bagian 8

1.8K 59 0
                                        

Dua hari dari kejadian malam itu, sikap Langit semakin dingin dan jutek sama Mega. Mega memang belum sempat menjelaskan apapun tentang kejadian sebenarnya, dia terlalu takut bila salah dalam pengungkapan.

Lintang juga Awan diajak Omanya untuk menginap, tetapi Mega tidak diijinkan untuk ikut ataupun pulang, oleh Salma. Canggung, itu yang terasa bagi Mega. Apalagi tidak ada pekerjaan karna tidak adanya anak-anak di rumah.

Melihat Langit ke atas, Mega berinisiatif mengikuti, dia benar-benar tak bisa jika harus dimusuhi, apalagi menyangkut sesuatu yang buksn salahnya.

Membuka pintu kamar Langit setelah beberapa kali mengetuk tidak mendapat jawaban, dia masuk dan,
"Aaaaaaaaa!!!!!!!" Menutup kedua tangannya saat melihat hal yang sungguh tak bermoral didepannya. Ingin sekali Mega berlari keluar dari kamar Langit, tapi tak bisa. Langit mencekal kedua tangannya dan melempar tubuh Mega keatas ranjang tempat tidurnya.

"Lepasin Om!" Berontaknya pun tak ada hasilnya. Tenaga kalah kuat dibanding Langit, Mega pasrah dibawah kungkungan tubuh kekar Langit.

"Di rumah ini hanya ada kita berdua, jadi kita bebas berbuat apapun," menciumi Mega tanpa ampun. "Bukankah ini yang seharusnya terjadi?"

Ketakutan Mega memuncak saat Langit sudah bersiap dengan perabotnya yang ingin menorobos. "Mami, Papi maafin Mega yang gak bisa jaga diri hikss."

"Bangun! Bangun! Dasar kebo!"

Membuka matanya dan beringsut ke belakang saat mendapati Langit tepat di hadapannya. "Om mau perkosa aku lagi?"

Mengerutkan kening, dia bingung.  'Apa yang dikatakan bocah ingusan itu? Perkosa dia lagi katanya? Gila! Dasar bocah sinting.'
"Apa kamu pikir, kamu semenarik itu sehingga saya sampai merkosa kamu? Jangan mimpi bocah!" Mendengus tak terima tuduhan yang dilontarkan babysitter itu padanya.

"Tapi Om, tadi udah ngeluarin 'itunya' terus main mau colok-colok aja." Karna dia masih sangat mengingatnya dengan jelas, dan tangisnya makin mengudara saat Langit kembali menyangkalnya.

'Ya Tuhan! Salah apa sih aku ini, sampe harus punya babysitter gila seperti bocah itu?' Menyugar rambutnya ke belakang, dia bingung harus bagaimana cara menenangkan gadis bodoh itu.

"Saya masih waras, untuk tidak akan pernah tertarik, walau seujung kuku pun sama bocah kayak kamu!" Litikan sinis ia tujukan pada Mega yang masih menangis sesenggukan. Oh, lihatlah! Betapa joroknya dia menagis pun bukan hanya air mata yang keluar, tetapi juga ingus. Yang benar saja dia menyukai bocah modrl begitu? Sepertinya tawaran Vino lebih baik, daripada harus terjebsk bersama Mega. Menyunghinhkan senyum penuh ejekan pada gadis itu, seolah Langit telah memenangkan sebuah perdebatan.

"Makanya Om, kalau emang Om itu beneran cinta sama Mega, buruan halalin, jangan main colok-colok aja! Mega mau banget jadi istrinya Om, tapi bukan kayak gini caranya!" Melotot marah, campur kecewa terlihat jelas di mata bilat itu.

"Terserah bocah bodoh! Makanya kalau mau tidut tuh berdo'a biar gak di datengin setan dalam tidurnya!"

'Tidur, Jadi?

Oh, astaga! Ah, udah terlanjur ini. Masa iya mau ngaku kalo cuma kebawa mimpi? Yang ada bakal dihina abis-abisan. Mending pura-pura gak sadar ajalah, kalo yang tadi cuma mimpi.'

"Kenapa? Udah inget?" Mencondongkan kepala agak ke bawah manatap mata bulat Mega, dan memastikan adanya kejujuran di sana.

"Lagian kamu terlalu membayangkan tentang hal-hal yang jorok pasti sana saya?"

Secepat kilat, Mega menggeleng,"Inget apa lagi coba? Ya jelaslah gak mungkin aku lupain tindak asusila Om Erlan sama aku! Pokoknya kudu tanggung jawab! Titik!" Ia masih kukuh dengan argumennya, sebab fia tak ingin malu kalau ketauan sudah inget, bahwa yang diperdebatkan cuma mimpi.

"Om Langit, Mega beneran cinta sama Om, walaupun usia kita terpaut jauh, gak masalah kok."

Degh!

'Langit?

Senja? Selama ini yang memanggilnya Langit cuma Senja seorang, lalu gadis gila ini.'

Flashback on!
Mas Langit, Mas gak akan ninggalin Senja kan, setelah kuterima cintanya Mas?' Menatap pemilik manik abu, yang selama bertahun-tahun mengejarnya dan tanpa kepastian darinya itu.

'Mas gak akan ninggalin kamu sayang. Kamu cinta pertama dan cinta terakhir mas. Kamu akan menjadi ibu dari anak-anak mas, kita akan menua bersama.'

'Mas, mas tau gak, kenapa Senja lebih suka memanggilmu dengan nama Langit, dan bukan Erlan?' Senyum secerah mentari itu terbit dan tangannya mengulur mrmbelai rahang  Langit penuh sayang.

'Memang ada alasannya ? Hmmt?'

'Ada dong! Biar berkesan dan tidak menyamai mereka, yang memanggilmu dengan nama Erlan. Karna aku pemilik hatimu. Dan aku berharap kau juga pemilik hatiku mas."
Flashback off.

"Kenapa Langit?" Mencoba menatap dalam mata bulat itu, dan adakah sesuatu di sana yang bisa menarik sedikit rasa untuknya.

"Karna, Mega ingin menjadikan Om yang spesial di hati Mega, begitu juga dengan Om Langit, yang Mega harap bisa menjadikan Mega sosok spesial di hati Om." Mega tak mampu menahan laju air matanya, saat mengucapkan hal tersebut.

Ada rasa asing, yang menyerbu pertahanan kokohnya hati Langit. Dia tak ingin terperosok rasa pada pada gadis ingusan tersebut. Dan tentunya tak ingin mengkhianati Senjanya, buktinya selama tujuh tahun setengah ini, dia mampu membentengi diri. Tanpa menyentuh wanita manapun secara fisik maupun perasaan. Jadi tidak akan munhkin, cuma dengan bocah ingusan seperti Mega mampu menempati ruang hatinya, yang sudah terisi penuh oleh Senja Lutfiana. Satu-satunya wanita yang mampu mengeluarkan air mata, wanita yang telah melahirka dua zuriatnya sekaligus di ujung usianya. Apakah pantas jika dia harus di khianati dengan bocah yang jauh berbeda dengan sosok sempurna seperti Senja. Sempurna memenuhi kriterianya sebagai seorang istri.

"Kamu jangan bersikap seperti jalang, saya tidak skan mrnyukai kamu. Walau sampai kapanpun. Setelahnya dia melangkah pergi meninggalkan Mega, yang dia tau wajahnya pasi.

Mega tak menyangka, kata-kata kejam itu akan keluar dari bibir pria yang begitu di pujanya. Setelah mengungkapkan semua perasaannya kenapa justru ini yang didapatnya?
Mega menyerah, dan Mega tau dia telah kalah. Kalah sebelum peperangan dimulai. Rasa yang tadinya menggebu, dalam sekejap berubah menjadi benci.

Melangkah pergi, meninggalkan segala kebodohan yang menjerat, karna cinta konyol pada pria yang jauh lebih tua darinya. Pergi yang tak ingin dirinya merasakan sakit seperti ini lagi, benar katanya. Dia ini gadis bodoh, jalang yang tak tau malu mencintai pria sempurna seperti Langit.

Hari ini, Cinta pertama itu akan segera ditanggalkannya. Sakit, satu kata yang berhasil mrnyadarkan krgilaan Mega.

Tbc.

❤❤❤





Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang