Chapter 31 : Rasa Sayang Persaudaraan

380 8 0
                                        

Sekarang jam 8 pagi pada hari sabtu. Jeon Kris secara mengejutkan tertidur sambil berputar-putar. Dia membuka matanya dan melihat jam. "8:00 pagi, astaga," ujar Kris sambil duduk. Kris sekarang duduk di tepi ranjang. Yang dia pikirkan hanyalah menyelamatkan saudaranya dari penculik lain. "Tunggulah Kyungsoo. Aku datang menjemputmu. Aku janji," ujar Kris pada dirinya sendiri.

Dia sekarang bertanya-tanya tentang detektif Yugyeom. Kris bangkit dan pergi melihat keluar jendela. Dia tidak melihat apa-apa. "Ayolah detektif, kau di mana ?" tanya Kris. Kris berjalan ke meja dan mengambil ponselnya. Dia akan menelepon Yugyeom ketika dia mendengar sebuah mobil parkir. Dia kemudian mendengar suara pintu mobil ditutup dan beberapa detik kemudian, Yugyeom ada di dalam dan berdiri di depannya. "Tolong katakan padaku kau punya kabar baik," ujar Kris. "Aku punya kabar baik," jawab Yugyeom sambil berjalan melewati Kris.

Yugyeom berbalik untuk menghadap Kris. "Kami mendapat ijin untuk menuju ke bandara," Yugyeom mengumumkan. "Bandara sekarang aman dan kita bisa menuju ke Hawaii," tambah Yugyeom. "Oh, terima kasih Tuhan," balas Kris. Kris pergi berkemas beberapa barang yang ada padanya. "Apakah kau ingat apa yang kita bicarakan tadi malam ?" tanya Yugyeom. "Jika kau mengacu pada rencana itu, ya aku ingat," jawab Kris. "Apa, apa menurutmu aku akan mengacaukan kesempatan kita menyelamatkan Kyungsoo ?" tanya Kris. "Kita perlu melakukan ini dengan benar dan aman," balas Yugyeom.

Kris sekarang siap. "Menurutmu berapa lama untuk terbang ke Hawaii ?" tanya Kris. "Penerbangan akan memakan waktu sekitar enam setengah jam," jawab Yugyeom. "Apakah kau siap ? Apakah kau siap untuk menyelamatkan Kyungsoo dan membawanya pulang ?" tanya Yugyeom. "Detektif, aku sudah lebih dari siap," balas Kris. "Kalau begitu, ayo berangkat. Kita harus mengejar penerbangan," balas Yugyeom. Detektif Yugyeom dan Kris meninggalkan persembunyian dan masuk ke mobil.

Setelah di dalam mobil, Yugyeom mengeluarkan info kontaknya. "Apa itu ?" tanya Kris. "Nama detektif yang akan kita temui di Hawaii," jawab Yugyeom. "Detektif Jihoon adalah teman lama sekolahku ketika dia berada di sini di Amerika," tambah Yugyeom. "Kau benar-benar berpikir itu ide yang bagus untuk melibatkan lebih banyak orang dalam hal ini ?" tanya Kris. "Ingat apa yang kukatakan, kita harus bermain aman," jawab Yugyeom. "Baiklah kalau begitu, kau memang detektif," jawab Kris. Yugyeom menyalakan mobil dan pergi, menuju bandara.

Di rumah di Hawaii, Sehun melihat keluar jendela dan melihat sesuatu yang aneh. Hujan. Sepertinya hari ini hujan di Hawaii. "Apa yang kau lihat ayah ?" tanya Guanlin ketika dia tiba di dapur. "Pagi nak. Sepertinya hari ini akan menjadi hari hujan," jawab Sehun. "Jadi, apa untuk sarapan ?" tanya Guanlin. "Hanya telur dan roti panggang yang membosankan," jawab Sehun. "Terdengar bagus untukku," jawab Guanlin sambil duduk di meja.

Sebelum Sehun menyajikan sarapan, dia memutuskan untuk berbicara dengan Guanlin tentang apa yang terjadi pada Sohyun. "Ayah, bisakah aku bertanya sesuatu padamu ?" tanya Guanlin. "Tentu, tapi pertama-tama aku perlu bicara denganmu mengenai sesuatu," jawab Sehun. "Oh baiklah, apa yang perlu kau bicarakan denganku ?" tanya Guanlin. "Sohyun," jawab Sehun. "Oh, apakah kau ingin aku mengambilkannya sarapan ?" tanya Guanlin. "Tidak," jawab Sehun. Sehun berhenti sejenak ketika dia berusaha untuk memberitahu putranya bahwa Sohyun terbunuh.

Sehun duduk di meja. Guanlin bisa melihat dia terganggu dengan apa yang perlu dia katakan padanya. "Katakan saja ayah," ujar Guanlin. Sehun menatap Guanlin. "Sohyun tidak lagi bersama kita," Sehun mengumumkan. "Maksudmu, kau membiarkannya pergi ?" tanya Guanlin. "Bukan seperti itu," jawab Sehun. "Tadi malam, aku menyuruh Minho membawa Sohyun," tambah Sehun. "Apa yang dilakukan Minho pada Sohyun ?" tanya Guanlin. Sehun menatap Guanlin. Guanlin sekarang merasakan sesuatu di perutnya. "Ya Tuhan. Kau membunuh Sohyun tadi malam, bukan ?" tanya Guanlin.

Sehun hanya menutupi wajahnya dengan tangannya. Guanlin bangkit dari tempat duduknya, jelas kesal. "Bagaimana kau bias ? Bagaimana kau bisa membunuhnya ?" tanya Guanlin dengan marah. Sehun bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus nak," jawab Sehun. "Omong kosong. Sohyun tidak bersalah dalam semua ini dan kau membunuhnya," balas Guanlin. "Kau membunuh nenek dan kau membunuh Sohyun. Siapa selanjutnya dalam daftarmu ? Aku," tambah Guanlin. "Guanlin, hentikan itu. Kau tahu aku tidak akan melukaimu," jawab Sehun. Guanlin hanya menggelengkan kepalanya dengan frustasi.

The Wanted SonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang