CHAPTER 2

37 7 4
                                        

Suara Chatting menemani Yura malam ini. Grup chat kelas pastinya. Mungkin mereka lagi membahas bagaimana strategi besuk waktu ulangan matematika.

Kelas yang kompak saat ulangan impian kalian juga kan? Atau tidak.

Yura memang kadang suka membantu teman temannya saat ulangan apalagi matematika dan ipa. Ya walapun kadang ada saja yang ketahuan dan hukuman yang melayang.

Ditengah rembulan yang menyinari malam ini. Yura terduduk di kursi belajarnya dan menatap buku matematika.

Matanya fokus menatap buku namun tidak dengan pikirannya. 2 tahun lamanya ia sudah berjuang. Mungkin saatnya dia akan mundur dengan perlahan?

Yura belum bisa memutuskan. Bingung.
"Astaga, kenapa gue harus mikirin dia, gue harus vokus belajar buat besok!! Ayo ayo kamu pasti bisa!!" ucap Yura menyemangati dirinya sendiri.

Merasa percuma karena belajar tapi materinya nggak masuk masuk ke otak, Yurapun beralih ke kasurnya. Kayak kasurnya tuh bilang "tidurlahh tidurlah" jadi menarik Yura untuk agar cepat tidur dan menyambut esok. Wkwkw

Pagi yang cerah, matahari bersinar terang hingga semua orang yang berlalu lalangpun merasa silau dan mengernyit.

Yura segera bangun dan bersiap siap. Setelah selesai Yurapun pergi ke meja makan, ternyata keluarganya sudah bersiap untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, Yurapun pergi ke sekolah naik sepeda warna birunya.

Padahal kakaknya bisa mengantar menggunakan mobil. Yura ingin lebih mandiri ya jadi dia berangkat sekolah mengendarai sepeda hadiah dari papanya.

Jarak sekolah dengan rumah juga tak begitu jauh jadi dia nggak terlalu capek buat ngegayuh sepada.

Sesampainya di kelas, Yura langsung ditarik oleh Ima dan terus bertanya apakah Yura sudah betul betul paham dengan materi.

Yura hanya diam dan melengos begitu saja. Iapun duduk dikursinya seraya membuka buku catatan.

"Raa lu kok malah diam aja sihh jawablahhh... Bel bentar lagi bunyi nihh" cerocos Ima yang tak henti henti memanggil nama Yura.

Brakk!

Semua yang ada di kelas terkejut, termasuk Arya yang duduk tepat dibelakang meja Yura.

"Gue juga lagi fokus belajar kalo ku banyak bacot kapan bisa masuk materinya!" kesal Yura karena Ima nyerocos terus tak berhenti henti.

"Iya iya nyonyaa, jangan marah ntar lu tua baru nyesel ntar" ucap Ima seraya duduk disamping Yura dan ikut membuka buku matematika.

Suasana kelas tiba tiba hening tak bersuara. Hingga suara tawa cowok itu yang mengisi ruang kelasnya sekarang.

Ia tertawa terbahak bahak, membuat semua orang yang sebenernya nggak ngerti kenapa dia tertawa ikut tertawa bersama.

"Lu kenapa ketawa? Nggak ada yang lucu ngerti nggak!" tukas Keyra.

Aryapun mencoba untuk berhenti tertawa, namun sulit sekali rasanya. Hingga Aji yang berada disampingnya mencoba untuk menyadarkan kalau suasana kelas sekarang menjadi agak panas.

Karena Arya tak peduli dengan Aji, Ajipun menyenggol lengan Arya lumayan keras, dan benar saja, Arya hampir jatoh dari kursinya. Untung badannya langsung respek jadi dia tak tersungkur ke lantai.

"Sorry sorry, tapi sumpah lu jelek banget kalo marah, nggak pantes lu marah tau nggak" ucap Arya dengan nada yang masih tertawa.

Semua kelas yang baru menyadari itu ikut tertawa hingga bunyi belpun tak bisa menembus telinga mereka.

"Selamat pagi semuanya" ucap Pak Darma.
Semua siswa sangat terkejud kenapa tiba tiba guru ini langsung masuk?

"Emangnya udah bel masuk pak?" tanya Ima.

"Kamu tadii kemana aja? Masih di alam mimpi atau bagaimana?" tukas Pak Darma yang terkenal agak galak, ya bukan galak juga si sebenernya agak ke tegas lah ya.

Imapun langsung tersenyum malu, kenapa dia bisa bisanya menanyakan itu, astaga bodoh banget ya gue ini.

"Oh iya, tadi pas bapak masuk kenapa pada ketawa? Ada yang lucu?"

"Cuma itu anu pak, Ar-arya pak" ucap Aji jujur. Langsung diberi tatapan tajam nan menusuk dari Arya.

"Arya!! Coba jelaskan, sebelum waktu untuk ulangan habis, nanti kalian sendiri yang kesusahan."

"Anu pak itu, siapa, Yura pak, Yura tadi-" ucap Arya agak deg deg-an.

Pak Darma menaikkan alis kanannya, menunggu jawaban dari Arya, yang tak kunjung memberi jawaban.

Sampai Pak Darma menggebrak meja dan membuat semua siswa terkejud. Arya dengan sigap langsung menjawab.

"Yura lucu pak kalo lagi marah" ceplos Arya.

"Cieeee" semua murid di kelas bersorak ria, dan bersiul siul mencocok cocokkan mereka berdua.

Yura langsung menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan. Maluu woee.

"Sudah sudah, nanti malah nggak jadi ulangan tapi ngeliat kisah pdkt lagi. Tolong tas tas ditaruh di depan kelas." ucap Pak Darma yang akan memulai ulangan Matematika.

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

iya tau pendek Hehe..
☔ kalo ada typo jangan lupa bilang ya
jangan lupa juga buat coment dan vote ya
☔ happy reading
Lope you💜

YURARYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang