"Apa kabarmu.. gadis kecil?"
"Apa maumu?"
Tanya Leia dengan wajah datarnya saat berada tepat dihadapan Jay. Seulas senyum tersungging di bibir pria itu dan melangkah mendahului Leia.
"Dingin sekali. Apa kau masih menaruh dendam padaku?"
"Jika tak ada hal lain yang ingin kau katakan, sebaiknya segera pergi. Disini bukan tempat bagimu untuk bermain-main Jay."
Leia berbalik dan hendak melangkah menjauh namun tawa sarkas Jay membuat langkahnya terhenti.
"Beginikah caramu menyambut tamu? Aku bahkan baru mengucapkan salam dan kau sudah membelakangiku. Kau tak seharusnya membelakangi musuhmu seperti ini Leia Joyniel."
Leia terbelalak begitu mendengar perubahan nada milik Jay. Ia berbalik dan disaat yang bersamaan Jay telah berada tepat dihadapannya dan mencengkram kerah pakaian Leia. Pria itu kembali tersenyum menampilkan lesung pipinya yang menawan.
"Ho? Lihat? Dewi pelindung Aionios sungguh ceroboh."
Bukannya takut, Leia semakin menantang pria itu dengan mengangkat dagunya tampak begitu angkuh. Ia memegangi kedua tangan Jay dan melepasnya perlahan. Menarik kasar dasi yang pria itu kenakan hingga membuat jarak wajah mereka begitu dekat.
"Aku bukan anak kecil lagi. Kau tak akan bisa menggertakku dengan permainan murahan seperti yang baru saja kau lakukan."
Ucap Leia kembali mendorong Jay menjauh. Gadis itu pun berbalik dan melangkah menjauh sementara Jay kembali tersenyum menampilkan smirk-nya.
"Senang bertemu denganmu lagi, keponakanku."
Gumam Jay nyaris tak terdengar. Disaat yang bersamaan, Juno muncul tepat di belakang Jay.
"Ada apa?"
"John dan Tan beberapa hari yang lalu mendatangi perpustakaan milik keluarga anda."
"Alberto's library?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Mereka menyelidiki mengenai seseorang bernama Madelyne?"
Kedua alis Jay terangkat dan kening pria itu berkerut namun tak lama setelahnya ia kembali tersenyum.
"Ho? Sesuatu yang menarik akan segera terjadi."
"Apa maksud anda?"
"Dua orang bodoh itu, aku ingin mempermainkan mereka."
"Apa anda akan melakukan trik yang sama seperti yang telah anda lakukan tiga tahun yang lalu?"
"Apa maksudmu trik yang sama? Aku bahkan belum memainkan peranku saat itu."
Juno hanya terdiam mendengar pernyataan Jay sementara pria itu berbalik dengan senyum manisnya kini.
"Saat itu mereka bertindak sesuai dengan skenarioku tanpa perlu aku arahkan. Dan sekarang saat bagiku untuk bertindak layaknya seorang sutradara."
"Apa yang akan anda lakukan?"
"Aku mengurungkan niatku untuk menghabisi Andrew. Itu tidak akan menyenangkan. Ah aku juga tak akan membunuh pemimpin kita yang angkuh dengan begitu mudah."
"Lalu?"
Jay melangkah dan mendekatkan wajahnya ke telinga Juno kemudian menepuk ringan bahu pria itu.
"Kau tau mengapa sebuah drama menjadi menarik untuk di tonton? Karena ada konflik di dalamnya."
"Ya?"
"Akan sangat menyenangkan melihat dua orang yang saling mencintai berubah menjadi dua orang yang saling ingin membunuh."
"Anda.."
"Membunuh Leia dihadapan Ares hanya akan memberi sedikit penderitaan baginya."
"Tetapi ini bukan tujuan utama anda."
"Oh ayolah Juno. Untuk menggapai impianmu, terkadang kau perlu beristirahat dan bermain sejenak."
Sahut pria itu dan berjalan mendahului Juno yang masih terdiam pada posisinya.
-
"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?"
Tanya Leia yang kini memasuki kamar milik Ares tanpa permisi. Sementara sang pemilik kamar tampak sedikit terkejut karena pria itu saat ini hendak mengenakan kemeja miliknya. Dengan menghela nafas pelan, Ares kembali melanjutkan kegiatannya mengenakan pakaian.
"Bisakah kau meminta ijin terlebih dahulu sebelum masuk kamarku?"
"Apa kau merasa malu saat ini pak tua? Oh ayolah tak ada yang menarik dari tubuhmu. Aku sudah melihat semuanya."
"Berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Sejujurnya wajahku terlihat lebih muda dari wajahmu."
Ucap Ares namun Leia hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu.
"Jadi bagaimana? Apakah kau sudah mengetahui mengenai ibuku?"
"Ibumu adalah keturunan keluarga Alberto. Dalam silsilah keluarga Alberto hanya ada dua orang yang merupakan vampire darah murni. Kakek dan ibumu."
"Jadi?"
"Hanya ini yang aku ketahui. Tidak ada yang tau penyebab kematian ibumu. Itu tidak tertera di sejarah keluarga Alberto."
Terdengar helaan nafas pelan milik Leia dan ia pun kembali bangkit dari duduknya.
"Terima kasih."
"Sekarang tepati janjimu."
Langkah Leia terhenti dan ia berbalik menatap Ares penuh tanya. Pandangan pria itu yang sedari tadi memandang jendela kini beralih menatap Leia.
"Kau telah berjanji untuk kembali padaku. Maka kembalilah."
~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eternity [END]
Fanfiction{FANFICTION} Leia Joyneil adalah seorang dewi penjaga kedamaian di hutan tak terlihat bernama Aionios. Hutan yang tak bisa didatangi oleh bangsa manusia, yang begitu hijau dan damai. Kehidupan disana berjalan begitu tenang karena keberadaan Leia seb...
![The Eternity [END]](https://img.wattpad.com/cover/232538266-64-k960620.jpg)