{FANFICTION}
Leia Joyneil adalah seorang dewi penjaga kedamaian di hutan tak terlihat bernama Aionios. Hutan yang tak bisa didatangi oleh bangsa manusia, yang begitu hijau dan damai. Kehidupan disana berjalan begitu tenang karena keberadaan Leia seb...
Jay berjalan memasuki sebuah lorong gelap. Pria itu menjentikkan jarinya dan menyalakan beberapa lilin di tiap sudut ruangan. Ia berjongkok dan memandangi sosok Krys yang tampak semakin melemah.
"Ck. Ini tidak seru. Mengapa kau tak bertenaga begini? Apa kalian menyiksanya secara berlebihan?"
"Tidak tuan. Kami hanya berjaga dan tak melakukan apapun."
"Benarkah?"
Sahut Jay kembali menatap Krys. Pria itu mendudukkan sosok lemah itu dan membelai wajahnya.
"Sayang sekali, aku berubah pikiran. Aku tak akan menyisakanmu hingga akhir permainan. Terima kasih banyak atas kontribusimu selama ini."
"Apa yang akan anda lakukan tuan?"
"Apa lagi? Tentu saja mengakhiri penderitaannya."
Sahut Jay tersenyum penuh arti.
-
Leia berlari keluar dari kediamannya. Tampak jelas gurat kekhawatiran di wajah gadis itu. Tak jauh di belakangnya, Wanda dan Eriana berlari berusaha menyamakan langkah sang dewi. Hingga kini mereka tiba di tengah hutan dimana terdapat beberapa peri dan makhluk penghuni Aionios lainnya.
Pandangan Leia terfokus pada sesosok yang kini tergeletak tak berdaya diatas rerumputan. Dengan langkah gontai, Leia perlahan mendekat. Berlutut di sisi kanan tubuh itu.
"Krys.."
Kedua tangan Leia mengepal kuat dengan matanya yang memerah menahan amarah. Sementara Eriana dan Wanda hanya dapat diam mematung dengan raut kesedihan yang tampak jelas di wajah mereka.
"Kami menemukan tanaman ini berada dalam genggaman Krys."
Ujar Eirene yang menyamakan posisinya dengan Leia. Gadis itu pun menoleh dan menatap dengan seksama tumbuhan yang berada dalam genggaman Eirene. Seketika sepasang mata itu terbelalak.
"Tumbuhan ini.."
"Anda benar. Ini adalah tumbuhan liar yang hanya tumbuh di perbatasan desa Neraida."
"Jay.."
Leia bangkit dengan amarah yang memuncak di hati gadis itu. Saat ia hendak melangkah, sebuah genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Leia.
"Kau mau kemana?"
Tanya Andrew yang entah sejak kapan telah berada di dekat anaknya.
"Biarkan aku pergi ayah."
"Jangan berbuat sembrono nak."
"Aku tak akan mengampuninya. Tak akan pernah kumaafkan."
Ucap Leia menghempas kasar genggamannya.
"Nona Leia, tuan Ares mengutus kami untuk menjaga Aionios."
John dan Tan yang muncul tepat dihadapannya kembali membuat langkah Leia terhenti.
"Bagus. Tolong jaga mereka."
"Anda akan kemana?"
"Turuti saja perkataanku dan jangan banyak bertanya."
Ujar Leia dan hilang begitu saja.
"Apa yang harus kami lakukan dewa Andrew?"
Tanya Eriana dan Wanda berjalan mendekat.
"Pertama, mari kita siapkan pemakaman yang layak untuk Krys."
"Baik."
"Tapi tuan.. Mereka.."
Salah seorang peri mnginterupsi pembicaraan mereka dan mengalihkan pandangannya pada John dan Tan. Mengerti dengan kekhawatiran kaumnya, Andrew pun tersenyum.
"Mereka ada di pihak kita. Tak perlu khawatir."
Ujar pria paruh baya itu meyakinkan.
-
Angin yang berhembus begitu kencang membuat beberapa kawanan hybridpanjaga mengambil posisi siaga. Tak lama kehadiran sosok Leia mencuri perhatian mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dimana tuan kalian?"
Tanya Leia dengan tatapannya yang begitu tajam. Tak mengindahkan pertanyaan gadis itu, para hybridpun bergegas untuk menyerangnya. Mereka tak sadar dengan siapa mereka berhadapan saat ini. Hanya dengan sekali hempasan tangan, beberapa hybridterlempar jauh.
"Tidak ingin memberitahu? Maka biarkan aku yang mencarinya sendiri."
Ucapnya dan melanjutkan langkahnya. Melewati Dry dan Sam yang hanya terdiam di tempat.
Dilain tempat, Ares menginjakkan kakinya di Aionios bersama dengan Max. Pria itu berjalan menghampiri Eirene yang menyadari kehadirannya.
"Dimana Leia?"
"Dia pergi mencari keberadaan Jay."
"Apa?"
Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Ares.
"Kalian membiarkannya pergi seorang diri?"
"Leia melarang kami untuk mendampingi."
"Sial!"
Umpat pria itu sebelum berlalu pergi diikuti Max dibelakangnya.