Langit telah siap turun, dengan sejuta kecewa, dia ingin berubah jadi pecundang saja, dan kabur melalui jendela layaknya film-film India. Tapi jika benar itu dia lakukan, bagaimana wajah mamanya menatap para tamu undangan. Tapi saat dirinya mengingat wajah putranya dan juga Mega, rasa itu begitu kuat. Dia telah siap, dengan tambang yang sudah disimpannya, bukan untuk gantung diri, melainkan untuk membantu dirinya turun ke taman belakang. Hanya ini yang mampu Langit lakukan. Saat dirinya telah siap mengikat ujung tambang, pintu kamarnya telah terbuka lebar.
"Papa mau apa?" Lintang memandangi tambang yang lumayan panjang, digenggaman papanya.
"Ah, tidak. Papa cuma mau menyingkirkan barang ini saja." Oh itu ntar saja Pa, itu dia Awan. Kita disuruh Oma untuk segera menjemput Papa turun, Pak Penghulu sudah menunggumu Pa."
'Ah sial! kenapa malah jadi seperti ini? Maafkan Aku Mega sayang, maafkan daddy Nak, Aku bukanlah pria yang baik untukmu sayang, daddy juga bukan ayah yang baik untukmu putraku. Daddy tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperjuangkan kamu dan mommymu. Daddy memang brengsek, pengecut.
Langit memejamkan matanya, dan menghapus bulir bening yang mengalir di kedua sudut matanya, setelah itu melangkahkan kaki dengan tangannya yang diamit oleh putra-putrinya. Untuk kali pertama, Langit benar-benar benci pada mamanya, meski dia tidak mampu berbuat apapun.
Setelah kakinya memijak lantai dasar rumah mewahnya yang ditempatinya selama empat tahun ini, Langit merasa enggan. Dia bahkan berjalan menuju penghulu tanpa melihat ke sekitaran.
Setelah dirinya duduk, bangku yang seharusnya di isi wali dari pihak perempuan masih kosong. 'Kemana dia? Mudah-mudahan saja dia tidak jadi datang!' Langit tidak sudi menikah dengan wanita manapun, karna dia hanya menginginkan Mega. Dan bukan yang lain.
"Sudah siap?" Bapak Penghulu bertanya, sebelum memimpin do'a sebelum ijab kabul.
"Sudah!" Tunggu! Suara itu, dia menoleh pada pria yang yang akan menempati tempat duduk di depannya, wajah yang tadinya sempat terlihat begitu suram, kini binar bahagia menghiasi wajah Langit, Langit mencabut semua ucapan buruknya tentang mamanya, dan tentang pernikahannya kali ini. Fix! Langit suka dengan cara mereka, cara mereka yang hampir membuat Langit gila.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mega Dahlia Aditama binti Radit Aditama dengan mas kawin dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!"
'Sah!'
'Sah!'
Ya, pria yang dijabat tangannya, saat ijab kabul ternyata adalah ayah dari Mega.
Dari anak tangga sana, terlihat wanitanya berjalan diiringi mama dan mami mertuanya, dan di sisi sebelah kanan Langit, dia baru menyadari keberadaan Dyasst. Yang duduk di antara Lintang juga Awan, ketiga putra-putrinya telah duduk bersama.Bagaimana mungkin sedari tadi Langit tidak menyadari itu? Entahlah, mungkin karna tadinya pikiran pria itu yang tengah kalut.
"Don't be mean to my mom!" Suara lantang Dyasst membuat semua orang menoleh pada bocah kecil tersebut.
Ah! Sebegitu burukkah Langit di mata putranya? Hingga bocah sekecil itu mampu berbicara layaknya orang dewasa? Ditatapnya sejenak putra bungsunya itu, yang ternyata begitu mirip dengannya, dan juga Awan, sejujurnya Langit bangga, dengan begitu wajah Langit akan terus terpatri dalam ingatan dan juga hati Mega.
Setelah wanitanya yang saat ini kembali menjadi istrinya telah duduk di sampingnya, dan mengulurkan tangan, guna mencium takzhim punggung tangan Langit. Langit mencium kening Mega, tangis haru bercampur bahagia menguasai dua sejoli yang kembali bersatu itu.
Dua buah buku, simbol pernikahan telah mereka tanda tangani, entah ini rencana siapa, Langit tidak mampu menebak. Baginya ini adalah kejutan terindah yang Langit terima, mungkin memang benar, disaat dia mempercayakan masa depannya pada sang mama, semua akan sesuai dengan keinginannya.
Dipandanginya wajah bermakeup soft itu dengan perasaan membuncah, dia berjanji kesalahan yang lalu tidak akan terulang lagi, dia tidak ingin melukai perasaan wanita yang dulu pernah menjadi pengasuh putra-putrinya.
Setelah melewati beberapa serangkaian acara pernikahan yang cukup menguras tenaga, Langit bersama wanitanya mengistirahatkan tubuh mereka, juga setelah mereka 'berbuka puasa' .
Karna, pagi ini Langit hanya ingin sesegera mungkin menemui jagoan kecilnya, yang bahkan dia sampai lupa menanyakan pada istrinya, tentang nama jagoannya itu.
"Hey! Where is my Mom?" Ya, Langit memang beruntung, sosok yang dicarinya telah terlebih dahulu menemui papanya."why looking for your mother,if you father is here young man?" Langit merentangkan kedua tangannya, berharap sang putra akan menerima pelukannya.
"Maaf Om, kata mommy tidak boleh berbicara dan memeluk orang asing!"
Kata sederhana, bagi mereka yang mendengarnya, tetapi tidak untuk Langit, kata itu seolah cambuk yang sukses membuat jantung dan organ dalam pria itu hancur seketika, menyakitkan.
Tbc.
❤❤❤
Segini dulu yess, pemanasan, habis break lama. Maafkan aku😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)
Random+21 bijaklah dalam memilih cerita Cerita ini kehidupan Langit setelah kepergian Senja tujuh tahun lalu. Mega Dahlia, gadis berusia 17 tahun, seorang mahasiswi yang rela menjadi babysitter demi mengejar cintanya.
