Malam Harinya Kean masih berdiam diri dikamar sejak pulang sekolah, ia tak makan ataupun meminum obatnya sama sekali membuat ia terasa lemas, bahkan dadanya sedikit nyeri, kakaknya jazikiel sama sekali tak memperdulikan nya, biasanya saat ia tak beranjak dari kamar satu jam saja jazikiel akan kalang kabut mengira ia sakit.
Jujur ia bingung, mengapa kakaknya Berubah, apakah ia tahu sesuatu? ah entah lah memikirkannya membuat kepala Kean berdenyut nyeri.
"KEAN KIEL TURUN DEK MAKAN" teriakan dari bawah menyadarkan kembali Kean, seolah menarik paksa Kean untuk kembali ke realita kehidupannya.
Ia beranjak dari ranjang, sedikit mencuci wajah pusatnya, memandangnya dicermin membuat Kean terkekeh pelan, disana di pipinya dan disudut bibirnya masih ada lukisan indah yang diberikan oleh sang kakak.
Tak mau Mengulur waktu ia pergi keluar kamar tak disangka ia keluar bersamaan dengan jazikiel, baru saja Kean tersenyum hendak menyapa namun Kiel terlebih dahulu melewati Kean membuat Kean tersenyum sendu.
Sesampainya di meja makan mereka duduk seperti biasa, tak ada pembicaraan seperti biasanya, namun mark heran sepertinya suasana disini terasa beda.
"Kalian kenapa?" pertanyaan terlontar dari mulut mark, ia memandang kedua adiknya, pertama tama ia memandang si tengah yang wajahnya seperti menyimpan beban lalu ia memandang si bungsu, disana Kean terlihat memprihatinkan, tatapan anak itu kosong, bibirnya pucat membuat mark sesegera mungkin memalingkan wajahnya agar ia tak melihat dunianya begitu menyedihkan.
"Nggak papa, Kiel ke atas dulu kak, ada proposal basket yang harus Kiel kerjain" Pamitnya setelah itu pergi meninggalkan meja makan tanpa menunggu jawaban dari sang kakak.
Mark menghela nafasnya pelan, ia hanya bisa memandang sendu Kean yang terlihat begitu menyedihkan atas kepergian kiel Ia bangkit dari duduknya lantas mark membawa langkahnya mendekati sang adik mengelus lembut surai kecoklatan milik si bungsu membuat sang empu menoleh "Ada apa? ayok cerita sama kakak" Ucap mark lembut hanya mampu di balas senyum sendu dari Kean ia menggeleng.
"Nggak ada apa apa kak, Kean ke atas dulu ya Kean capek, ah iya nanti kalo Kean kebangun Kean cici piringnya" Ucapnya lirih setengah memaksakan senyumnya.
"No, Kean gausah mikirin itu, kakak masih bisa nyuci piring Kean, Kakak tau Kean ada masalah, ada apa hm?" Lagi pertanyaan dilontarkan Oleh mark sekarang ia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Kean, menangkup pipi yang dulu gembul itu, sedikit terkejut atas luka memar yang berada di sudut pipi Kean, ia mengelus luka tersebut "Ini kenapa? ada hubungannya sama abang?"
"Ah enggak kok, tadi nggak sengaja kena meja" Alasan tak logis diberikan oleh Kean, jujur otaknya tak dapat lagi mencerna semua kejadian demi kejadian yang ia alami, ia lelah.
"Yaudah kalo Kean belum mau cerita Katanya mau ke kamar, nih diminum dulu obatnya" ia menyodorkan beberapa butir obat dan di Terima langsung oleh Kean, setelah meminumnya ia bangkit mengecup rahang dang kakak "Maafin Kean nyusahin" Ucapnya tanpa sadar air mata mengalir dari mata indahnya membuat ia terburu buru menghapusnya dan meninggalkan mark yang tengah Mencerna segalanya.
---------
Sedangkan dikamarnya Jazikiel tengah merenungkan semua nya semua perkataan yang di lontarkan oleh adik kelasnya itu, hingga atensi Kiel di alihkan oleh getaran yang berasal dari benda pipih miliknya
BadutAncol🤡
Bisa ketemu? Gue tau
lo ada masalah ayo cerita
20.01
√√
Gue masih pingin sendiri
20.01
√√
Oke kalo belom siap cerita
kita semua masih nunggu
20.02
√√
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkean || END ✓
Teen FictionEND TAHAP REVISI Dia Arkean rafasya Narendra anak bungsu dari 3 saudara, Hadirnya dianggap menjadi bencana bagi sang ayah, karna hadirnya ibunya meninggalkan ketiganya. Arkean si bungsu yang dijaga setengah mati oleh kedua kakaknya, Arkean si bungs...
