Jalan Sendiri-sendiri

1.7K 66 1
                                        

Sepulang dari joging aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah itu aku duduk mematung mencerna apa yang terjadi?.

Kini hubunganku dan mas Ario telah usai, banyak kemungkinan yang akan terjadi jika hubungan kami masih berlanjut. Aku tenangkan diriku mencoba menerima, semua yang terjadi.

Taklama ponselku berdering, tak lain tak bukan itu mas Ario. Tak aku angkat, apalagi yang akan dibicarakan aku sudah cukup pusing dengan pertengkaran kami tadi.

Setelah 2x dia menelfon tanpa aku jawab, aku langsung menonaktifkan ponselku. Lusa dia berangkat, padahal aku janji bakal nganterin dia ke pelabuhan.

Aku memilih untuk menolong ibuku, mencoba mengalihkan secara rasa sedih yang aku rasa. Tak mungkin aku ceritakan ini pada ibuku, mungkin bisa nanti saat yang tepat.

Cukup lama aku berkutat dirumah tanpa memperdulikan ponselku, bahkan malam ini aku tidur lebih awal.

Keesokan harinya setelah solat subuh, aku kembali mengaktifkan ponselku saat aku buka isinya sudah begitu banyak pesan dari mas Ario.

Aku baca isi pesan darinya, yang menjelaskan tentang Aulia. Ah sudahlah batinku, akan lebih baik jika kami berjalan sendiri-sendiri dulu. Aku mau lihat apakah benar mereka hanya sebatas berteman atau sudah saling menyimpan rasa keduanya nanti pasti akan terjawab.

Aku tau sudah begitu besar rasa cintaku padanya, tapi dalam keadaan seperti sekarang tidak menutup kemungkinan aku akan lebih tersakiti seiring kedekatannya dan Aulia.

Teh kenapa tumben2
Ngak semangat gitu?

Biasa aja ih buk

Jangan sedihlah
Pasti karna Ario mau
Berangkat tugas ya?

Hehhe
Bisa aja buk

Karna ponselku aku taruh di atas meja makan, otomatis saat ada yang menelfon dan pesan masuk langsung terdengar.

Tuh hp teteh bunyi

Iya buk

Cepat aku raut ponselku ternyata pesan dari Fara teman satu kampusku.

"nai hariini ke kampus ya  jangan lupa, berkas2 yudisium wisuda udah di siapin belum? "

-iya far, jam berapa mau ke kampus? Udah semua aku siapin kok-

" sekitar jam 10an otw ya"

-ok siap beb-

Kembali aku letakkan ponselku untuk kembali ke menolong ibuku memasak. Saat tengah berkutat dengan masakan ada pesan masuk lagi.

"dek oke adek mau minta udahan tapi tolong besok datang buat ngelepas mas berangkat tugas"

Betapa terkejutnya aku melihat pernyataan mas Ario yang menyetujui untuk menyudahi hubungan ini. Bukankah ini adalah rasa sakit yang begitu amat sesak. Padahal yang aku inginkan kalo mas Ario menjelaskan, dan membuktikan bahwa dia tak ada apa-apa dengan Aulia. Semakin kesini aku semakin yakin mereka sudah sama-sama menyimpan rasa.

-maaf mas, aku ngak bisa ada pekerjaan yang ngak bisa aku tinggalin-

Dengan susah payah aku mencari alasan yang tak masuk akal untuk tak ikut melepas dia di pelabuhan.

Senyuman Dari PrajuritTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang