Apa yang penting dalam sebuah hubungan?
Kepercayaan?
Atau
Kesetiaan?
Yang paling penting dalam sebuah hubungan yang dilandasi cinta adalah sebuah restu orang tua. Boleh saling percaya dan setia, tapi tanpa restu orang tua? Apakah akan berjalan mu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tama sadar, dengan mengizinkan orang asing menetap dan menjadikannya rumah. Akan ada kehilangan yang hadir di tengahnya. Sayang, Tama lupa mempersiapkan.
Mobil yang ditumpangi Alita sudah tak terlihat, warga desa pun sudah kembali ke rumah. Tama sendiri yang masih terpaku menatap jalanan yang membawa hatinya pergi.
"Bukan hatimu yang kau tinggalkan, tapi hatiku yang kau bawa pergi."
Tama berbalik, kembali dan harus menyadari. Bahwa dirinya sekarang hanya sendiri. Hatinya sudah dibawa pergi, tapi entah akan kembali atau tidak, ia percayakan pada semesta.
Di dalam mobil, Alita menatap jalanan dengan sisa air mata yang masih mengalir. Jiwanya masih di sana, raganya terpaksa pergi dan kembali pada tempatnya. Alita tak pernah mengira, ia akan jatuh hati dengan pemuda desa.
Periha kepergian, akan selalu tidak siap dihadapi oleh manusia. Tidak ada yang menginginkan perginya seseorang yang berharga dari kehidupannya. Namun kembali lagi, yang datang akan selalu pergi.
Sebuah siklus kehidupan yang pasti tak dapat dicegah oleh diri. Meratapi bukan hal yang tepat, bukan juga dengan menangisi. Kepergian haruslah dihadapi oleh keikhlasan dan kepercayaan. Bahwa yang hilang akan berganti seiring waktu mendewasakan diri.
Hal itu tidak berlaku dengan cinta. Karena ada sebagian manusia yang hidupnya hanya diisi satu kali mencinta. Karena baginya mencintai adalah memberikan seluruh diri, jika hilang atau mati artinya itu adalah akhir dari kisah cintanya. Namun tidak semua manusia seperti itu. Sebagian bertumbuh lebih baik setelah kehilangan dan lebih menghargai dengan apa yang diberikan.
Menentang kenyataan bukan hal yang mudah dilakukan. Alita tertidur di perjalanan, dirinya lelah. Lelah menangisi kenapa ia harus kembali.
Selalu, perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan datang. Namun, menyabut kedatangan lebih mudah dibandingkan menghadapi sebuah kepergian.
Alita telah sampai di pelataran rumahnya. Rumah bercat putih dengan dinding kokoh yang menjulang tinggi sudah menantinya. Orang tuanya menyambut di depan pintu utama. Pintunya besar, dan berwarna coklat gelap. Alita memandang keduanya dengan rasa yang sudah kompleks. Rindu, itu sudah pasti. Namun mengingat agenda setelah ini, membuat amarahnya pun ikut campur.
Para asisten rumah tangga membawa barang bawaannya masuk ke dalam. Alita di sambut dekapan dari sang Mama. Alita membalas dengan tangis yang langsung hadir. Papanya mengelus pucuk kepala putri kesayangannya. Hatinya sedikit tenang karena putrinya telah kembali.
"Ayo masuk, kamu pasti lelah. Istirahat dulu saja," ucap Maria dan melepaskan pelukannya.
"Iya, Sayang. Kamu istirahat saja. Nanti malam kita akan ada pertemuan," ucap Papanya lembut.
Lembut ucapannya, namun terdengar bagai sambaran petir di hidup Alita. Baru saja ia menginjakkan kakinya, dan sudah dihadapkan dengan berita duka. Ah yang benar saja.