Hati yang rapuh

3.4K 175 11
                                        

Ilham POV

Malam semakin larut, aku merasa sudah cukup untuk memanaskan malam. Aku pun mengakhiri drama yang ku ciptakan bersama teman yang baru ku kenal ini. Aku melangkah ke kasir bersamanya, namun,,,,

"Iya meja nomor berapa mas?" Tanya Iqbal begitu lembut.

Aku terdiam, tak ada kata yang terucap. Aku yang sedang berusaha membuat panas malam ini, justru akulah yang terbakar panas.

"Apa Iqbal begitu mencintainya. Bahkan di kafe yang rame seperti ini pun mereka masih bermesraan." Gumanku dalam hati.

"Yang, sayang. Hei...." Ucap seorang wanita.

"Ah iya, maaf tadi melamun." Ucapku.

"Meja nomor 14 mas." Lanjut ku.

"Oh, semuanya 250.000 mas." Ucap Iqbal lalu tersenyum.

Indah sekali senyuman itu Tuhan, aku bahkan harus terpukau begitu lama. Sebelum akhirnya aku tersadar,

"Ini mas." Ucapku menyerahkan uang 250.000 pas.

"Uangnya pas ya mas, ini namanya. Terima kasih dan jangan lupa datang lagi." Ucap Iqbal.

Aku masih ingin menikmati senyuman itu, hanya saja aku sedang membawa nyawa lain yang harus ku antar ke tempatnya. Aku pun keluar dan tak sengaja,

"Anis dan Farhan berduaan? Mereka ngapain?" Tanyaku dalam hati.

"Selama ini Farhan tidak begitu dekat sama Anis ataupun Iqbal. Tapi mengapa malam ini mereka terlihat begitu dekat? Padahal aku sudah merencanakan untuk memperkosa Anis untuk menjatuhkannya dan Iqbal. Tapi sekarang kasusnya berbeda, Anis itu milik Farhan sepertinya." Gumanku.

Ada begitu banyak tanya yang mengganjal, namun aku memutuskan untuk mengakhiri sejenak. Aku harus nengantar pulang teman kencan ku ini. Tentang semuanya, biar ku pikirkan nanti.

###

Iqbal POV

Tak terasa hari semakin malam, kafe pun semakin sepi.

"Kamu setuju nggak sih sama mereka?" Tanya Adek yang baru datang ke meja kasir.

"Mereka?" Tanyaku bingung.

"Anis sama Farhan." Ucap Adel.

"Emang kenapa?" Tanyaku penasaran.

"Nggak sih, cuma gimana ya? Ya aku akui bahwa Farhan itu salah satu yang terganteng dan terkenal di sekolah. Cuma ya, hatiku kayak ragu gitu kalau deket dia." Ucap Adel.

"Sama Del, aku juga tidak setuju jika Anis dan Farhan dekat, cuma ya mau gimana lagi? Itu pilihannya Anis, aku harus menghargai itu." Ucapku dalam hati.

"Kamu cemburu ya?" Tanyaku menggodanya.

"Ih amit-amit jabang bayi, tipe gue tuh nggak seperti itu. Ngapain gue cemburu pada orang yang udah nolongin hidup gue? Kalaupun harus bersaing, aku mending mundur." Ucap Adel.

Aku tersenyum melihat tingkah Adel, tak ada kebohongan sama sekali dari bahasa tubuhnya. Artinya Adel jauh lebih respek ke Anis bukan ke Farhan.

"Yaudah kita jangan ikut campur aja. Bukan berarti kita nggak peduli. Kalau sampai Farhan berani membuat Anis sakit, aku orang pertama yang menghajarnya." Ucapku.

Adel tidak mengomentari lagi, dia hanya mengangguk seolah setuju dengan apa yang aku katakan.

"Yaudah beres-beres, kita tutup aja." Ucapku.

Adel kembali memberitahu karyawan yang lainnya, aku pun menghitung yang hasil penjualan hari ini, meski hanya menggunakan satu tangan saja. Tanganku yang sebelah masih menggenggam erat tangan orang yang begitu sakit malan ini. Tak lama kemudian,

Gara-gara Ilham (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang