2. Penasaran

1.9K 135 30
                                        

Juan, Raden, Gerald, dan Jevri berjalan ke ruang ganti pakaian. Mereka mengganti seragam mereka dengan pakaian basket.

"Turnamen tanggal berapa?" tanya Gerald.

"Sembilan," jawab Juan.

Gerald menganggukkan kepalanya paham. Sesudahnya berganti pakaian, mereka keluar dari ruang ganti. Saat akan berbelok untuk turun ke lapangan, Raden bertabrakan dengan seseorang yang berlawanan arah dengannya.

"Woi!" bentak Raden.

Gemala mendongakkan kepalanya. Ia dihadapkan dengan beberapa cowok yang tidak ia kenal, ditambah salah satu dari mereka membentak dirinya.

Tubuh Gemala tiba-tiba bergetar. Ia langsung turun ke bawah dengan cepat. Raden yang melihat gadis itu berlari malah mengejar. "Jangan lari lo!"

Teman-teman Raden pun langsung ikut mengejar Raden. "Den!"

Raden berhasil mencekal tangan Gemala yang berusaha kabur itu. Ia mengangkat dagu Gemala dan mencengkeramnya dengan erat. "Bentar," ucap Raden.

Setelah meneliti wajah gadis di hadapannya dengan baik, sepertinya Raden kenal. "Lo Gemala?"

Raden tertawa sinis. "Oh, ternyata selain gila, lo juga gak punya sopan santun!"

"LEPAS!" teriak Gemala.

"Den, lepas," ucap Juan.

"GUE BILANG LEPAS! LO SEMUA PERGI! PERGI!" teriak Gemala histeris.

Gemala meronta-ronta agar dilepaskan cengkeramannya. "LEPAS!"

Tiba-tiba seorang gadis menarik tas Raden dari belakang dan memukul wajah Raden hingga membuat Gemala terjatuh karena cengkeraman Raden terlepas secara tiba-tiba.

BUGH!

Gadis tersebut kemudian menginjak perut Raden dengan kencang. Semua teman-teman Raden membulatkan mata. Gerald dengan sigap menarik gadis tersebut.

Raden memegang perutnya yang diinjak oleh gadis yang tidak ia kenal ini. "Sialan! Siapa sih lo?" tanya Raden sambil meringis.

Gadis tersebut menepis tangan Gerald yang menahan lengannya. Ia kemudian berjongkok dan mencengkeram rahang Raden. "Denger ya baik-baik. Jangan suka main kekerasan sama cewek."

Raden mengepalkan kedua tangannya. "Lo pikir lo hebat karena udah mukulin gue?" sinisnya.

"Gue bahkan bisa bunuh lo kalau gue mau," bisik gadis itu. Gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam hoodie kemudian berlalu dari sana.

Gemala merasakan napasnya terasa sesak. Juan berjongkok. Ia menyentuh bahu Gemala. "Lo gapapa?"

"JANGAN SENTUH GUE!"

Juan refleks mengangkat kedua tangannya. "Oke."

"TOLONG PERGI! JANGAN SENTUH GUE! JANGAN DEKET-DEKET GUE!" pekik Gemala sambil meremas rambutnya.

Raden berusaha bangkit. Sial! Kuat juga tendangan gadis itu. Melihat Raden yang kesusahan untuk berdiri, Gerald mengulurkan tangannya. Raden menerima uluran dari Gerald.

"Gemala," panggil Jevri dengan lembut.

"Gemala sekarang tarik napas, lalu buang pelan-pelan." Gemala tidak merespon apa pun. Yang terdengar justru suara isakan.

"Gemala, kami minta maaf," ucap Jevri.

"Kok lo minta maaf?" protes Raden.

"Lo bisa diam gak sih?!" kesal Jevri saat melihat Raden yang terus menyudutkan Gemala.

Gemala tiba-tiba berdiri dan berlari menjauhi mereka semua. Tanpa sengaja Gemala menjatuhkan sebuah surat. Juan yang melihat surat tersebut langsung mengambil dan memasukkan ke kantong celananya.

Gerald terdiam. Ia baru tahu jika gadis ini adalah Gemala yang dimaksud Raden kemarin. Lebih menyeramkan dari yang ia bayangkan.

"Kenapa lo berdua nolongin dia sih?"

Juan berjalan begitu saja melewati Raden. Menurutnya, Raden terlalu berlebihan hingga menahan gadis itu hanya karena tidak sengaja menabrak.

"Hati lo sekali-sekali dipakai," ucap Jevri pada Raden.

-gray-

Latihan basket sudah usai. Namun, Juan masih berada di sekolah. Ia dari tadi terus kepikiran dengan gadis yang bernama Gemala itu. Entah mengapa ia tidak suka cara Raden memperlakukan Gemala. Padahal gadis itu tidak melakukan kesalahan besar.

Tiba-tiba Juan teringat surat milik Gemala. Juan mengeluarkan surat tersebut dari saku celananya. Buka atau tidak ya? Tapi ini privasi, tapi ia juga penasaran.

Juan perlahan membuka penutup surat tersebut. Ah! Ia tidak bisa. Ia memilih memasukkan surat tersebut ke dalam tasnya. Besok akan ia kembalikan.

Juan berjalan ke parkiran. Matanya menyipit kala melihat seseorang dengan seragam berbeda tengah berbicara dengan murid yang juga bersekolah di sini. "Kok mirip ..., tapi gak mungkin lah." Segera Juan membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.

"Ju."

Juan menoleh ke belakang. "Kalian dari tadi belom balik?"

Gerald menggeleng. "Belom, abis mantap-mantap," ucapnya sambil tersenyum. Hal itu membuat semua temannya menatap dirinya dengan horor.

"Yok lah, balik," ucap Raden.

Juan tidak menyahut. Ia langsung menaiki motornya dan pamit. "Gue balik."

Juan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Rasa penasaran tentang Gemala masih menyelimuti dirinya. Ada rasa iba dan ingin melindungi.

Mata Juan memicing kala melihat gadis dengan seragam sekolah berjalan di trotoar. Ia memelankan kecepatan motornya. "Mirip Gemala," gumamnya. Apa dirinya halu?

Juan sedikit menepi ke dekat trotoar dan mengejar gadis di depannya. Ia ingin memastikan apa gadis itu Gemala atau hanya mirip. Namun sebelumnya, ia menurunkan terlebih dahulu kaca helmnya.

Saat sudah tepat berada di samping gadis tersebut, Juan terkesiap. Dugaannya benar, gadis itu adalah Gemala. Kenapa gadis itu baru pulang? Berniat menawarkan diri untuk mengantar Gemala pulang,  tapi pasti Gemala tidak akan mau.

"Gue ikutin aja deh."

Gemala berjalan sambil menunduk. Tatapannya kosong. Setiap melihat orang lain mendekat ke arahnya, ia pasti akan berteriak ketakutan. Gemala selalu berpikir bahwa semua orang yang mendekat kepadanya akan selalu menyakitinya.

Gemala berjalan masuk ke dalam gang. Ia terlihat menyedihkan di mata semua orang dan sepertinya memang iya. Semua orang mengatakan dirinya gila. Namun, semua orang tidak pernah tahu apa yang pernah dialaminya. Tidak akan ada akibat jika tidak ada sebab.

Juan masih terus mengikuti Gemala, tapi ia sedikit menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Gemala. Ada yang aneh dengan gang ini. Ia seperti tidak asing dan pernah datang kemari, tapi rasanya ia tidak memiliki teman atau kerabat yang tinggal di sekitar sini.

Juan menghentikan motornya saat melihat Gemala masuk ke sebuah rumah berwarna coklat. Ia yakin itu pasti rumah Gemala. Rumah tersebut terlihat sangat sepi. Apa Gemala tinggal sendiri? Masih banyak lagi pertanyaan di benaknya tentang Gemala. Gadis itu berhasil menarik perhatian dirinya.

___

masih banyak konflik yang akan terus muncul di cerita ini. jadi jangan lupa dipantengin terus

yang belum vote, divote dulu ya

9/11/20

Gray [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang