bagian 19

1.1K 42 3
                                        

Setelah memarkirkan mobilnya serampangan, dia berlari menuju ruang rawat istrinya berada.

Bugh bugh bugh!

Belum sampai dirinya mengucapkan sebuah katapun, dia telah mendapat bogem mentah bertubi-tubi dari ketiga Pria Raditama.

"Brengsek lo!" Mata Vino menyorot tajam, ke arah Langit, sorot mata penuh amarah.

"Baji**an lo!" Bugh bugh bugh

Kembali amukan dari Vano seolah dia belum puas, dengan penampakan Langit yang sudah benar-benar kacau.

Salma, wanita paruh baya itu hanya mampu menatap sang putra nanar. Dia tidak ingin membela, jelas! Karna putranya memang pantas mendapatkan ini semua. Meskipun tak dapat dipungkiri, ada nyeri di sudut hati kala mendapati sang putra yang tak berdaya oleh serangan dari kedua ipar dan mertuanya. Langit bukan tak mampu membela diri, tetapi dia pasrah, karna dia memang salah.

Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya, tapi kedua saudara istrinya masih tetap menghajarnya, tanpa ampun.

"Gue udah percayain adek gue ke elo! Ini balasan elo brengsek!?" Dan tendangan bersarang di perut Langit.
"Sudah Bang! Bisa mati dia ntar!" Teriakan istri Vino yang tidak ingin suaminya terus menghajar sahabatnya sendiri.

"Biarin saja dia mati, sekalian adik gue jadi janda! Daripada dia punya suami tapi mirip baj***an seperti Dia!!" Kilat amarah itu seolah mampu menusuk jantung, orang yang melihatnya.

"Bang! Udah jangan ngomong gitu. Semua bisa kita bicarakan baik-baik."

"Udah Nak, kekerasan tidak akan membuat Ega kita langsung sadar." Rima memberi pengertian pada putranya. Sebenarnya Vano maupun Vino, mereka tidak percaya dengan gosip yang mereka dengar, saat mencari Langit, karna ponsel Langit tidak menjawab pesan maupun panggilan suara. Mereka berdua sangat yakin, Sahabatnya itu pasti memiliki alasan tersendiri. Tapi ini menyangkut putri tunggal keluarga Raditama. Adik perempuan satu-satunya yang mereka miliki, kini tengah melawan mautnya, bersama janin dalam kandungan saudari mereka. Mega kini dalam keadaan koma, Dokter sendiri tidak mampu memberikan kepastian, kapan adik mereka akan sadar dari komanya.

"A-apa? Mega tidak sadarkan diri?" Langit merasa nyawanya sebentar lagi akan lepas dari raga. Dia seolah tidak mampu untuk sekedar meraup oksigen untuk mengisi paru-parunya. Langit, untuk kedua kalinya telah bertindak ceroboh, dengan perempuan yang sama. Dahulu saat masih bersama Senja, Lena jugalah yang memfitnah istrinya, dan sekarang, gara-gara perempuan itu dia hampir kehilangan Mega.

Hari berganti minggu, tapi Mega tak kunjung sadar dari komanya. Selama itu pula, Langit tidak bisa masuk ke dalam  ruang rawat Mega,  karna, keluarga sang istri tidak mengijinkannya masuk ke dalam. Sepanjang harinya, dia hanya duduk di luar, sambil memangku laptop yang sengaja dia bawa kemari, untuk memantau seluruh perusahaannya. Setiap ada berkas yang perlu dia tanda tangani, orang kepercayaannya yang akan mengantarkannya ke Rumah Sakit. Dia mengabaikan semua panggilan dan kiriman pesan dari Lena, bahkan dia memblokir nomor wanita itu, dia tau dia salah, dan tidak seharusnya kembali memberi celah pada wanita itu.

Flashback on!
'Erlan, lo udah liat kan photo yang aku kirim ke kamu? Tadi aku ketemu dia(Senja) di apotek, lagi berduaan sama mantan pacarnya. Mana duduknya mesra lagi. Eh! Mereka juga membahas kehamilan, katanya dia lagi hamil, dan si Tio bertingkah seolah dia itu ayah dari bayinya Senja. Aku yakin, selama ini memang mereka kerap bertemu di belakang kamu.'

'Benarkah? Kamu yakin? Mana bukti percakapannya? Karna aku percaya Senja tidak akan berbuat curang di belakangku!'

'Aku yakin banget seratus persen Er, cuma sayangnya, aku nggak sempat merekam obrolan mereka, aku takut ketahuan. Apa kamu masih nggak percaya dengan bukti photo seperti itu? Kalau memang mereka tidak ada apa-apa, seharusnya istri kamu mengajak kamu, ke rumah sakit, bukan malah bersama pria lain.'

'Erlan! Aku udah bilang berkali-kali, wanita itu nggak pantas menjadi istri kamu, dia hanya manfaatin kamu. Tapi kamu terlalu bucin sama dia, sehingga nggak bisa melihat aku, aku yang begitu tulus cinta sama kamu.' Air mata Lena meleleh, dia berharap Langit mempercayai ucapannya.

Saat itu, Langit yang tengah diselimuti rasa kecewa yang teramat sangat, seketika hatinya luluh. Bukan berarti dia ada cinta di hatinya pada Lena, hanya saja, ingin membuang luka hati yang Senja torehkan pada pria itu.

Flashback of.

'Ceklek'

Saat pintu terbuka, nampaklah sosok Vino keluar dari ruang rawat Mega, tanpa menoleh atau bahkan menyapa, Vino berlalu begitu saja.
"Vin!" Ada ragu yang menyerang, ada maluyang bersarang, tapi dia tidak ingin lari dari kesalahan. Dia bahkan siap, selama Mega dirawat, setiap pertemuan dengan pria dari kekuarga Raditama, selalu bogem mentah yang menyapa. Langit ikhlas, dia tidak berniat membalas, baginya itu masih belum impas dengan apa yang telah dia perbuat.

Vino tak menggubris panggilan Langit, yang berbeda kali ini, tidak ada bogem mentah yang menyapa perut ataupun wajah Langit. Terabaikan, bahkan seolah dirinya tidak ada, itu sangat tidak mengenakkan, lebih baik bogem mentah yang menyapa, daripada dianggap tidak ada. Vino berlalu pergi meninggalkan Langit dengan penuh tanya, dia hanya ingin tau bagaimana kabar istri dan calon anaknya? Apakah anak mereka bisa selamat? Langit tidak tahu. Bahkan saat bertanya pada dokter dan perawat yang menangani istrinya itu, mereka sama-sama membisu. Mungkin ini semua adalah permintaan dari keluarga istrinya, tapi mengapa? Mamanya juga ikut-ikutan menyembunyikan fakta penting darinya? Langit gila, gila dengan kenyataan ini.

Me.
Van, lo bisa kasih tau gue, apa yang terjadi dengan istri gue Van? Mereka tidak memberikan jawaban apapun.

Langit mengirim pesan pada sahabatnya, berharap dia mau memberikan sedikit informasi tentang istri dan juga bayinya.

Evan.
Begitu halnya gue, gue nggak bisa membocorkan privasi pasien pada orang yang tidak diharapkan Lang. Sorry🙏

Me.
Apa maksud lo Van?

Evan.
ini permintaan Tuan Raditama, jadi setiap pasien yang dirawat disini, dia berhak menginginkan sesuatu yang ingin dirahasiakan.

Me.
Tapi gue suaminya!

Evan.
Tapi mereka tidak ingin lo tau apapun tentang putri mereka, mereka punya alasan Lang.

'Shit!' Dia kecewa, semua orang menyembunyikan keadaan Mega darinya. Ini salahnya.

Memejamkan mata, dengan tubuh bersandar pada dinding rumah sakit, Langit benar-benar menyesal dengan perbuatannya, meskipun tidak ada niat sedikitpun untuk menduakan atau bahkan sekedar melirik wanita lain. Dia hanya murni karna tidak ingin ada nyawa lain yang melayang sia-sia. Tapi dia sungguh tidak menyangka, karna sifat tidak tegana pada wanita hamil, telah berbuah petaka, petaka yang menghampiri wanitanya. 'Sayang, maafin om, om harus gimana biar kamu segera sadar?' Gumam itu terdengar lirih, lirih yang menyiratkan pilunya hati.

Andai takdir bisa ditawar, Langit ingin mengantikan posisi Mega saat ini, andai kejadian Senja saat dulu tidak menimbulkan trauma tersendiri, mungkin dia tidak akan terlalu iba pada wanita hamil. Bukan karna wanita itu adalah mantan tunangannya, bukan, sama sekali bukan. Tiga tahun yang lalu, saat dirinya bertemu dengan wanita hamil yang ditinggal kabur dengan wanita lain, Langit menolongnya, membelikan sebuah rumah kecil untuk wanita itu dan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Bahkan Langit memodalinya untuk berjualan bahan pokok, jadi tidak ada alasan tentang masa lalu sebagai mantan tunangan. Tapi apapun itu, kini Langit sadar, mungkin saja semua ini hanya akal-akalan Lena, untuk memperkeruh suasana.

Tbc.
❤❤❤

Om Duda Aku Padamu (Langit Mega)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang