Bagian Lima Belas || Komitmen 🍁

19 2 0
                                    

Cinta butuh kesetiaan dan pengorbanan, bukan strata sosial.

Mentari sudah tak seterik tadi, sudah lebih bersahabat sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mentari sudah tak seterik tadi, sudah lebih bersahabat sekarang. Di sana, ada dua insan yang saling diam tanpa ada pembicaraan.
Mereka menatap awan yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi kemerahan.

"Mengapa kamu di sini? Dan dari kapan?" tanya Tama membuka suara.

"Aku hanya ingin menikmati suasana bukit saja. Aku di sini saat dirimu tidur dengan tenangnya," jawab Alita membuat Tama terkejut.

"Sejak aku tidur? Artinya itu cukup lama kamu di sini?"

"Lumayan, tapi enggak apa kok."

"Kenapa kamu menungguku bangun, kamu bisa membangunkan aku bila aku menganggumu," ucap Tama.

"Aku tidak tega, kamu terlihat letih sekali."

Kembali keduanya terdiam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tama ingin mengucap maaf karena menjauhinya. Sementara Alita berpikir bagaimana caranya ia menanyakan apa yang menganjal di hatinya.

"Aku …," ucap keduanya bersamaan. Keduanya saling menatap dan menjadi salah tingkah.

"Kamu ingin mengutarakan apa?" tanya Alita.

"Kamu, mau mengutarakan apa?" Tama berbalik menanyainya.

"Jadi aku dulu?" tanya Alita dibalas anggukan oleh Tama.

"Aku … aku mau tanya soal, em … kenapa kamu itu? ucap Alita tak jelas.

Tama menatapnya bingung. "Apa? Aku tidak mengerti."

"Kenapa kamu menjauhiku? Apa aku berbuat salah padamu?" ucap Alita cepat dengan satu tarikan napas dan memalingkan wajahnya.

"Aku … aku tak bisa memberitahumu."

Alita mendesah kecewa. Mengapa sesulit itu berbicara jujur, dia ingin semuanya jelas. "Maaf jika aku lancang, sebenarnya aku tahu. Dan tujuanku menemuimu menanyakan mengapa kamu melakukan hal itu." Alita kini menatap Tama. Sementara yang ditatap tak sanggup membalasnya.

"Pasti Mayang sudah cerita. Benar dugaanku mengapa ia ingin tahu alasanku," ucap Tama dan tertawa kecil.

"Enggak ada yang lucu, Tam." Tama terdiam. Melihat Alita kesal ada rasa bahagia tersendiri pada dirinya.

"Seharusnya kamu tidak perlu bertanya padaku bila sudah tahu dari Mayang."

"Itu masih kurang. Ia tak mengatakan mengapa bapak kamu enggak suka sama aku," ucap Alita lirih.

"Karena kita berbeda, Alita. Itu alasannya," ucap Tama.

"Berbeda? Kita sama, Tama. Kita sama-sama makan nasi, sama-sama menghirup oksigen, sama-sama men … eh." Alita langsung menutup mulutnya. Hampir ia keceplosan. Tama menatap lekat Alita. Mencerna bagian yang Alita tak ucapkan.

"Men apa?"

"Tidak, tidak ada."

"Apa kamu merasakan hal yang sama?" ucap Tama menatap Alita.

"Ia, aku merasakannya. Karena hal itu pula aku datang menemuimu dan ingin mengetahui alasan kamu menjauhiku." Akhirnya Alita mengakuinya.

"Kita tidak bisa menjalaninya. Karena kita berbeda, Alita. Aku harap kamu mengerti," ucap Tama lalu berdiri ingin meninggalkan Alita.

"Apa yang berbeda? Hanya karena strata sosial apakah tidak berhak saling mencinta? "

Tama melepaskan tangan Alita yang menahannya pergi. "Tolong, Ta. Mengerti posisiku."

"Cinta datang tanpa memandang strata sosial. Tidak memandang dari banyaknya harta yang dipunya sang lelaki. Cinta datang tiba-tiba dan karena itu sudah takdirnya. Semesta menciptakan cinta agar dua insan dapat saling mengasihi."

"Aku mengerti, tapi tidak dengan bapakku."

"Kita bisa menjelaskannya, Tama. Aku … aku mencintaimu." Alita memeluk Tama dengan isak tangis yang mulai masuk ke pendengaran Telinga.

Tama benci ini. Tama benci situasi seperti ini. Tama mencoba melepaskan pelukan Alita terhadapnya. "Apa kamu yakin bisa dan mampu menghadapi rintangan di depan sana? Kita tidak akan mudah jika sudah memulainya, Ta." Tama menatap Alita lekat. Kedua ibu jarinya menyeka air mata yang turun membasahi pipi Alita.

"Aku bisa dan mampu. Asal kamu mau berpengan denganku. Kita saling percaya dan berjuang. Aku yakin bisa bila dua hal itu dilakukan." Alita menatap mata Tama. Seolah memohon agar Tama memikirkan kembali, karena sekarang keduanya saling mencintai.

"Aku akan mencobanya."

"Apa ini maksudnya, kita?"

"Iya, kita akan berjuang. Aku juga mencintaimu, Alita."

Alita kembali menangis, tapi kali ini air mata bahagia yang turun dari matanya. Keduanya saling berpelukan dengan senja yang menghangatkan. Rasa bahagia tak bisa ditutupi keduanya. Senja menjadi saksi bahwa mereka saling mencintai.

Kali ini semesta berpihak pada cinta mereka. Entah nanti, sebab cinta hadir sudah dengan rintangan yang akan menghalangi.

Sebagian insan mampu melewati, sebagian lagi menyerah di tengah jalan karena tak sanggup melangkah lagi.

Alita dan Tama memulai sebuah perjalanan baru dalam kisah mereka. Sekarang kisah mereka saling bertaut. Berharap akan mendapat akhir yang akan menyatukan mereka. Semoga semesta merestuinya.

Sebesar apapun rintangannya, mereka mencoba untuk bisa melewatinya. Meski akan ada tangis, Alita mencoba untuk kuat. Karena Tama, ada di sisinya.

Terima kasih atas waktunya yang telah melanjutakan membaca ^^Maaf baru sedikit kisah yang kuceritakan pada kalian :)Semoga dimaafkan segala kesalahan dalam penulisan ^^Serta jangan lupakan untuk memberi kritik dan saran 😘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Terima kasih atas waktunya yang telah melanjutakan membaca ^^
Maaf baru sedikit kisah yang kuceritakan pada kalian :)
Semoga dimaafkan segala kesalahan dalam penulisan ^^
Serta jangan lupakan untuk memberi kritik dan saran 😘

Salam aksara, salam kisah sederhana, salam bahagia dari Riana 🍁

   

Kisah yang (Mungkin) Indah [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang