{FANFICTION}
Leia Joyneil adalah seorang dewi penjaga kedamaian di hutan tak terlihat bernama Aionios. Hutan yang tak bisa didatangi oleh bangsa manusia, yang begitu hijau dan damai. Kehidupan disana berjalan begitu tenang karena keberadaan Leia seb...
Hello... Ada yang nungguin ff ini? Maap otakku lagi ngadet 😂 Happy reading ^^
Leia berjalan menapaki rerumputan yang tampak jelas terdapat beberapa tempat yang habis terbakar. Matanya menyalang pada danau dihadapannya. Ia mengambil langkah mendekat hingga kini berada tepat di tepi danau. Leia tak mampu berkata-kata begitu mendapati suasana dihadapannya.
Air danau yang dulunya selalu terlihat jernih dan damai itu, kini berubah warna menjadi hitam pekat. Ternodai oleh darah para peri yang tertumpahkan saat mereka bertarung melawan para hybrid. Gadis itu mendongakkan kepala, menatap langit yang tampak begitu mendung. Seakan mengerti, ia tau jika petaka besar akan segera ia hadapi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan selena?"
Tanya Leia pada seekor bangau putih yang berada tepat di sebelahnya.
"Mereka menginginkannya."
Leia menundukkan kepala, menatap lekat pada Selena yang kini tengah menatapnya. Gadis itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan arah pembicaraan bangau itu. Leia terduduk, menyamakan posisinya dengan Selena.
"Apa? Apa yang mereka inginkan? Aionios?"
"Lebih dari itu."
"Apa maksudmu Selena? Jangan bertele-tele."
"Mereka menginginkanmu."
"Aku?"
"Mereka menginginkan kekuatanmu."
"Tapi aku bahkan tidak sekuat itu."
"Kau tidak mengenal dirimu dengan cukup baik."
Selena berbalik dan berjalan mendahului Leia yang membuat gadis itu semakin bingung karenanya. Ia pun bangkit dan berjalan mengikuti langkah Selena.
"Apa maksudmu? Coba jelaskan padaku. Mengapa mereka menginginkan kekuatanku?"
"Untuk membunuhnya, mereka membutuhkan kekuatanmu."
Sahut Selena yang menghentikan langkahnya. Leia berjalan mendekat hingga kini berada tepat dihadapan Selena.
"Membunuhnya? Siapa?"
"Sang pemimpin klan.."
Leia terdiam untuk beberapa saat, mencoba mencerna ucapan yang baru saja Selena ucapkan.
"Pemimpin klan.. maksudmu Ares? Tapi mengapa? Bukankah keberadaannya adalah pilar bagi mereka?"
"Selalu ada perebutan tahta dimanapun Leia. Kaum kita juga begitu sebelum ayahmu yang memegang kekuasaan."
Sahut Selena dan mengalihkan pandangannya pada danau yang berada tepat disampingnya.
"Karena itulah mereka membunuh para peri. Untuk menambah kekuatan mereka. Hingga suatu saat mereka memiliki cukup kekuatan untuk menentang Ares. Tentunya kekuatan terbesar yang ingin mereka dapatkan adalah kekuatanmu."
"Bagaimana bisa.."
"Leia.. Aku rasa sudah saatnya bagimu untuk mengetahui hal ini."
"Apa?"
Leia berlutut, kembali menyamakan posisinya dengan Selena. Menatap bangau itu dengan begitu lekat.
"Madelyne, ibumu... Apa kau tau siapa ibumu?"
Leia menggeleng pelan sembari mengerutkan keningnya. Ibu, sebuah kata yang begitu asing di telinga Leia. Selama 23 tahun hidupnya, ia tak pernah mengetahui ataupun memiliki kenangan sedikitpun dengan sang ibu. Karena Andrew, ayahnya melarang gadis itu untuk menanyakan perihal ibunya.
"Ibumu adalah seorang meigma."
"Meigma.."
Gumam Leia sembari menatap bingung pada Selena.
"Ia adalah anak keturunan dari manusia biasa dan vampire darah murni."
Leia membelalakkan matanya begitu mendengar lanjutan kalimat yang terucap dari Selena. Gadis itu bahkan jatuh terduduk kini. Ia menggeleng pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tidak mungkin.."
"Karena ibumu memiliki darah vampire murni dan ia menikahi ayahmu yang seorang dewa penguasa hutan Aionios, lalu lahirlah dirimu. Seorang dewi yang memiliki gen vampire darah murni mengalir di tubuhnya. Itulah alasan terkuat mereka untuk mengincarmu."
"Bagaimana bisa.."
"Madelyne sudah tiada kini Leia. Dan jasadnya tidak pernah di kubur. Ayahmu khawatir para hybridakan menyalahgunakannya."
"Dimana.. Dimana ayah menyembunyikan jasad ibuku?"
"Desa Neraida, tempat dimana kau akan menemukan jiwa yang hilang."
"Sebenarnya apa jiwa yang hilang itu?"
"Itu adalah separuh kekuatan ibumu yang masih tersisa. Kau harus menyempurnakan kekuatanmu dengan cara menyatukannya bersama batu permata itu. Sebelum batas bulan biru tiba."
Sahut Selena dan berlalu meninggalkan Leia yang masih terdiam pada posisinya. Tak lama, Eriana muncul tepat disamping Leia. Mengulurkan kedua tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Leia menerima uluran tangan Eriana dan menatapnya dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa nona?"
"Kita harus ke desa Neraida. Sekarang juga."
Pinta Leia dengan penuh keyakinan dan Eriana hanya menanggapinya dengan anggukan pelan.
~~~
Cameo :
Mendiang Sulli as Madelyne
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.