Ghani terlihat resah dalam duduknya. Bahkan, sejak tadi ketika ia mendengar kabar bahwa Feby tidak ada, hatinya sudah gelisah. Beberapa kali ia melirik Daniel yang kini tengah duduk di sebelahnya dengan tatapan kosong.
Kejadian demi kejadian yang telah ia lalui bersama gadis chubby perlahan menyerang otaknya. Ghani merasa frustrasi, di satu sisi ia senang karena lawannya kacau, di sisi lain ia merasa sedikit sedih dan juga marah akibat gagal merencanakan misi di mana ia akan membawa Feby pergi malam ini. Ia berpikir bahwa gadis tersebut akan lebih aman jika ia yang membawanya—karena sudah pasti ia tidak akan berani macam-macam kepada perempuan satu itu.
Ting!
Pesan masuk di handphone putih milik seorang gadis yang ada di sana.
[Gue g tau dmn Feby ada, tp gue nemu jejak terakhir hp nya di lorong X-IPS 2]
Joe membacakan pesan itu sedikit keras, membuat beberapa pasang telinga berhasil mendengarnya. Daniel menutup wajahnya, ia berusaha memikirkan strategi yang tepat untuk menemukan gadisnya.
"Gue tau dia di mana," ucap Ghani tiba-tiba membuat seisi ruangan menjadi bungkam.
"Lo tau? Jangan-jangan lo emang yang nyuruh—"
"Sumpah demi apapun gue nggak nyuruh orang buat ngebawa Feby, daripada lo adu bacot sama gue di sini, mending kita pergi sekarang."
Daniel meresapi kata-kata musuhnya dengan sedikit bimbang. Akan tetapi, akhirnya ia bangkit juga dan mengajak seluruh anggotanya untuk mengikuti lelaki yang kini tengah menunggu mereka di depan pintu. Ghani pun juga begitu, ia menyuruh beberapa anggotanya untuk ikut, sementara anggota yang lain ia suruh berjaga-jaga di markas.
***
"Oh My God ... you look wonderful, Girl!"
Feby tak henti-hentinya menangis sejak tadi ia tersadar. Ia duduk dalam keadaan ketakutan. Kaki dan tangannya terikat di kursi. Ia tak bisa ke mana-mana.
"Lepasin aku!" seru Feby di sela-sela tangisnya.
"Oh, nggak-nggak, nggak bisa. Kamu harus di sini sama aku. Besok, kita bakal pergi bareng dan hidup bersama untuk selamanya. Bagaimana? Kamu senang 'kan?"
"NGGAK!" Feby semakin histeris dalam tangisnya.
Keadaan ruangan yang lembap, gelap, dan tak terlalu luas membuat keberaniannya semakin mengecil. Ia tidak tahu di mana ia sekarang. Lelaki yang sejak tadi berdiri di sebelahnya juga tak nampak wajahnya akibat topeng hitam yang dikenakan.
"Aku tidak akan menyakitimu, tenang saja. Aku akan ...."
Ia menggantungkan kalimatnya sejenak. Kemudian, didekatinya gadis cantik di sana. Perlahan, ia menyentuh pipi chubby tersebut.
"Gue sayang sama lo. Sayang banget, tapi kenapa lo nggak pernah ngerti?"
Ia mulai mengelus pipi yang basah akibat air mata dan keringat milik sang gadis. "Gue sakit Feb, sakit banget."
Feby berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya. Sungguh, ia benar-benar takut sekarang. Bayangan berita-berita yang menampilkan penculikan, pembunuhan, dan sebuah tindakan asusila mulai menyerang otaknya. Hatinya semakin gelisah, kakinya tak henti-hentinya bergetar sejak tadi.
"Aku janji, aku akan menjagamu lebih dari si ketua geng bajingan itu," ucapnya lagi.
Kini, lelaki itu berdiri. Mengambil selembar kain kumal yang tersimpan di pojok lemari. Dengan cepat, ia kembali ke Feby dan menutup mata gadis tersebut dengan kain.
Feby terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri agar lelaki di belakangnya tak bisa menutup matanya dengan kain. Akan tetapi, tenaga sang lelaki lebih besar dari yang gadis itu kira. Akhirnya ia pun hanya bisa pasrah sambil terus terisak-isak untuk menyalurkan ketakutannya. Hatinya terasa diremukkan saat itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thirty Days With You
Novela JuvenilBagaimana jadinya jika kita mengadakan sebuah hubungan palsu dengan alibi menebus kesalahan? Akhirnya akan bahagia karena kita saling cinta atau sebaliknya, karena tidak ada cinta di antara kita? Semua itu akan dijelaskan dalam cerita ini, dengan to...
