Keputusan Mutlak

2.6K 138 2
                                        

Hai maaf ya lama update.
Enjoy Reading

Iqbal POV

Beberapa hari setelah kejadian malam itu, Tante berhasil mendapatkan kembali semua hartaku dan ayahku. Sejak kejadian itu pula aku dan Ilham sangat dekat. Bahkan sudah tidur seranjang, meski belum banyak melakukan apa-apa. Aku nggak menuntut dia melakukan duluan, juga tak melakukannya duluan karena memang banyak hal yang harus ku urus. Semuanya kembali ke awal, tapi aku dan Ibu memilih tetap tinggal pada rumah sederhana yang terasa sangat nyaman. Disisi lain, aku terus membuat karya, karena banyaknya permintaan.

"Masih sakit ya?" Tanya Ilham.

"Sakit?" Tanyaku balik, tidak mengerti apa yang maksudkan.

"Ya gara-gara gue, lu jadi korban polisi itu." Jelas Ilham.

"Oh, nggak kok. Buktinya gue bisa sekolah." Jawabku berbohong.

Hingga detik ini, aku masih merasa sakit yang sangat luar biasa karena bang Iqbal. Meski begitu, aku berusaha untuk menutupinya. Aku yakin bang Iqbal dan Ilham terus memperhatikan ku, khawatir kalau yang terjadi itu berlebihan.

"Maaf ya, gue,,,, " Ucap Ilham terpotong.

"Gue akan balas ntar kalau kita udah lulus." Ucapku memotong.

"Balas?" Tanya Ilham bingung.

"Ya, gue akan balas ke lu. Supaya lu tahu sakitnya kayak apa." Ucapku santai.

Ilham terkejut, tubuhnya seolah lemas begitu saja.

"Jangan kasar ya ntar." Ucap Ilham lirih.

Aku tersenyum mendengar kata-kata itu, segitu takutnya dia. Aku tak menjawab, ku peluk erat tubuhnya.

"Gue nggak akan maksa, gue tunggu sampai lu siap." Bisikku.

Ilham hanya mengangguk lemah.

"Nak ada yang datang cariin tuh." Ucap Ibu yang baru masuk ke kamar.

Aku hanya tersenyum lalu mengangguk kepada Ibu. Aku pun melangkah keluar bersama Ilham, dan aku terkejut melihat orang yang datang.

"Ya ampun Farhan, kenapa jadi begini?" Tanyaku khawatir.

"Ngapain lu khawatir dengan dia?" Tanya Ilham judes, tak suka dengan perhatiankku.

"Dia terluka Ham, jadi wajar." Ucap santai, tak peduli dengannya.

Aku pun langsung mencari kotak tempat menyimpan obat,

"Gue obatin dulu ya?" Tanyaku hati-hati.

Farhan tidak menjawab, sementara Ilham masih menatapku sinis.

"Udah deh nggak usah cemburu, dia teman gue." Ucapku.

"Oh." Jawabnya singkat.

Setelah selesai mengobati semua luka di wajah dan tubuhnya Farhan, aku pun menanyakan apa yang terjadi.

"Maafkan aku,,,,, " Ucap Farhan terbata-bata.

"Maaf buat apa?" Tanyaku bingung,

"Maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan mu." Ucap Farhan lalu memelukku dari samping.

Aku tidak mengerti apa yang Farhan ucapkan, masalahnya dengan keluarga ku sudah selesai. Aku pun berusaha mencerna kata-kata, tiba-tiba,

Bukkk.

Farhan terpental jauh, aku yang masih mencerna kata-kata Farhan, kaget melihat Farhan yang terpental. Lebih kagetnya lagi, Ilham yang memukul nya,

Gara-gara Ilham (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang