camelia terlonjak dan buru-buru melepas air pod-nya, lalu menyimpannya ke dalam saku. "Bang Io!"
"Punya kabar baik apa nih?"
Camelia tak menjawab, malah senyam-senyum tak jelas mengundang tanya. "Gak kok, emang tiap hari aku kayak gini."
"Tiap hari kalo lagi anteng-antengnya sama si doi."
"Ih, apaan sih bang." elak Camelia dengan wajah merona yang tak mampu disembunyikan.
"Kayaknya abang musti siapin jas buat nikahan dede Ia."
"Bang!" tegur Camelia karena orang-orang sekitar mungkin akan mendengar kata-katanya.
Tio malah tergelak dengan tawa yang menggetarkan seisi bangunan melihat ekspresi Camelia yang terlihat malu-malu menggemaskan. Pantas saja tak butuh waktu lama bagi Dimas untuk ke-sengsem pada pesona Camelia Gianti Wardana.
Melihat Tio yang masih asik tertawa puas mengolok-oloknya, akhirnya Camelia memilih untuk beranjak karena malu menjadi perhatian orang-orang yang hilir mudik.
Di pintu kaca yang mengarah pada taman mini, ia melihat Dimas membelakangi kaca dengan ponsel di telinga. Camelia terhenti sambil mengawasi punggung tegap yang nampak indah jika dilihat dari belakang. Apalagi cahaya matahari sore yang menimpa membuat siluet Dimas lebih mempesona dan membuat rambut hitam tebalnya terlihat berkilau tertimpa cahaya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Astaga, tak akan pernah puas ia mengagumi setiap bentuk keindahan yang ada pada diri Dimas Angkasa --seperti namanya, pria itu telah menerbangkannya hingga ke angkasa dengan perasaan berbunga-bunga.
"Aku juga sayang kamu, mas." bisik Camelia sebagai balasan untuk Dimas.
🌸🌸🌸
Numpang nanya!
Kalian memvisualkan tokoh di CB jadi siapa? Ada yang mau rekomenin aku siapa aja orangnya? TySm~