Oliv berendam di dalam bak mandi yang penuh busa ditemani dengan wangi aromatic. Ia menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan mata.
Sudah lama sekali rasanya tidak melakukan ini. Rasa dingin air yang menyatu dengan kulit membuat rasa tenang dan nyaman. Beberapa waktu terakhir terlalu banyak masalah yang datang, bahkan sebenarnya sampai saat ini. Masalah tidak pernah ada habisnya.
Ceklek!
Seketika Oliv membuka matanya dan menoleh ke arah pintu. "Lo ngapain di sini?" Nada suara Oliv terdengar sangat panik.
Agus bersandar di depan pintu kamar mandi sambil melihat ke arah Oliv. Oliv dibuat semakin tidak karuan saat Agus mulai mendekat ke arahnya. "Keluar," ucapnya tidak berani menatap Agus.
Oliv mencoba menahan air matanya yang melesak ingin keluar dari tempatnya. Ia menutup bahunya yang terbuka dengan tangannya. Bagaimana jika kali ini ia tidak seberuntung biasanya?
Agus berjongkok di samping Oliv. "Kamu ngusir saya?"
"Gak sepantesnya lo ada di sini," ucap Oliv dengan tegas walau sebenarnya jantungnya sudah ingin copot.
"Hm? Gak pantes?" tanya Agus pada Oliv. "Kamu pikir kamu sekarang bisa berendam di sini karena siapa? Karena ayah kamu yang ngebuang kamu itu?"
Oliv menggeram. Kedua matanya semakin memanas. "Jangan sok tau tentang kehidupan gue."
"Saya gak sok tau, tapi memang kenyataannya gitu. Dari umur kamu 11 tahun, saya yang biayain semua kebutuhan kamu. Jadi, kamu masih berani ngomong soal pantes?"
"Terus mentang-mentang lo nanggung kehidupan gue, lo merasa berhak atas diri gue gitu?" Oliv menoleh, menatap kedua bola mata yang ia hindari sejak tadi.
"Jelas, kamu besar karena uang saya. Jadi bukannya saya berhak ya atas apa pun tentang kamu?" tanya Agus dengan senyum miring. "Dan jangan lupa ibu kamu yang dulu mohon-mohon untuk saya nikahin karena gak punya tempat tinggal."
"Brengsek." Tangan Oliv terarah menampar wajah Agus. Namun, saat tangannya sudah melayang di udara, seketika ia urungkan. Ucapan Agus tidak ada yang salah, tapi entah mengapa dirinya sangat marah.
Agus terdiam saat melihat Oliv tidak jadi menampar dirinya, tetapi malah menangis. Apa yang ia katakan dari tadi adalah fakta yang harus Oliv ingat. Di umur 11 tahun harusnya Oliv sudah tau apa yang terjadi dengan hidupnya.
"Apa yang saya bilang bener kan?" Agus berdiri, bersandar di wastafel.
"Iya bener! Sampai gue gak terima sama semua omongan yang keluar dari mulut lo!" ucap Oliv dengan sinis.
"Tapi lo tenang aja. Suatu saat nanti gue akan bayar semua uang yang udah lo keluarin buat biayain gue." Oliv terlihat lebih berani dari biasanya. Ia bahkan berani berbicara setegas itu padahal ia bisa saja diterkam sekarang juga jika salah berbicara.
"Uang dari jual diri?"
Pertanyaan yang selalu menusuk walau sudah Oliv dengar berulang kali. Oliv menghela napasnya. "Mungkin. Yang penting bayar utang."
"Kalau gitu kenapa gak dibayar sekarang aja?" tanya Agus sambil menatap Oliv.
Jantung Oliv berpacu dengan kencang. Ia sungguhan salah bicara. "Kalau pun gue jual diri, seenggaknya gak jual diri ke lo."
Dahi Agus mengernyit. "Kenapa gitu? Saya bisa bayar kamu berapa pun itu. Buat seorang cewek penghibur itu cuma seberapa banyak uang yang ngalir, sisanya tinggal lebarin kaki aja.
Telinga Oliv panas mendengar ucapan frontal Agus. Ingin sekali dirinya mencabik-cabik mulut sialan itu. Namun, sekali lagi, ia berada di situasi yang sangat berbahaya. Bahkan berada di situasi yang lebih baik dari ini pun, nyalinya tidak sebesar itu.
Agus tiba-tiba berjongkok dan menyentuh leher mulus Oliv dengan sensual. Tubuh Oliv menegang. Agus kemudian menarik tengkuk Oliv agar menghadap dirinya.
"Kamu mau bayar utang kan? Siap-siap, saya mau ajak kamu ke acara perusahaan."
"Ngapain ngajak gue?"
"Budek?" sahut Agus.
Oliv langsung ciut. Ia berdehem pelan dan Agus langsung keluar dari kamar mandi. Oliv merendam seluruh tubuhnya hingga sebatas leher. Niatnya yang ingin mendapat ketenangan malah menjadi tertekan.
-gray-
Raden menghampiri Gemala yang berjalan masuk ke gedung sekolah. "Gem," panggilnya.
Gemala berhenti. Matanya terpejam mendengar seseorang yang memanggilnya. Sebuah tangan memegang bahu kirinya. Merasa tidak nyaman, Gemala langsung menggerakkan bahunya.
Raden menjauhkan bahunya seraya menatap Gemala bingung. "Lo kenapa sih? Kayaknya aneh banget dari kemarin."
"Gue emang kayak gini," jawab Gemala.
"Enggak, waktu di ka-"
"Diem. Jangan bawa-bawa waktu itu. Gue minta sama lo jangan pernah deketin gue," potong Gemala. Ia kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam.
Raden menatap punggung Gemala yang semakin menjauh. Apa dirinya melakukan kesalahan? Rasanya saat di kapal Gemala masih baik-baik saja, tapi kenapa sekarang berubah 180 derajat? Perempuan memang susah dimengerti.
Tidak mau ambil pusing, Raden berjalan ke kelasnya sambil bersenandung kecil. Matanya menangkap Juan yang sedang berbicara dengan seorang guru. Berniat tidak kepo, tapi rasa ingin tahunya meronta-ronta.
Raden bersembunyi di balik tembok yang jaraknya tidak begitu jauh dari Juan dan guru yang sedang mengobrol. Ia menajamkan pendengarannya.
"Kamu tau kamu belum bayar spp semester ini kan, Juan?"
Juan menunduk sambil mengangguk kecil. "Tau, Bu."
"Kamu tau kan konsekuensi kalau belum bayar uang sekolah?"
"Tau, Bu."
"Baik." Guru tersebut pergi melewati Raden dan Raden memutar tubuhnya sambil sok sibuk. Sesudahnya, Raden mengintip sedikit ke arah Juan yang sedang termenung.
"Oh, kasihan. Sungguh kasihan," gumam Raden bernada.
-gray-
Juan bermain basket di lapangan outdoor sekolahnya. Tidak tahu sudah berapa lama ia di sini, tapi langit sudah gelap dengan sempurna. Katanya, jika sedang banyak beban pikiran, alangkah baiknya mencari kesibukan lain dan Juan sedang mempraktekkan itu.
Sedari tadi Juan tidak fokus dengan pelajaran di sekolah. Pikirannya terus melayang ke sana ke mari. Mulai dari Gemala, turnamen, dan uang sekolahnya.
Keringat terus bercucuran dari pelipis Juan. Kaos dan rambutnya sudah basah layaknya orang mandi. Ia terus melemparkan bola ke ring untuk ke sekian kalinya.
Juan berbaring di tengah-tengah lapangan. Ia menetralkan napasnya yang terengah-engah. Matanya menatap langit yang tidak seperti biasanya. Tidak ada bintang, begitu juga bulan.
Tiba-tiba Juan merasakan setetes air jatuh di dahinya yang menimbulkan rasa sakit karena jatuh dari ketinggian yang tidak dapat ia ukur. Disusul dengan beberapa rintik yang mulai membasahi bagian tubuh Juan yang lain.
Juan merentangkan tangan dan kakinya selebar mungkin. Ia merasakan serbuan rintik hujan yang menghujam dirinya. Matanya terpejam membayangkan senyum Gemala. Andai saat itu tidak terjadi, Gemala pasti bisa tersenyum semanis itu setiap hari.
___
selamat hari natal🎄🖤
25/12/20
KAMU SEDANG MEMBACA
Gray [COMPLETED]
Teen Fiction#WWC2020 WINNER Abu-abu, warna yang menggambarkan kehidupan Gemala. Tidak ada lagi tujuan, masa depan, dan kehidupan yang lebih baik. Semuanya sudah tidak lagi berwarna karena seseorang yang membuat kehidupannya hancur. ⚠️Terdapat kekerasan dalam c...
![Gray [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245964092-64-k901502.jpg)