Sekarang hari minggu pagi. Sekitar pukul 6:00 pagi di hangar yang terletak di pinggiran kota Hawaii, di negara itu. Guanlin baru saja bangun dengan tubuh yang kaku. "Astaga, mengerikan tidur di sini di lantai yang keras," ujar Guanlin pada dirinya sendiri. Butuh sedikit tenaga, tapi akhirnya berhasil bangkit. "Aku tahu kau masih tidur temanku," ujar Guanlin pada Kyungsoo yang terikat dan tersumpal, yang telah diikat di kursi sepanjang malam. Guanlin kemudian memperhatikan bahwa ayahnya tidak ditemukan di mana pun.
Guanlin memutuskan untuk pergi memeriksa di luar. Dia menuju ke luar dan akhirnya menemukan ayahnya menyiapkan pesawat. "Bagus, kau sudah bangun," ujar Sehun. "Apakah Kyungsoo sudah bangun ?" tanya Sehun. "Tidak, dia masih tidur," balas Guanlin. "Kau tidak tidur ?" tanya Guanlin. "Yang bisa kupikirkan hanyalah mengeluarkan Kyungsoo dari sini sebelum hal lain terjadi," jawab Sehun. "Apakah pesawat sudah siap ?" tanya Guanlin. "Ya. Seharusnya sudah siap untuk pergi. Yang kita butuhkan sekarang adalah Kyungsoo," jawab Sehun.
Baik Sehun dan Guanlin kembali ke hangar. Mereka melihat bahwa Kyungsoo masih tidur. "Saatnya membangunkanmu putraku," ujar Sehun. "Guanlin, mengapa kau tidak mengambil lakban di bangku itu. Kita mungkin akan membutuhkannya lagi," tambah Sehun. Sementara Guanlin pergi mengambil lakban itu, Sehun mencoba membangunkan Kyungsoo, tapi tidak berhasil. "Kyungsoo. Kyungsoo," ujar Sehun sambil mengguncang remaja itu. Namun Kyungsoo tidak menanggapi. "Ayolah, ada apa denganmu ?" Sehun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Guanlin bergabung dengan Sehun dalam upaya membangunkan Kyungsoo. "Kyungsoo," ujar Guanlin. "Oh ya ampun. Apakah Kyungsoo terlihat baik-baik saja bagi ayah ?" tanya Guanlin. Sehun menatap Guanlin. "Maksudmu apa ?" tanya Sehun ketika dia mengembalikan fokusnya ke Kyungsoo. "Kyungsoo tidak kelihatan baik. Wajahnya terlihat pucat, dan ya ampun, sepertinya dia demam," balas Guanlin. "Tidak, Kyungsoo baik-baik saja. Dia hanya macam-macam lagi," jawab Sehun. Sehun menyentuh dahi Kyungsoo. "Kelihatannya agak hangat," tambah Sehun.
Sehun sekarang menjadi sedikit khawatir tentang Kyungsoo. "Astaga, aku benar-benar berharap dia tidak sakit," ujar Sehun. "Kita tidak memiliki obat untuk menangani anak yang sakit," tambah Sehun. "Ayo, kita harus membuat Kyungsoo bangun," beritahu Sehun pada Guanlin. Sehun mulai mengguncang Kyungsoo lagi. "Kyungsoo, Kyungsoo tolong bangun," ujar Sehun. Akhirnya, Kyungsoo mulai bangun. "Oh, terima kasih Tuhan. Kau membuatku khawatir," tambah Sehun. Kyungsoo hanya menatap penculiknya dan kemudian Guanlin. "Mmmppphhh," protes Kyungsoo di balik lakbannya.
Sehun ingin melepas lakban Kyungsoo, tapi berhenti. "Jika aku melepas lakbanmu, apakah kau berjanji untuk tidak berteriak minta tolong atau itu, berteriak padaku ?" tanya Sehun. Kyungsoo mengangguk. Sehun melepas lakban Kyungsoo. "Aku hanya melepas lakbanmu cukup lama untuk menjawab pertanyaanku," ujar Sehun. Kyungsoo menatap Sehun, bertanya-tanya apa pertanyaannya. "Kyungsoo, apakah kau merasa baik-baik saja. Apakah kau merasa sakit ?" tanya Sehun. "Aku mungkin merasa sedikit hangat atau sesuatu, tapi kupikir aku baik-baik saja," jawab Kyungsoo.
Sehun menggunakan tangannya untuk menghapus keringat di dahi Kyungsoo. "Apakah kau yakin itu saja ?" tanya Sehun. "Aku yakin. Kenapa ?" tanya Kyungsoo. "Yah, kami kesulitan membangunkanmu dan wajahmu memang terlihat sedikit pucat," balas Guanlin. "Oh tidak, aku baik-baik saja," Kyungsoo kembali meyakinkan Sehun dan Guanlin. "Baiklah kalau begitu. Kita harus segera pergi," ujar Sehun. "Kemana kau membawaku ?" tanya Kyungsoo. "Di suatu tempat di mana kau tidak akan ditemukan," jawab Sehun. Guanlin merobek sepotong lakban dan menempelkannya di mulut Kyungsoo. "Mmpphh," protes Kyungsoo.
Sehun memberdirikan Kyungsoo dan kemudian mengambil anak itu dan melempar anak itu ke bahunya. "Bawa lakbannya ?" tanya Sehun. "Sudah," jawab Guanlin. Sehun mengikuti Guanlin keluar pintu dan ke pesawat. "Bisakah kau membuka pintu ?" tanya Sehun. Guanlin membuka pintu dan Sehun meletakkan Kyungsoo di lantai. Remaja yang diikat itu diposisikan tepat di belakang kursi kokpit. Sehun masuk ke kursi pilot dan Guanlin masuk ke kursi tempat co-pilot. "Saatnya memulai ini," ujar Sehun.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wanted Son
FanfictionOriginal story by : @packerboy23 Kyungsoo kembali untuk cerita ketiga. Dan ya, mimpi buruk penculikan akan berlanjut untuk dirinya yang sekarang berusia 17 tahun. Anak yang malang. Seberapa banyak trauma yang bisa dialami seorang remaja, bukan? Dala...
