>>Happy Reading<<
__________________________________________
"Lo yakin, Vin?"
Kevin mengangguk. "Gue gak salah liat, kok. Itu beneran dia. Bisa aja kan dia dalang di balik semua ini?"
6 hari yang lalu
Mobil Kevin memasuki jalan Nangka. Jalan yang sangat sepi dan jarang kendaraan roda dua maupun roda empat melintas.
Saat itu Kevin hendak menuju apartemen Raffi. Rencananya ia akan menyelidiki soal teror yang meresahkan bagi keluarga Kevin maupun keluarga Raffi.
Jalan Nangka ialah jalan terdekat menuju apartemen Raffi. Saat sudah di pertengahan, ia melihat tiga mobil yang berhenti. Kevin memberhentikan mobilnya. Melihat apa yang terjadi di sana.
Kevin melihat dua gadis dengan pakaian yang berbeda, juga pria paruh baya yang entah apa sedang dilakukannya. Mata Kevin melebar saat salah satu gadis yang memakai jaket putih membawa sebuah suntikan. Kevin di buat terkejut saat gadis berjaket putih itu menusukan suntikannya pada leher si pria. Si pria pun terjatuh tak sadarkan diri.
Saat Kevin ingin menolong pria malang itu, si gadis berjaket putih berjalan mendekati mobilnya. Entahlah Kevin ketahuan atau tidak, tapi ia berdoa agar si pria malang selamat.
Tak mau ketahuan, Kevin memutar balikkan mobilnya keluar dari jalan sepi itu. Lebih baik ia mengambil jalan lain walaupun nampaknya agak jauh.
"Jangan nuduh sembarangan! Kita harus cari bukti yang kuat. Kalau emang bener dia, ya—" Seketika Raffi terdiam.
"Apa?" Kevin mengernyit. Pasalnya Raffi tak melanjutkan ucapannya.
"Jangan bilang lo mulai suka sama dia?" tanya Kevin langsung dihadiahi toyoran.
"Sok tau!" Raffi mengelak. Lain dengan hatinya, ia merasa ada sesuatu yang aneh jika berdekatan dengan gadis itu.
Mengembuskan napas lega, Kevin mengusap pundak temannya yang memberengut kesal akibat ulahnya. "Bagus deh. Jangan sampai lo suka!"
Cowok itu pun pergi dari sana. Raffi masih terdiam seribu bahasa. Hati dan pemikirannya tidak sekontras. Di satu sisi ia ingin menangkap pelaku yang sudah meneror keluarganya juga memberi pelajaran, di sisi lain sangat di sayangkan, kenapa Kevin bisa-bisanya menuduh Viola sebagai pelaku teror juga penculikan?
***
Bel pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu, siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Suara deruman kendaraan dari parkiran pun membuat kebisingan.
Berbeda dengan Raffi yang masih berkutat dengan pikirannya. Mengemasi buku-bukunya begitu lambat. Raffi melirik ke arah Satria dan Clara yang masih berkemas.
Saat Clara dan Satria sudah siap untuk keluar kelas, Raffi memanggil namun tak digubris oleh keduanya. Raffi hanya bisa mengembuskan napas kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. Keluarganya dalam bahaya dan kini, kedua temannya marah pada Raffi. Termasuk Karina.
Di kelas hanya tersisa Raffi dan Viola. Gadis dingin itu mengetik sesuatu di ponselnya. Selesai dengan urusan ponsel, Viola keluar terlebih dahulu menyisakan Raffi dengan seribu pertanyaan di otaknya.
Mengingat dengan cerita Kevin, Raffi tak bisa menyangkal. Bagaimana jika itu benar? Memang benar, sejak kedatangan gadis itu banyak sekali kejadian-kejadian aneh. Tapi Raffi segera menepis pikiran buruknya. Ia tak mau menuduh tanpa adanya bukti yang kuat.
Sebelum Viola menghilang oleh tembok pembatas, Raffi memanggilnya dan Viola berhenti.
"Enam hari yang lalu, lo ke mana?" Raffi bertanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Viola.
"Kenapa?" Bukannya menjawab, gadis itu berbalik bertanya.
Raffi mengusap tengkuknya dengan ekspresi bingung. "Emmm ... gak papa. Cuman nanya."
"Gue ke toko buku." Viola menjawab pertanyaan Raffi sebelumnya. Setelah menjawab, Viola pergi dari sana.
Sedangkan di parkiran, Kevin menaiki motornya lalu memakai helm di kepalanya. Ia menyalakan mesin motor, melajukannya keluar dari area sekolah.
Dalam perjalanan, saat ini aman-aman saja. Tidak ada yang mencurigakan. Namun beberapa saat, Kevin tak menyadari bahwa ia tengah di buntuti.
Mobil hitam melesat mengikuti motor yang di kendarai Kevin. Di dalam mobil terdapat seorang gadis dengan seringai mengerikan.
"Ayo bermain!"
Gadis itu menambah kecepatan mobilnya. Dengan sengaja, mobil itu menyerempet motor Kevin. Kevin terkejut, motornya oleng. Ia menabrak pembatas jalan hingga tubuh cowok itu terpental.
Bruk
Rintihan terdengar dari mulut Kevin. Ia membuka helmnya. "Aargh!"
Seluruh tubuhnya sakit. Bahkan ingin bangun saja kesulitan. Berbeda dengan mobil yang di kendarai si gadis berhenti tak jauh dari motor Kevin.
Tak lama, motor ninja merah berhenti di dekat mobil si gadis. Mematikan mesinnya lalu membuka helm. Turun dari motor hendak mendekati Kevin yang merintih kesakitan.
"Vin! Lo gak papa?" tanya Satria dengan wajah panik.
"Sa-sakit! Tolong gu-gue, Sat."
Satria mengulurkan tangannya. Namun sebelum menolong temannya yang terbaring di atas rumput, yang tadinya mengeluarkan ekspresi khawatir, kini ia menyeringai. "Maafin gue, Vin."
Tangan Satria beralih pada jaket yang dikenakannya. Ia mengambil sesuatu dari kantung jaket. Sebuah suntikan dengan cairan bius.
"L-lo mau ngapain?" tanya Kevin lirih saat Satria membuka penutup suntikan.
"Gak ngapa-ngapain, kok. Gue cuman mau bikin lo tidur." Suntikan itu Satria arahkan pada leher Kevin.
Mata Kevin memburam. Samar-samar, ia melihat seorang gadis bertudung hitam. Wajahnya tampak familiar. Ya benar! Dia mengenali siapa gadis ini.
"L-lo—" Tak lama pandangan Kevin semakin kabur. Dalam hitungan ketiga cowok itu tertidur.
"Selamat tidur," kata Satria.
Menatap gadis bertudung hitam dengan seringai yang tercetak di bibirnya, Satria pun ikut menyeringai.
"Tertangkap!"
___________________________________________
TBC
Terima kasih sudah mau membaca cerita ku yang gaje ini wkwk.
Kasih penilaian untuk part ini!
Makin seru atau makin membosankan?
Oke pertanyaan!
Apa benar pelaku teror juga penculikan adalah Viola?
Kenapa Kevin bisa menduga-duga kalau Viola lah pelakunya?
Ada apa dengan Satria?
Kok bisa kerja sama dengan Viola?
Semua akan terjawab di part selanjutnya
Tetep stay di TDQ
Jangan lupa vote juga coment
No Siders!
Kasih kritik dan saran juga ya
Sampai ketemu di part selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil Queen (END)
General FictionBudayakan follow dulu yuk sebelum membaca(。•̀ᴗ-)✧ ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ 'Aku telah kembali Ku datang padamu Ku temukan tempat persembunyian mu Dan kini, kau tak bisa lari dariku Kau menatapku dari balik jendela Ku tatap e...
