28

262 66 8
                                        

"Oh? Lihat Juno! Kita memiliki tamu tak diundang."

Ucap Jay yang kini keluar dari tempatnya. Mendekati Leia, sang dewi dengan amarahnya yang tak terkontrol. Gadis itu meraih suatu benda dari dalam pakaiannya kemudian mengalungkan di leher jenjangnya. Jiwa yang hilang, adalah liontin berisi sisa-sisa kekuatan Madelyne yang Krys tampung di dalam permata berwarna biru menggoda itu.

"Kau datang seorang diri gadis kecil? Betapa cerobohnya."

"Mari kita lihat. Apakah aku memang se ceroboh itu."

"Jangan ikut campur Juno. Ini bukan urusanmu."

Ujar Jay sembari melepas arloji miliknya dan menyerahkannya pada Juno. Pria itu pun mengikuti titah pemimpinnya. Ia mengambil beberapa langkah mundur dan mengamati perkelahian yang tak dapat dihindari.

Hembusan angin yang begitu kencang membuat Jeno harus berpegangan pada pepohonan jika pria itu tak ingin terhempas. Beda halnya dengan Jay yang tersenyum dengan tatapannya yang begitu takjub.

"Jadi ini? Kekuatanmu yang sebenarnya Leia?"

Tak berniat menjawab, dengan cepat gadis itu kini telah berada tepat dihadapan Jay membuat pria itu tersontak kaget. Leia memukul kuat bagian perut Jay membuatnya terpelanting cukup jauh.

Bukannya rintihan suara yang terdengar, Jay justru tertawa dan bertepuk tangan.

"Tidak buruk juga."

"Aku anggap itu sebagai pujian Jay."

"Tidak. Kau salah. Aku sedang merendahkanmu, keponakanku."

"Keponakan?"

Saat Leia tengah lengah, Jay mengambil kesempatan untuk berada lebih dekat dengannya. Membuat gadis itu tak memiliki kesempatan untuk mengelak. Jay mencekik lehernya dan mendorong kasar hingga menghimpit tubuh gadis itu di pepohonan.

"Apa Ares tak mengatakannya padamu? Bahwa kau adalah keponakanku?"

Sepasang mata gadis itu membulat sempurna. Ia menendang kasar tubuh pria itu membuat cengkraman Jay di lehernya terlepas. Leia memegangi lehernya yang terasa sakit.

"Apa maksud ini semua Jay?"

"Tidakkah kau sudah mencari tau garis keturunanku? Max adalah pamanku Leia. Dengan kata lain kau adalah keponakanku."

"Omong kosong. Aku tak ingin memiliki paman sepertimu."

Geram Leia dan kembali melayangkan serangan-serangannya. Begitu pula dengan Jay yang menangkis dan sesekali menyerang gadis itu. Bersamaan dengan itu, Ares dan Max baru saja tiba. Keduanya memandang takjub pada pemandangan dihadapannya.

"Ia adalah Leia?"

Tanya Max ragu yang diangguki oleh Ares.

"Kau mengencani wanita seperti itu?"

"Ia adalah cucumu Max."

Sahut Ares yang berjalan lebih dulu. Saat Max hendak menyusul, Juno telah lebih dulu menghalangi langkahnya.

"Minggir."

"Tidak. Sampai tuan Jay memberiku perintah."

"Kerja bagus Juno."

Suara Jay dari kejauhan membuat keduanya menoleh. Max menghela nafas pelan sembari memijit pelipisnya.

Sama halnya dengan Max, Ares juga mendapatkan penghalangnya sendiri. Sam dan Dry telah berada dihadapannya saat ini.

"Sial."

Umpat pria itu sebelum akhirnya membalas serangan-serangan yang ditujukan kepadanya.

Disisi lain, pertarungan sengit antara Jay dan Leia masih berlangsung. Walau keduanya sama-sama kewalahan karena mengeluarkan kekuatan secara maksimal.

"Menyerahlah Leia. Kau bukan tandinganku."

"Hei pak tua, kau pikir aku akan mengampunimu? Setelah apa yang kau lakukan pada Krys?"

"Krys? Ah jadi karna inikah kau membabi buta seperti ini? Menarik."

Senyum miring menghiasi wajah dingin pria itu. Membuat Leia semakin merasa muak. Ia kembali bergerak maju dan melayangkan serangan bertubi-tubi.

Karena amarahnya yang begitu membara membuat gadis itu tak bisa berpikiran jernih dan cenderung melakukan pergerakan-pergerakan ceroboh yang dapat merugikannya.

Jay berhasil membalik keadaan. Ia melayangkan pukulannya pada titik vital Leia membuat gadis itu merintih kesakitan dan terpelanting cukup jauh.

Saat Jay hendak melayangkan serangan penutupnya, Ares berada tepat dihadapannya. Membuat Leia yang mendongak membelalakkan matanya.

"ARES!!"

~~~

The Eternity [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang