--Follow penulisnya, votement ceritanya
🌸🌸🌸
"Haru-san, kenapa kau ada disini?"
Haru menjawab dalam bahasa Jepang. "Hanya ingin liburan, Nando-san yang mengajak."
"Oh, bagaimana kabar galeri?"
"Ada kabar baik untukmu perihal galeri, dan ini akan menjadi obrolan yang sangat panjang." katanya dengan terang-terangan melirik Dimas.
Sekarang ini situasinya benar-benar tak mengenakan. Nayla dan Nando sekarang sudah berlalu entah kemana --tahu sendiri kalau sudah mulai cek-cok bakalan terjadi kehebohan. Dan sekarang menyisakan Camelia, Dimas serta Haru yang diliputi suasana canggung.
Camelia paham arti lirikan singkat itu jadinya ia menjelaskan. "Oh, perkenalkan. Dia Dimas, hm... paman aku."
Dari sudut matanya, ia mencoba mengukur reaksi Dimas saat dengan ringannya ia mengakui Dimas sebagai pamannya. Namun, Dimas tak menunjukan ekspresi apapun, tetap datar dan dingin. Semoga Dimas tidak paham dengan apa yang dikatakannya.
"Haru." sapa Haru sambil mengulurkan tangannya. Dimas menjabat sekilas tanpa ekspresi yang berarti. Sorot matanya pun tak terbaca membuat Camelia gusar.
Sekarang Camelia kebingungan mau membahas topik apa. Ia masih tidak enak pada Dimas yang pasti tersinggung karena ucapannya. Namun, ia tak mau mengakui di depan Haru kalau Dimas adalah calon suaminya. Apa katanya nanti melihat ia menikah dengan pria tua begini. Apa jangan-jangan... kau masih menyimpan rasa untuk Haru?! Ah tidak! Lagipula Haru tidak pernah menganggapnya lebih, ia hanya adik sekaligus rekan kerjanya. Salah dirinya sendiri yang kadang mudah 'baper' karena Haru.
"Bisakah kita membahasnya di tempat lain?"
Camelia refleks melirik Dimas yang masih tak bergeming. "Eng... itu--"
Haru dapat menangkap kegelisahan Camelia, jadinya ia mengangguk paham. "Maaf, kau pasti sedang sibuk ya?"
"Ah eh-- bu-bukan begitu-- bapak mau kemana?" tanyanya keheranan melihat Dimas bangkit.
"Saya pulang duluan." Ia berniat berbalik, namun kembali tertahan untuk mengeluarkan kunci mobil Camelia.
"Bawa aja, pak!" katanya sambil menahan tangan Dimas.
"Tidak usah. Saya naik ojeg saja. Tolong alamat rumah kamu." pintanya saat menyodorkan ponselnya.
Camelia menepis pelan. "Gak. Kalo gitu, kita pulang bareng aja."
Terdengar helaan nafas yang panjang dan berat. "Camelia, kita buat sederhana saja. Teman kamu sedang menunggu, pembicaraan ini tidak akan pernah selesai jika kamu tetap keras kepala."
"Bapak bilang apa? Saya keras kepala?! Bapak bisa bedain gak sih mana keras kepala mana peduli?!"
"Camelia, tolong rendahkan suara kamu." tegur Dimas dengab nada rendah.
"Kenapa? Bapak malu bawa-bawa saya?"
"Kenapa harus malu? Kamu berpakaian dengan benar dan tidak hilang akal, jadi kenapa harus malu?"
Camelia mendengus dengan wajah meremehkan, "Memang. Satu-satunya yang merasa malu disini itu adalah saya!"
Bibir Dimas nampak terkatup rapat membuat seutas garis tipis yang mengerikan. "Kamu... malu akan saya?"
"Iya!" pekik Camelia frustasi. "Saya malu jalan sama bapak! Saya kelihatan kayak ayam kampus yang nyari sambilan dengan ngerukin uang om-om, saya merasa menjadi wanita yang paling sial karena hanya bisa mendapatkan duda. Harusnya saya mendapatkan yang lebih baik dari bapak, sama-sama orisinil dan yang penting sama-sama saling mencinta bukan karena perjodohan paksa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Camelia Blooms [Completed]
Romansa[PART LENGKAP] Berawal dari pertemuan tak sengaja di satu musim semi hingga takdir terus bergulir membawa rangkaian kisah rumit yang tak terduga, menghadirkan tawa dan tangis disertai taburan rasa yang perlahan memekarkan cinta diantara dua insan ya...
![Camelia Blooms [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/215398433-64-k232858.jpg)