Bagian Tujuh || Bertemu Kembali🍁

43 10 22
                                    




Hai guys?
Gimana kabar kalian?
Baik-baik saja 'kan?
Mau mengucapkan terima kasih yang sudah membaca sejauh ini.

Jamgan lupa tap ikon bintang di pojok kiri🤗


Yang kuobati lukanya, mengapa yang beraksi hatinya.
Ini hal biasa atau tanda dari rasa suka?

 Ini hal biasa atau tanda dari rasa suka?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Mentari mulai meninggalkan langit, sebentar lagi tugasnya akan digantikan oleh sang rembulan. Semburat jingga menghiasi langit sore kala itu. Alita, yang baru saja pulang dari rumah Kepala Desa seusai bekerja, berjalan ditemani angin sore.

Tak sedikit warga desa menyapanya kala melewati rumah mereka. Keramahan warga membuat Alita bahagia. Senyum tak luntur dari wajahnya. Ditambah saat netranya melihat seseorang yang menarik perhatiannya.

Alita berhenti sejenak, dirinya menikmati aktivitas pria itu. Waktu sudah sore dan dia masih mencari rumput? Pekerja keras sekali.

Alita melihat pria itu berhenti, lalu mengibaskan tangannya. Sepertinya terluka.
Alita langsung menghampirinya. Memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.

Dan benar saja, saat sudah dekat, Alita melihat darah keluar dari salah satu jari pria itu. Langsung Alita mencoba menggapai tanggan itu. Sementara pria itu terkejut karena ada yang memegang tangannya.

"Eh."

"Maaf lancang, tapi ini harus segera diobati." Tanpa menunggu respon Tama, Alita langsung mengobatinya. Untung saja Alita selalu membawa kotak P3K di tasnya. Sebagai dokter, Alita cukup sigap.

Tama meringis menahan perih karena lukanya diberi alkohol. "Tahan sebentar, memang sedikit perih." Alita meniup luka yang sedang diberikan alkohol itu. Untuk sedikit mengurangi rasa perihnya.

Alita mengobati lukanya dengan baik, tetapi tidak dengan hatinya. Begitupun dengan Tama. Keduanya saling merasakan rasa yang aneh. Rasa yang mungkin bisa disebut cinta? Ah tidak, ini terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa rasa itu adalah cinta. Wajar bila dua orang asing mulai berintraksi ada rasa aneh dalam diri masing-masing.

Kemudian, Alita membungkus luka itu dengan perban. Alita fokus pada lukanya, sementara Tama fokus pada wajah Alita. Bagi Tama, baru kali pertama sedekat ini dengan wanita. Selama ini dirinya bahkan tak pernah merasa tertarik terhadap wanita.  Meski ada beberapa gadis desa yang mendekatinya, Tama tetaplah Tama, pria cuek yang enggan didekati.

"Terima kasih," ucap Tama kala Alita sudah selesai mengobati lukanya dan membereskan peralatan yang dipakai.

"Tidak usah. Sudah tugas seorang Dokter untuk mengobati sebuah luka," jawab Alita dengan tetap terfokus membereskan alat-alatnya.

Kisah yang (Mungkin) Indah [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang