Chapter 6

52 25 121
                                        

Wajah yang penuh keceriaan karena memiliki luka.
-
-
-

Yoda masih tersenyum seperti tadi, bahkan setelah membuatku terhenyak mendengar kalimatnya.

Tapi aku tahu itu bukan senyum yang biasa aku lihat. Hanya sarat kesedihan yang dalam disana.

"Ini saat yang baik, Jadi..." genggamannya terasa mengerat di tanganku, "mereka tak harus ada disini." Lanjutnya tenang.

Keadaan di antara kami menjadi begitu kaku. Sungguh, meski sejak semasa sekolah menengah aku meyakini perasaanku sudah terikat pada Yoda, tapi tidak pernah sekalipun aku tahu banyak tentang dia atau keluarganya.

"Kau benar-benar sendirian di London selama ini?" Aku memutuskan untuk bicara duluan.

Dia mengangguk. "Seperti yang kubilang."

"Aku kira itu tentang kamu tak memiliki teman."

Dia tersenyum, tangannya terulur mengusap rambutku. "Kenapa? Apa aku terlihat menyedihkan sekarang?"

Aku menggeleng tegas. "Tidak, kamu luar biasa." Pujiku.

Ujung bibirnya terangkat. "Aku begitu?"

"Hmm...pacarku sangat...sangat luar biasa." Ungkapku di ikuti senyum lebar.

Dia tertawa, aku cukup lega dia terhibur oleh perkataanku. Lalu kuperhatikan beberapa orang yang memakai toga dan memegang sertifikatnya seperti Yoda, semua terlihat bahagia bercengkerama bersama keluarga mereka, dan di sudut ruang ini Yoda hanya ada bersamaku.

"Semua rangkaian acara sudah selesai, disini jadi ribut sekali kan?" Ujarnya, mataku kembali melihatnya.

"Kalau begiu kita keluar saja." Responku.

"Hah?" Dia malah membeo.

"Kamu suka disini?" Tanyaku.

"Tidak juga, terlalu ramai, kenapa?"

"Maka dari itu, kita tinggalkan saja." Dan aku menariknya ke pintu ruangan, pergi menjauh dari tempat tersebut.

Saat kami sampai di lobby dia menahan langkahnya dan sontak membuatku juga berhenti "Tunggu disini, aku ke toilet dulu." Ucapnya cepat.

Aku yang semula agak bingung langsung mengangguk, segera dia pun melangkah pergi. Beberapa menit menunggu, Yoda kembali lagi dan aku heran melihat dia sudah tak memakai tola dan toganya.

"Dimana pakaian wisudamu? Kenapa melepasnya?"

Dia menepuk paper bag yang entah dari mana dia dapatkan. "Disini, tidak nyaman berjalan dengan memakainya."

"Tapi kamu bahkan belum mengambil foto dengan pakaian itu."

"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan foto wisuda."

Kamu berbohong Yoda.

Rasanya perasaanku kembali di remas mendengar ucapannya "Aku ingin berfoto denganmu, bagaimana kalau kita ke studio foto saja?" Ajakku.

Kudapatkan kehangatan dari caranya melihatku, perlahan senyum yang kusuka itu ada lagi di bibirnya, meski di raut wajahnya ada tergurat senduh.

"Studio mana yang akan kita tempati?" Tanyanya

Segera aku mengeratkan kedua tanganku yang melingkupi lengannya. "Serahkan padaku, aku tahu studio foto yang bagus."

"Oh iya, dimana kamu dapat tas kertas itu?" Tanyaku ketika kami berjalan keluar lobby.

Gelasia : AboutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang