Setelah memutuskan untuk mengakhiri cinta bodohnya pada pria sempurna seperti Langit, kini Mega bertekad untuk fokus pada kuliahnya. Dia tak ingin lagi mengingat tentang pria itu, meski cinta itu hingga kini tetap ada. Genap 1 tahun sudah, dari kejadian menyakitkan itu, tapi hati dan ingatannya masih tetap tertawan oleh pria yang ingin sekali dibencinya.
Dalam setahun pula, dia tak pernah lagi kembali ke rumahnya, melainkan lebih memilih tinggal di apartemen milik Vino. Mega merasa dirinya sudah dewasa, dan ingin membuktikan pada dunia, jika dia bukan lagi gadis ingusan seperti yang pria sombong itu katakan.
"Ga, udah deh, jangan minum-minum terus ya, plis ntar gue bisa kena damprat abang lo, gue belum jadian kan gak lucu kalo udah diputusin duluan."
"Lo nyindir gue Mi? Lo dengerin gue ya, kalo masalah gue sama si Langit ntu, bukan dia yang ogah sama gue, tapi gue yang gak sudi sama dia. Mulutnya itu bikin perut gue mual, lo tau gak sih?"
"Yee, mana gue tau kali Ga."
"Mi, gue harus buang ntu nama cowok brengsek dari otak gue, lo mau bantu gak?" Kali ini ucapan Mega dibuat sepelan mungkin, agar orang di sekitar mereka bisa mendengar.
"Apaan Ga?" Mimi yang tadinya cuma mendengarkan setengah hati kini berubah memicingkan mata dan memfokuskan pada ucapan Mega seorang.
"Gue mau tidur sama cowok, biar si sombong itu segera menyingkir dari otak gue Mi."
"Eh gila! lo udah beneran gila?"
Mega lelah, sangat lelah setahun ini dia selalu berpura-pura bahagia di depan khalayak, siapa yang menyangka setiap sang malam tiba, kesedihan dan air mata yang menemani tiap malamnya. Mereka yang belum merasakan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin akan dengan seenaknya memandang sebelah mata.
"Mi! Lo tau gak? Di dalam keluarga gue, satupun gak ada yang bisa ngertiin gue. Sabodoh sama pernikahan yang udah terjadi, sementara gue gak sudi, untuk tau siapa pria yang udah menjabat tangan bokap gue buat ucapin ijab kabul. Bahkan tanpa persetujuan gue mereka menerima lamaran dari orang itu, dan bodohnya itu cowok dia diem-diem bae gak pernah ketemu gue. Apa mungkin dia manusia yang lebih bodoh dari gue ya Mi?"
Flashback on
'Dek, kamu dilamar seseorang nih, kamu mau gak? Dia orangnya baik kok dek, mami yakin adek pasti akan bahagia sama dia.' Waktu itu mami datang ke apartemen untuk mengabarkan ini pada Mega.
'Serah mami papi aja, yang penting jangan ngatur-ngatur Mega sampe kuliah Mega selesai. Mega udah gak peduli mau kawin sama siapa aja, Mega akan temui dia setelah Mega benar-benar siap Mi.' Rima sangat mengerti keadaan putrinya saat itu, makanya dia biarkan saja apa yang menjadi keinginan bungsunya itu.
Rima dan suaminya tak mungkin membiarkan putrinya menikah dengan pria yang salah, dia sudah tau betul siapa dan bagaimana lelaki yang bakal menjadi menantunya itu, makanya dengan senang hati papinya tak menolak, kala lelaki itu meminta langsung mrngucapkan ijab kabul.
Bahkan, pria yang telah menjadi suaminya itu selalu mengawasi dari jarak dekat, tanpa sepengetahuan dari Mega. Dia selalu melindungi, terkadang meski waktunya harus berada di kantorpun, dia akan mengirim beberapa orang kepercayaannya. Dia tak ingin membiarkan istrinya itu tanpa pengawasan. Sejauh ini, sudah beberapa kali dirinya melumpuhkan anggota begal, yang mengincar Mega saat itu. Pernah juga, saat Mega minum di kafe, ada seseorang yang berniat buruk padanya, tapi dengan kesigapan suami Mega orang tersebut sudah mendekam di penjara, tanpa sepengetahuan dari Mega. Saat itu, ada seseorang yang ingin memanfaatkan keadaan mabuknya Mega, dia berniat memperkosa dan semua itu gagal, justru malah mengakibatkan si penjahat masuk bui.
Lelaki yang telah menjadi suami Mega itu tak ingin, hal-hal buruk terjadi padanya.
Flashback off.
"Mi, apa menurut lo, gue jahat ya sama tuh cowok? Lucu ya Mi? di saat gue sudah menikah, tetapi gue gak tau siapa orang yang telah jadi suami gue. Parah gak sih?" Mega tau dirinya kini berubah menjadi orang yang sangat egois, egois pada lelaki yang telah menjadi suaminya.
Disaat, dirinya sudah berstatus sebagai istri orang, tapi hatinya masih begitu penuh dengan pria sombong yang membuat hatinya hancur, bahkan harga dirinya pun ikut lebur. Dia sudah bertekad, tak ingin menemui sosok suaminya itu, sebelum nama lelaki masa lalu itu benar-benar lenyap dari hatinya.
"Menurut gue sih, egois namanya."
"Mi, kali ini gue beneran, gue mau tidur sama cowok. Siapa aja boleh, asal gue bisa ngebuang namanya. Gue udah gak kuat kaya gini terus Mi, gue capek." Menjatuhkan kepalamya diatas lengan yang terentang kedepan diatas meja, Mega benar-benar tersiksa.
Di tempat lain, seseorang yang menjadi suami Mega itu telah mendapat kabar, tentang keinginan gila istrinya. Dengan segera dia mengarahkan pada anak buah yang sedari tadi memata-matai keadaan terkini istrinya.
Dia tak ingin lagi bersembunyi di balik layar, dia ingin secara jantan menunjukkan bahwa dia suaminya, bukan cuma suami gaib yang tak terlihat.
Tut tut tut
"Hallo, apa benar dia akan meminum obat perangsang?"
"Iya tuan, menurut yang saya dengar tadi, dia tak ingin mengingat kejadian setelah apa yang bakal dilakukannya."
"Baiklah, kau tetap awasi dia, dan berpura-puralah menjadi kandidat yang akan tidur dengannya. Tapi awas jangan sentuh dia sedikitpun, kamu mengerti?"
"Mengerti tuan."
Klik.
Setelah mematikan sambungan telpon, suami Mega bergegas menuju lokasi yang telah di kirimkan anak buahnya.
"Me-Mega." Gadis itu yang sudah berada dibawah pengaruh obat perangsang langsung menoleh ke sumber suara, mata itu begitu sayu. Penuh luka.
Lelaki yang telah menjadi suaminya pun hanya mampu berdiri kaku, bingung bahkan takut, harus bereaksi bagaimana. Matanya memanas, saat memindai gadis yang telah menjadi istrinya itu. Setelah berdiam diri sekitar lima menitan, pria itu langsung memeluk istrinya penuh kasih. Dan tanpa aba-aba dirinya ditarik begitu saja hingga jatuh menimpa gadisnya, diatas ranjang.
Dalam ketidak berdayaannya, Mega hanya mampu melihat, sosok yang menggaulinya serupa mahkluk yang selama ini ingin sekali di bencinya, Erlan Langit Mahardika. Apakah dia sudah segila itu, bahkan disaat sedang bersama yang lainpun, ysng terlintas bahkan terlihat begitu nyata hanya dirinya. Fix! Kali ini mrmang dirinya telah benar-benar gila.
Tbc.
❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)
Random+21 bijaklah dalam memilih cerita Cerita ini kehidupan Langit setelah kepergian Senja tujuh tahun lalu. Mega Dahlia, gadis berusia 17 tahun, seorang mahasiswi yang rela menjadi babysitter demi mengejar cintanya.
