Ini hari minggu pagi dan suasana tenang di rumah di Hawaii. Lalu, suara pintu kulkas ditutup menyebabkan Sehun bergerak dari meja. Guanlin berjalan mendekat dengan sekaleng soda di tangannya dan dia duduk di kursi. "Ayah, apakah aku mendengarmu dengan benar ? Kau ingin menyerah dan menyerahkan Kyungsoo kembali ke Jeon ?" tanya Guanlin. "Kau mendengarku dengan benar nak. Itulah yang kukatakan," jawab Sehun. Guanlin mendapat ekspresi terkejut di wajahnya sambil menyesap soda.
Guanlin kemudian meneguk soda lagi. "Wow. Itu sangat menakjubkan. Aku tidak pernah melihatmu sebagai orang yang gampang menyerah," ujar Guanlin. Sehun memandang Guanlin dengan ekspresi marah di wajahnya. "Apa maksudmu dengan itu ?" tanya Sehun dengan marah. "Yah, pada dasarnya itulah yang kau lakukan, bukan ? Kau orang yang gampang menyerah," balas Guanlin. "Nak, kurasa kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini," jawab Sehun. "Tidak ayah, aku mengerti sekali," balas Guanlin. "Kyungsoo mengalami cobaan yang mengerikan. Kau merasa bersalah dan sekarang kau ingin menyerah," jawab Guanlin.
Sehun membanting tinjunya ke atas meja. "Aku menyerah karena aku gagal melindungi Kyungsoo dari perempuan jalang itu," ujar Sehun. "Ayah seperti apa aku jika aku tidak bisa melindunginya," tambah Sehun. "Kau menyerah karena kau merasa bersalah," balas Guanlin. "Tentu saja aku merasa bersalah. Seharusnya aku tidak meninggalkan Kyungsoo sendirian dengannya," jawab Sehun. "Katakan nak, apakah kau tidak merasa bersalah karena membantuku menculik Kyungsoo ?" tanya Sehun. "Tentu saja, tapi aku tidak akan menyerah," balas Guanlin. "Kau tahu kenapa begitu ? Itu karena yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri," jawab Sehun sambil bangkit dari kursi.
Guanlin bangkit dan mengikuti ayahnya ke ruang tamu. "Apa maksudmu ?" tanya Guanlin. "Kau tahu persis apa yang kumaksud," jawab Sehun. "Baik, mungkin itu benar, tapi itu tidak berarti aku tidak memikirkan orang lain, seperti Kyungsoo," balas Guanlin. "Percayalah padaku ayah ketika aku mengatakan ini padamu. Aku merasa sedih atas apa yang terjadi pada Kyungsoo dan aku merasa buruk karena membantumu menculiknya, tapi aku ingin menjalani hidupku sepenuhnya. Apakah ada yang salah dengan itu ?" tanya Guanlin. "Kurasa tidak, tapi aku tidak tahu apa hubungannya dengan aku yang ingin menyerah," jawab Sehun.
Sehun duduk di sofa. "Ayah, kau menyerah dan pergi ke polisi, aku akan masuk penjara juga," ujar Guanlin. "Aku akan menemukan cara untuk menjauhkanmu dari ini," jawab Sehun. "Tidak. Aku akan merasa bersalah mengetahui kau berada di penjara dan aku bebas berkeliaran," jawab Guanlin. "Ditambah lagi, itu juga berarti aku harus kembali hidup dengan ibu tersayang," tambah Guanlin. "Nak, kupikir lebih baik jika aku mengembalikan Kyungsoo ke Jeon Jungkook dan kemudian menyerahkan diriku ke polisi," jawab Sehun. "Ayah, kupikir kau membuat kesalahan besar," balas Guanlin.
Sehun bangkit dan mulai mondar-mandir. Guanlin menatap ayahnya, tahu dia tidak akan bisa mengubah pikirannya. "Lihat ayah, boleh aku bertanya sesuatu padamu ?" tanya Guanlin. Sehun berbalik dan menghadap putranya. "Apa yang perlu kau tanyakan padaku ?" tanya Sehun. "Bisakah kau berjanji padaku bahwa kau akan memikirkan hal ini dan tidak membuat keputusan gegabah ?" tanya Guanlin. "Nak..." ucapan Sehun terputus oleh Guanlin. "Berjanjilah padaku ayah. Berjanjilah padaku," balas Guanlin. Sehun berpikir sejenak. "Baik. Aku akan memikirkannya," jawab Sehun. "Terima kasih. Itu saja yang kuinginkan," balas Guanlin.
Guanlin sekarang bangkit dari sofa. "Aku akan berada di kamarku jika kau membutuhkan sesuatu," ujar Guanlin. "Baiklah nak," jawab Sehun. Sehun melihat Guanlin kembali ke kamarnya. Sehun kemudian pergi melihat keluar jendela. "Bagaimana aku bisa menepati janji itu untukmu, Guanlin ?" tanya Sehun. "Bagaimana aku bisa terus melakukan ini pada Kyungsoo, mengetahui apa yang baru saja dialami anak malang itu ?" tanya Sehun lagi. Sehun kemudian duduk di teras sambil berjuang untuk melakukan hal yang benar.
Sekarang sekitar jam 9:00 pagi di Mesa dimana Jeon Jungkook bersiap-siap untuk kebaktian gereja pagi. Irene masuk ke kamar dan melihat suaminya bersiap-siap. "Apa yang kau lakukan sayang ?" tanya Irene. "Aku sedang bersiap-siap untuk ke gereja. Kenapa kau tidak bersiap-siap ?" tanya Jungkook. "Aku tidak mengira kita akan pergi ke gereja," jawab Irene. Jungkook berjalan mendekati Irene. "Kurasa kita harus kembali ke rutinitas normal, bukan ?" tanya Jungkook. "Kurasa begitu, tapi..." ucapan Irene terputus ketika Jungkook menempatkan jarinya di mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wanted Son
FanfictionOriginal story by : @packerboy23 Kyungsoo kembali untuk cerita ketiga. Dan ya, mimpi buruk penculikan akan berlanjut untuk dirinya yang sekarang berusia 17 tahun. Anak yang malang. Seberapa banyak trauma yang bisa dialami seorang remaja, bukan? Dala...
