Bagian Dua Puluh Tiga || Menagih janji 🍁

23 1 0
                                    

Alita sudah tiga hari tak ke luar kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Alita sudah tiga hari tak ke luar kamar. Ia menghindari orang tuanya. Saat lapar pembantu akan membawakan makanannya. Setelah itu, kembali ia kunci pintu kamarnya.

Bila ditanya kunci cadangan, Alita tidak bodoh dan membiarkan kunci itu di luar. Ia mengambil kunci cadangan dan memasukkannya dalam kamar. Jadi pintu kamarnya tak akan bisa dibuka kecuali dibuka dengan paksa.

Alita belum siap bila harus beradu argumen dengan orang tuanya. Ia memilih diam dalam kamar dan menghabiskan waktunya untuk membaca dan tidur. Sungguh seperti remaja yang merajuk karena tak diizinkan pacaran. Hei, apa dia lupa bahwa ia berusia 27 tahun?

"Sampai kapan aku akan diam saja di kamar?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia bingung, harus melakukan apa. Ia tak bisa terua berdiam dalam kamar dan menunggu keajaiban datang. Ia juga harus bicara soal Tama dan hubungan mereka. Tapi Alita masih malas bila harus kembali mengeluarkan emosinya. Sungguh ia bimbang sekarang.

"Ini mama papa enggak perduli atau gimana si? Tiga hari lo sejak malam itu aku enggak keluar kamar, dan mereka tidak membujukku juga." Alita berucap dengan memainkan anak rambutnya. Ia memikirkan rencana bagaimana ia bisa mendapatian izin untuk melanjutkan kisahnya bersama pemuda desa sederhana bernama Tama.

"Tapi kalau dipikir-pikir kok aku kaya remaja yang lagi kasmaran terus dilarang pacaran, ya." Alita menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menyadari bahwa hal yang dilakukannya adalah bukan hal yang benar. Harusnya ia menghadapi kedua orang tuanya dengan berani agar segera mendapat titik terang.

"Malam ini harus aku bicara dengan mereka," ucap Alita penuh keyakinan dan menyemangati dirinya. "Aku bisa dan aku pasti bisa. Seorang Dokter masa lemah," ucap Alita.

Hari itu ia habiskan waktunya untuk memikirkan sebuah rencana yang harus memilih hasil memuaskan, bukan rencana abal-abal yang hasilnya adalah kegagalan.

"Kita pernah saling berucap janji, apakah kamu akan mengingkari?" tanya Alita pada lelaki di hadapannya.

"Ta, aku sudah cukup paham dengan kedatanganmu sekarang. Kamu telah gagal, dan perjuangan kita cukup sampai di situ," tegas lelaki yang ada di hadapan Alita.

"Kamu jahat, Tam. Aku kira setelah aku datang kita dapat melanjutkan perjuangan, nyatanya kamu meninggalkanku sendirian." Air mata mulai turun membasahi wajah cantiknya.

"Kita pernah janji untuk berjuang, tapi bukan dengan menentang orang tua."

"Tapi, Tam--"

"Cukup Alita. Dari penjelasanmu aku sudah mengerti. Jadi pulanglah lagi. Aku tak mengharapkan kamu dengan keras kepalamu," ucap Tama Dan meninggalkan Alita.

"Tamaa …." teriak Alita.

Keringat membasahi tubuhnya. Deru napasnya tak teratur, matanya meneteskan air. Dan ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Sial, hanya mimpi. Tapi kenapa terasa begitu nyata?" tanya Alita dengan mengusap keringat yang ada di wajahnya.

Ia melihat jam, ternyata sudah jam enam kurang sepuluh menit. Dan ia masih belum mandi dari tadi pagi. Dasar pemalas.

Alita menyiapkan dirinya untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan selalu pahit. Tapi ia mencoba untuk percaya diri. Alita turun ke meja makan dengan mengenakan kaos berlengan panjang berwarna merah dengan celana panjang berwarna hitam. Ukuran kaos yang ia kenakan sengaja lebih besar dari tubuhnya, sebab dengan begitu ia terlihat muda. Begitu kata Alita.

Maria dan Pram menatap Alita sebentar, lalu kembali melanjukan makan malamnya. Seolah ada atau tidaknya Alita tak berarti bagi mereka.

"Ma, Pa, Alita minta izin," tanya Alita dengan nada gugup.

"Masih ingat orang tua kamu?" sinis Maria.

"Mau izin apa kamu?" tanya Pram dengan nada tegas.

"Alita minta restu Mama dan Papa, Alita ingin mengenalkan pria yang Alita pilih."

"Boleh juga, mama juga penasaran seperti apa pria yang kamu pilih dan menolak Rama," sindir Maria.

"Alita ajak Mama dan Papa ke desa ya? Mau kan?" Alita berharap kedua orang tuanya menyetujuinya. Dan benar kedua orangtuanya menyetujui untuk pergi menemui pria pilihan Alita.

Dengan gembira ia kembali ke kamarnya, namun ia tak menyadari satu hal. Harusnya ia mencurigai mengapa kedua orang tuanya dengan mudahnya mengikuti kemauannya.

"Semoga ini awal dari perubahan mereka," ucap Alita lirih saat berada di kamarnya.

Esok pagi, mereka akan pergi menemui pria yang dipilih Alita. Dengan tak sabar Alita menunggu esok pagi tiba. Agar ia bisa secepatnya dapat menemui tambatan hatinya.

***
"Assalamualaikum," teriak Alita saat sudah di depan rumah Tama. Ia tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Tama.

"Waalaikumsalam," jawab Mayang dari dalam dan membukakan pintu.

"Wah, Mba Alita datang," ucap Mayang dan berhambur memeluk Alita. Alita senang, namun kedua orang tuanya melihat tak suka. Mereka berdua menilai rumah yang ada di hadapan mereka.

"Om, Tante," ucap Mayang ingin bersaliman namun tak direspon kedunya. Mayang merasa kesal, namun ia harus menjaga sikapnya.

"Mari, Mba, Om, Tante, masuk." Mayang meminta mereka untuk memasuki hunian sederhana keluarganya.

Mau tak mau orang tua Alita memasuki rumah sederhana itu. "Di mana ibu dan bapak, Mayang?" tanya Alita kepada Mayang karena tak melihat orang tua Tama ada di rumah.

"Sebentar lagi pulang kok, Mba. Ya sudah Mayang buatkan minum dulu." Tak lama setelah Mayang membuatkan minum, bapak dan ibu Tama datang. Mereka penasaran siapa tamu yang datang. Sebab melihat sandal dan sepatu di depan.

Saat melihat siapa tamu yang datang, Pram terkejut kala memandang ibu Tama yang baru saja masuk ke dalam. Pram tanpa sadar berdiri dan memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak lah salah.

"Ratna …." Pram tanpa sadar berucap membuat si empunya menoleh. Ekspresi terkejut tampak dari wajah Ratna--ibu Tama.

Terima kasih atas waktunya yang telah melanjutakan membaca ^^Maaf baru sedikit kisah yang kuceritakan pada kalian :)Semoga dimaafkan segala kesalahan dalam penulisan ^^Serta jangan lupakan untuk memberi kritik dan saran 😘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terima kasih atas waktunya yang telah melanjutakan membaca ^^
Maaf baru sedikit kisah yang kuceritakan pada kalian :)
Semoga dimaafkan segala kesalahan dalam penulisan ^^
Serta jangan lupakan untuk memberi kritik dan saran 😘

Salam aksara, salam kisah sederhana, salam bahagia dari Riana 🍁

   

Kisah yang (Mungkin) Indah [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang