03

557 58 1
                                    

Minggu - 05.30 - SHS

Alvika dan Elnata masih saja di atas motornya sembari memegang Helm full face nya, mereka menunggu kedatangan Darrel yang mengantar Zia ke sekolah.

Tinnnn Tinnn

Dengan segera Alvika turun dari motornya membantu Zia membawa Tas Ransel nya.

" Sudah kumpul semua pak " ucap Alvika di angguki Pak kepsek.

" Baik nanti Akan ada guru pendamping yang menemani kalian, disana kalian akan tour selama 1 Minggu " Ucap Pak kepsek di angguki semua.

Semuanya menuju Kendaraan masing masing. Alvika yang diam saja itu hanya berjalan menuju Zio yang menunggu Zia di depan kap mobil.

" Jaga dia jangan sampe lecet " Ucap Alvika lalu menuju motornya.

28 mobil dan 2 motor itu menuju tempat tujuan yaitu daerah pedesaan. Setelah menempuh lamanya perjalanan akhirnya mereka sampai di Villa yang di bilang luas.

" Neng Vika ya ? " Tanya penjaga Villa kepada Alvika yang baru saja turun dari motonya.

" Eh iya saya, ada apa pak? " Jawab Alvika sopan.

" Ini neng kunci Villa nya yang di pesan sama pak Iskandar, Kamar nya ada 35 aja, Nanti neng bisa bagi sendiri " Ucap Penjaga Villa tersebut diangguki sopan oleh Alvika.

" Baik pak terima kasih ya " Balas Alvika mengambil kunci Villa tersebut.

" Guys Pilih kamar kalian, inget cowok sendiri cewek sendiri dan boleh 3 orang di kamar " Ucap Alvika lantang.

08.30

Setelah melakukan bersih bersih mereka pun akhirnya berkumpul di Ruang Tamu, mereka tidak memakai seragam memang tapi mereka tetap menggunakan slayer merah dengan logo " SHS ". Alvika yang baru saja turun menggunakan Jeans hitam, Kaos hitam di baluti jaket dengan logo yang sama yaitu " Danger " di bagian belakang dan Slayer bertulisan " Ketos SHS " di tangan kirinya.

" Awal mula kita baksos dulu, inget jaga tata Krama kalian karena ini desa bukan milik kita tapi milik orang " Peringat Alvika.

Elnata mendekati Alvika yang sedang mengangkat kardus bersama dengan murid lain lalu membisikkan sesuatu.

" Kemarin gue lihat anak Darkmoon di sekitar sini, gue harap kita lebih hati hati lagi apalagi kita pakai Jaket ini dan Zia pakai Kemeja itu jadi sebisa mungkin kita menghindari " Bisik Elnata berhasil membuat Alvika menegang

" Urusan gue mending kita bagiin ini aja " Balas Alvika.

30 menit kemudian. kini Alvi, Nata, Zia, Zio, Rafael dan Raga menuju Warung terdekat yang biasanya di buat remaja dan orang tua berkumpul.

" Permisi Assalamualaikum " Ucap Alvika membuat pandangan semuanya menuju ke mereka berenam.

" Waallaikumsallam, ada apa Dek ? " Tanya Ibu pemilik warung.

" Ini Bu saya dari SMA Sanjaya mau memberikan sedikit Bahan pokok makanan kepada ibu " Jawab Alvika sopan dan tersenyum Ramah.

Elnata menatap sekeliling saat merasa kan ada yang melihat mereka disini.

" DARKMOON " teriak Elnata membuat Alvika yang sedang membantu Raga mengangkat Kardus terkejut begitupun yang lain.

Alvika dan Elnata berlari mengejar Remaja dengan balutan jaket hitam berlogo " Dark " di belakangnya.

" Mereka ngejar siapa? Kok gue kayak gak asing sama jaket orang itu " Gumam Zia pelan nyaris tak terdengar.

" Lo kenal orang itu Ya ? " Tanya Rafael yang masih sibuk menaruh Kardus di atas meja.

Zia kelimpungan, ia bingung harus jawab aja.

" Emm Enggak Zia Nggak kenal " jawab Zia diangguki ketiga pria dihadapannya.

" Hosh hosh hosh " Elnata dan Alvika datang dengan nafas tersengal sengal.

" Vit, Siapa sih tu orang? " Tanya Zio hati hati, takut Alvika akan marah.

" Rei Dark " Jawab Alvika masih membuat Mereka bingung namun hanya Zia yang bisa menebak arti dari Dark tadi.

" Ayo bagiin lagi ke daerah sebrang jurang timur " Ucap Elnata diangguki semuanya.

Mereka berjalan beriringan menuju Jurang bagian timur di pedesaan itu. Saat sudah sampai mereka melihat gubuk tua yang masih berdiri kokoh padahal mereka sudah bisa menebak jika gubuk itu sudah berumur lebih dari 50 tahun.

" Permisi Assalamualaikum " ucap Elnata yang kini menggantikan Alvika yang sedang Telfonan.

" Waallaikumsallam, Aduh Rame rame ada apa ya ? " Tanya Seorang wanita paruh baya berumur 58 tahunan.

" Permisi Ibu, Kami dari SMA Sanjaya sedang ada tour kesini dan kami juga ada tugas membagikan sedikit Bahan pokok makanan mohon di terima ya " jawab Elnata membantu Nenek tersebut meletakkan Dua kardus Berisi Bahan makanan sehari hari di Dalam Gubuk Nenek itu.

" Terima kasih ya nak " ucap Nenek tersebut di angguki oleh Elnata.

Setelah pamit akhirnya mereka berjalan menuju Villa kembali. Di tengah tengah perjalanan Zia tidak Fokus dan terpeleset Genangan air hingga Zia jatuh ke jurang untung saja Zia cepat berpegangan pada Ranting pohon disana.

" To-long " Ucap Zia sedikit terbata. Mereka membalik badan dan terkejut saat Melihat Zia.

Alvika dan Elnata langsung berjongkok menarik Zia namun sia sia mereka tidak bisa.

" Ayo Lo malah diem bae Ga " Zio menarik Raga untuk membantu menarik Zia ke atas.

Akhirnya Zia bisa naik ke atas dengan bantuan Zio dan Raga tadi.

" Zia Lo gapapa? Mana yang sakit ? Ada luka nggak? " Cerocos Alvika meneliti tangan dan kaki Serta wajah Zia.

" Di telapak tangan doang kok, tapi nggak sakit " balas Zia berbohong, Ia tidak suka melihat Alvika terlalu panik.

Alvika melihat telapak tangan Zia mengeluarkan Darah dan itu tidak sedikit. Alvika melepas Slayer nya lalu mengikatkan pada telapak tangan Zia.

" Lain kali hati hati, jangan ceroboh, masa udah 17 tahun masih ceroboh " ucap Alvika membantu Zia berdiri untuk melanjutkan jalan mereka.

Zia terkejut saat Zio tiba tiba berjongkok di hadapannya.

" Naik " titah Zio menepuk pundaknya. Zia dengan sangat amat terpaksa naik ke punggung Zio. Mereka melanjutkan jalan mereka yang tertunda tadi.

Masalah lagi, kini Ada sebuah pisau melayang ke Arah Alvika tanpa ada yang menyadari.

" AKHH " pekik Alvika merasakan Lengannya tertancap sesuatu dari belakang.

Mereka melihat ke Arah Alvika yang bersandar pada pohon memegang lengannya. Elnata membelakkan matanya melihat Pisau masih tertancap jelas di lengan Alvika. Elnata menarik paksa Pisau itu, dan saat di cabut pisau itu sudah berkarat atau sudah tidak layak pakai.

" A-al " lirih Elnata terbata melihat Alvika bersandar lemas pohon Itu.

" Vita " Pekik Zio terkejut melihat Darah mengalir deras di Lengan Kanan Alvika.

" Ga Bantu Ga, Gue Ke El dulu mau cari tau dalang nya " Ucap Rafael langsung menarik Elnata pergi.

Raga mengangkat tubuh Alvika yang sudah tak sadarkan diri layaknya bayi menuju Villa diikuti Zio yang menggendong Zia di punggung nya, sedangkan Rafa dan Elnata menuju Belakang gubuk tadi untuk mencari tau siapa yang melempar Pisau tersebut.

_ _ _

Cha balik huhu, maaf baru update ya

Raga Aldebaran [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang