4

874 148 53
                                    

'Why don't you love him?'

-

Hanbin memarkirkan mobilnya didepan garasi rumah tiga lantai itu. Ia tersenyum kearah Jennie isyaratkan untuk keluar.

Tapi sampai pria Kim menutup pintu di sisi kemudi, Jennie bergeming. Kemudian ia tersadar kalau dirinya harus keluar sendiri.

Sampai lupa, ia malah menunggu dibukakan pintu mobil dari sisinya. Itu yang selalu Jaebum lakukan. Tapi ini Hanbin, bukan Jaebum.

Maka Jennie bergegas menyusul si pria yang menunggunya di depan pintu masuk utama rumahnya. Tangan Hanbin menggenggam gagang pintu, lalu ia malah terdiam dan menoleh pada gadis Kim.

"Kau menciumnya?"

Jennie cengo, clueless tak tau apa maksud Kim, "Bau gosong! aih, ibu pasti belajar memasak lagi," keluhnya.

Gadis Kim mengendus udara, dan benar. Ini seperti bau coklat panggang yang gosong. Jennie terkikik kecil mengetahui fakta ibu dari pria Kim tak bisa memasak.

Diikuti oleh Hanbin yang geli sendiri akan tingkah sang ibu, "Ayo masuk, sebelum ibuku meledakkan dapurnya sendiri," ajaknya masuk gendikkan kepala pada Jennie.

Pria itu diam di ambang pintu, mempersilahkan gadis Kim untuk masuk lebih dulu. "Duduk dulu disini, kupanggilkan ibu di dapur,"

"Eung--Hanbin? boleh aku ikut kedapur?"

Ia angkat sebelah alisnya lebih tinggi dengan senyum geli keheranan. "Mau melihat kekacauan yang ibuku buat?"

Kikikan Jennie terdengar, "Tidak, mungkin aku bisa membantunya memasak(?)" kepala pria Kim mengangguk-angguk seperti anjing pajangan dashboard mobil.

"Jangan kaget melihat wanita separuh baya sepertinya tak bisa memasak," canda Hanbin lagi. Jennie hanya tanggapi dengan tersenyum.

Bagaimana Hanbin bisa seluwes ini padanya? padahal mereka baru mengenal sejak sekitar dua jam yang lalu.

Jennie mengekori langkah Hanbin menuju ke sumber bau coklat gosong itu. Seketika berada disana, gadis itu refleks menutup mulutnya dengan tangan.

Panci berisi air untuk mencairkan coklat diatas kompor dengan api yang masih menyala, tepung berserakan diatas meja pantry, juga telur pecah di lantai.

Serius ibunya sepayah ini dalam hal dapur?
Hanbin segera menghampiri wanita yang memunggungi mereka, tengah berkutat dengan oven.

"Astaga ibu," keluh Hanbin melihat penampilan sang ibu yang sama kacaunya dengan dapur itu. Ia menoleh pada Jennie dengan wajah bersalah, sebab tak menyambutnya dengan baik, dan malah begini. "Sorry Jennie," katanya.

"Hanbin!" seru wanita itu setelah meletakkan loyang yang tadi dipegangnya disebelah oven yang masih terbuka.

Pria Kim segera mematikan oven itu, dan beralih mematikan kompor. Ibunya mengutas cengiran. "Ada tamu tapi ibu kacau begini,"

Wanita Lim alihkan atensi pada gadis Kim. Segera ia membersihkan wajahnya dari tepung yang kotori pipinya. Dan juga mencuci tangan di wastafel.

"Siapa ini? duh maaf aku sedang memanggang tadi tapi gagal," kata ibu Hanbin berdiri di sisi putra tunggalnya, julurkan tangan pada Jennie. Jennie menerima uluran tangannya dengan senyum ramah.

"Ini Jennie, pac--"

"Teman kampusnya Hanbin,"

Dahi Hanbin mengernyit kala Jennie memotong ucapannya begitu saja. Jennie balas meliriknya dengan singkat.

Latens [JenBin] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang