Langit segera mengemas barang-barang yang perlu dibawa, walau sebenarnya ini sulit, tapi dia lakukan untuk orang yang benar-benar berarti baginya, demi kesembuhannya, demi kebahagiaannya dan demi rasa nyaman istrinya. Dia dan keluarganya berangkat setelah menyelesaikan gugatan cerai pada Mega, hal yang tidak pernah terbesit dalam benak pria 29 tahun itu.
"Pa, Lintang nggak mau pergi, Lintang mau sama Mami, Lintang udah kangen sama Mami." Ucapan gadis kecil itu membuat mereka yang mendengarkan tertegun.
"Mami nanti akan menyusul kita Nak, Mami bilang, kita harus berangkat duluan. Langit menahan, agar air matanya tidak jatuh ke pipi, meski dadanya berdentam tak karuan, perpisahan ini, bukan sekedar perpisahan sementara, karna ini merupakan perpisahan yang memutuskan ikatan suami istri, dan Langit membenci itu.
"Tapi Papa harus bilang sama Mami, jangan lama-lama nyusulnya, kita udah kangen." Awan menyahut tanpa melihat ke arah sang Papa, karna fokusnya masih setia pada layar persegi yang berada dalam genggamannya.
"Baiklah." Sepenggal kata itu yang mampu Langit ucap, dia tidak ingin terlalu banyak bicara, karna itu pasti akan memancing dirinya untuk banyak berdusta, dan memberi harapan kosong pada anak-anaknya.
Salma mendengar apa yang mereka ucapkan, hanya mampu menghapus air mata dalam diam. Suaranya tercekat di tenggorokan, sebenarnya dia tidak ingin memaafkan Langit, seperti apa yang keluarga Mega lakukan, tapi biar bagaimanapun, putranya tidak sepenuhnya salah, putranya juga turut menjadi korban. Walau dia tahu, semua terjadi karna kebodohan dari putranya juga.
Mendekat ke arah sang putra, Salma mengusap punggungnya, menyalurkan sebuah kekuatan, sebab dia tahu, saat ini putranya benar-benar sedang berada di titik terendah tingkat kepercayaan dirinya, juga pada semangat hidupnya. Wanita paruh baya itu hanya mampu menyesal, kenapa dahulu dia bisa memiliki niat untuk menjodohkan Langit dengan perempuan iblis itu, dia tidak tahu jika hal itu yang telah mengantar menantu dan cucunya pada jurang kematian, dan berakhir dengan perceraian. Di sini dialah yang paling bersalah, dialah yang menciptakan segala kekisruhan itu, dia pula yang telah menciptakan neraka pada rumah tangga putranya.
"Ayolah, kita harus segera berangkat ke Bandara." Langit berucap demikian karna melihat ibu dan putra-putrinya seperti ogah-ogahan untuk pergi meninggalkan semua yang ada di sini.
****
Sepuluh hari semenjak kepergian menantunya, dan setelahnya anak mereka membuka mata, Raditama berpikir, putri mereka sadar karna Langit memutuskan pergi. Kemaren putri mereka memang selalu menanyakan suaminya, tapi di antara mereka semua, tidak ada yang menjawabnya, lebih tepatnya tidak mampu untuk menjawabnya. Hingga ketukan pintu terdengar saat mereka tenggelam dalam kebisuan.
Di depan pintu terlihat seorang pengacara, yang mereka tahu, itu adalah pengacara handal yang selalu menjadi orang kepercayaan Langit.
"Maaf, saya kemari untuk menyampaikan ini." Dia menyodorkan amplop cokelat ke arah Mega, dan perlahan tangan mungil itu terulur untuk menerimanya. Perasaannya sudah benar-benar tidak enak, matanya memanas, kala membaca sampul luar amplop itu yang bertuliskan pengadilan agama. Padahal selama dirinya tersadar dari tidur panjangnya, dia berharap, suaminya tengah sibuk bekerja dan mengurus perusahaannya, hingga tidak sempat untuk sekedar menjenguknya, tapi ini? Air mata yang dicoba untuk bertahan saja di pelupuk matanya, tidak mampu menuruti keinginan remehnya.
Langit menceraikannya, mungkin saja dia lebih memilih hidup bahagia dengan wanita itu. Dan sekarang Langit membuangnya, membuang Mega bak seonggok sampah. Dan lagi, dia masih terngiang begitu jelas, saat Langit mengucapkan, anak di dalam perut wanita itu adalah anaknya. Ingatan-ingatan menyakitkan itu kembali berkelebat dalam otaknya, saat Langit membalas cumbuan wanita itu, hingga menariknya dalam pangkuan. Apalagi kata papinya, yang mengatakan, Langit tidak sama sekali menemui Mega saat dirinya bertarung melawan maut di rumah sakit. Dan semua itu terjawab sudah, karna Langit sibuk mengurus perceraian mereka, mungkin saat ini mereka tengah merencanakan pernikahan mewahnya.
"Anak papi nggak boleh sedih, di sini kita semua menyayangimu Nak, lupakan si brengsek itu, dia tidak layak untukmu. Yang terpenting, kamu harus menjaga anak kamu, cucu papi. Dia membutuhkanmu, bukan membutuhkan pria tak tau diri itu." Vano yang mendengarnya hanya meringis, ngeri dengan ucapan papinya, kebencian papi terhadap sahabatnya itu begitu dalam, hingga penjelasan yang dijabarkannya dan Vino tidak mampu diterima oleh sang papi, dalam benak papinya, Langit tetap menjadi perantara kejadian naas yang menimpa Mega. Tapi satu yang tidak dia tahu, mengapa justru Langit menggugat cerai adiknya, dan malah pergi meninggalkan apa yang seharusnya dia jaga. Kebencian yang sempat hilang, saat mendapatkan bukti, ketidak bersalahnya Langit, kini semua itu kembali muncul ke permukaan, dengan kaburnya pria itu. Vano geram, jelas itu.
Melangkah menuju tempat dimana adiknya duduk, tengannya terulur mengusap kepala adiknya itu, dia merasa bersalah, karna sempat mendukung adiknya yang tergila-gila dengan sahabat pecundangnya tersebut.
"Van, mami sama papi akan ke tempat tante Murti, mungkin pulangnya agak malam, kamu jagain adik kamu ya?" Mengangguk mengiyakan permintaan maminya, karna memang dia tidak ingin adiknya ditinggal sendirian.
"Bang, kapan Abang akan kawin?"
"Nikah!" Vano mengoreksi ucapan adiknya.
"Yaelah, sama aja kali Bang, apa bedanya coba?"
"Jelas beda lah Dek, nungguin dia mau nerima abang. Baru setelah itu akan segera abang lamar." Mega memonyongkan bibirnya, sebenarnya dia kasihan dengan abangnya itu, mencintai dalam diam, sementara si ceweknya sama sekali tidak menganggap adanya Vano di sekitarnya.
"Abang minta, kamu lupain dia ya Dek! Dia tidak pantas buat kamu." Vano ingin sekali menceritakan yang sebenarnya tentang Lena, tetapi papi mereka melarang untuk membuka bahasan tentang hal buruk yang menimpa Mega, apalagi tentang wanita itu. Biarlah menjadi rahasia mereka, tanpa Mega tau, juga tentang bayi dalam kandungan Lena, papinya ingin Mega selalu beranggapan bahwa, bayi dalam kandungan Lena adalah anak Langit.
tbc.
❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)
De Todo+21 bijaklah dalam memilih cerita Cerita ini kehidupan Langit setelah kepergian Senja tujuh tahun lalu. Mega Dahlia, gadis berusia 17 tahun, seorang mahasiswi yang rela menjadi babysitter demi mengejar cintanya.
