bagian 11

2K 61 1
                                        

Pagi saat dirinya terbangun, sisi sebelahnya berbaring telah kosong. Ah! Bahkan dirinya belum sempat berucap terima kasih. kepingan-kepingan kejadian semalam, entah berapa kali semua itu berulang. Sama sekali dia tak mengingatnya, yang diingatnya hanya sentuhan yang begitu memabukkan. Penuh kelembutan, seolah pelakunya melakukan dengan segenap rasa cinta, padahal kenyataannya, mereka sama sekali tidak saling mengenal.

Setelah sesuatu yang sangat berharga sudah di lepasnya, entah dengan siapa? Meski semua itu tidak sesuai dengan rencana  indahnya, melepas mahkota bersama dia, entah mengapa justru ini tidak membuatnya merasa bersalah, pada seseorang yang berpredikat suaminya. Rasa yang begitu sulit untuk digambarkan, seharusnya hatinya tidak setenang ini, seharusnya ada ketakutan yang berlebih. Tetapi apa ini? Justru seolah dia nyaman dan pasrah, pada seseorang yang tidak dikenalinya.

Entah sudah berapa lama dirinya termenung, hingga pintu kamar hotel terbuka, dia sama sekali tak menyadari.

"Kamu sudah bangun rupanya?" Matanya terbelalak dan sepontan menarik selimut, untuk menutupi bagain tubuhnya hingga batas leher.

"Kenapa Om ada di sini?" Tersenyum manis sambil meletakkan beberapa paper bag yang berisi makanan juga perlengkapan set pakaian untuk Mega.

"Lebih baik kamu mandi dulu, setelah itu kita sarapan!" Mengerutkan kening semakin dalam, saat melihat sikap tenang dari Langit, banyak hal yang berkecamuk dalam benaknya, yang menggumpal menjadi beberapa pertanyaan, yang sangat ditunggu jawabannya oleh Mega. Namun, biarpun begitu tetap diikutinya perintah dari mantan bossnya itu, dengan terpaksa menelan kembali apa yang ingin diketahuinya.

Melilitkan selimut, dengan melingkar di bagian tubuhnya, dia menurunkan sebelah kakinya perlahan ke lantai kamar hotel tersebut.

"Auww!!"
Belum juga benar-benar  sepenuhnya turun dari ranjang, rasa perih yang menyerbu tanpa ampunan. Dalam sekejap, dirinya seolah terbang dan melayang menuju kamar mandi.

"Aku akan berjaga di sini, nanti selesai mandi akan kugendong lagi menuju kamar." Sungguh pernyataan konyol yang pernah di dengarnya.  Yang benar saja, masa iya mau nungguin orang mandi di dalam kamar mandi itu sendiri?

"Om benar-benar tidak waras! Enak aja mau nungguin di dalam. Mau ngintip ya?" Bukannya tersinggung, justru senyum geli yang nampak menjijikkan bagi Mega.

"Ngapain saya harus repot-repot ngintipin kamu? Bukankah saya sudah melihat semuanya? Setiap inchi dari bagian tubuhmu itu."

'What?'

'Jadi yang semalam gue kayak ngerasa sedang ngelakuin sama dia, ternyata emang beneran sama dia?' Tanpa disadari ada senyum yang terbit malu-malu di sepasang bibirnya itu, juga perasaan hangat yang entah mengapa begitu sangat melegakan. Kemana rasa benci yang selama setahun ini coba dipupuknya? kenapa seolah rasa itu justru melebur entah tak bersisa? Ternyata untuknya, waktu setahun tak bisa untuk melupakan sosok yang benar-benar telah terpatri dalam jiwanya.
Namun, dalam situasi seperti ini dia tidak ingin terlihat pasrah, atau hinaan seperti dulu akan kembali di dengarnya, dan Mega tak ingin itu terjadi.

"Om kenapa lakuin itu pada Mega! Om jahat!" Mungkin berakting seperti ini lebih baik, ketimbang harus terlihat seperti menikmati. "Lebih baik Om keluar, saya mau mandi!" Lanjutnya lagi.

Bukannya keluar seperti yang diperintahkan, justru Langit malah merapatkan tubuhnya pada Mega. Rasa rindu yang menggebu, rasa benci yang tertanam, marah yang bersarang, seolah semua lebur dalam sentuhan demi sentuhan dari sosok yang memporak-porandakan hati juga pikirannya. Kini dalam keadaan sadar, semua telah kembali terulang, peluh yang membanjiri tubuh mereka, seolah menjadi saksi penyatuan cinta yang telah tersembunyi dari hati. Mega benar-benar terbuai dan memasrahkannya pada Langit, seolah dirinya lupa, bahwa statusnya sudah bersuami. Dia seolah tak ingin mengingat bahkan mengenal, dengan siapa dirinya menikah, yang diinginkannya cuma satu untuk saat ini, menikmati kebersamaan dengan sipemilik hati yang telah kembali.

Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang